Showing posts with label Ruqyah Syar'iyyah. Show all posts
Showing posts with label Ruqyah Syar'iyyah. Show all posts

Monday, September 16, 2013

Alamat Ruqyah Syar’iyah DAN BEKAM

ALAMAT RUQYAH SYAR'IYYAH DAN BEKAM
JL. PERCETAKAN NEGARA VII NO 31 RAWASARI  JAKARTA PUSAT 
BUKA PRAKTEK BEKAM SETIAP HARI DARI JAM 09.00 S/D 17.00 TERMASUK HARI LIBUR DILUAR JAM BISA JANJIAN MENERIMA BEKAM PANGGILAN, BEKAM MASSAL, BEKAM SUAMI ISTRI , BEKAM KEPALA TANPA HARUS MENCUKUR RAMBUT DLL, Tlp : 0815 11311 554 , 0812 828 11254 WA / SMS
 

TELAH HADIR PENGOBATAN ISLAMI DAN ALAMI

DENGAN METODE
 TERAPI RUQYAH SYAR’IYYAH

INDIKASI GANGGUAN JIN ATAU SIHIR
 
  1. Terasa letih, lesu, lemah dan loyo atau bawaannya ingin tidur.
  2. Badan terasa berat, malas beraktifitas dan beribadah.
  3. Emosional, temperamental dan suka membesar-besarkan masalah.
  4. Dihantui rasa was-was, terutama saat shalat & wudhu.
  5. Bisa melihat jin, atau sensitif akan keberadaan mereka.
  6. Suka terasa sesak nafas, terutama saat membaca al-Qur‘an.
  7. Susah tidur, meskipun badan letih dan penat tapi mata tak bisa tidur.
  8. Suka tindihan atau rep-repan, seakan ada sosok yang menindihnya.
  9. Sering mimpi buruk, seram dan menakutkan.
  10. Mimpi diperkosa/ disetubuhi oleh sosok seram atau bayangan hitam.
  11. Susah dapat Jodoh atau pasangan hidup
  12. Berlibido Tinggi (hyper sex), atau sebaliknya.
  13. Mendengar bisikan-bisikan ghaib
  14. Merasa ada sosok yang mengikuti
  15. Terasa panas saat dengar adzan/ tilawah Qur’an.
  16. Haid berkepanjangan, sering pendarahan berlebihan
  17. Susah dapat anak, sering keguguran
  18. Besarnya rasa cinta ke sesama jenis
  19. Ngantuk berat saat tilawah atau ibadah
  20. Sering mencium bau-bauan aneh; anyir, wangi
  21. Cenderung berprilaku membangkang & menyimpang
  22. Menderita sakit yang berpindah-pindah
DENGAN METODE AL-HIJAMAH ( BEKAM )


DENGAN METODE BEKAM INSYA ALLAH BISA MELANCARKAN PEREDARAN DARAH , MENGELUARKAN RACUN / TOKSIN , MEMULIHKAN FUNGSI SEL.
APAKAH ANDA MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN SEPERTI INI

·         Sering masuk Angin
·         Darah tinggi
·         Darah rendah
·         Strok
·         Asam urat
·         Gangguan jantung
·         Sakit pinggang
·         Gatal-gatal / alergi
·         Migraine / vertigo / sering pusing
·         Jerawat
·         Insomnia
·         Stress
·         Kolesterol
·         Pundak pegal-pegal atau kaku
·         Sering kesemutan
·         DLL

Menerima bekam kepala tanpa harus mencukur rambut, bekam keluarga suami istri, bekam massal dll.

Monday, February 4, 2013

Agar Rizki Kita Semakin Berkah, Klinik Bekam


Setiap kali kita makan, kita selalu membaca do'a Allahumma barik lana fima razaqtana waqina adzabannar. (Ya Allah berkahilah seluruh rizki yang Engkau kurniakan kepada kami, serta jagalah kami dari adzab neraka).
Kitapun sering berdo'a: Allahumma inna nasaluka salamatan fiddin, waafiyatan fil jasad, waziyadatan fil ilmi, wabarakatan fir-riqki, wa taubatan qabla-l-maut, warahmatan indal maut, wa maghfiratan ba'dal maut .... (Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keselamatan dalam beragama, kurniakan kami fisik yang sehat, ilmu yang semakin bertambah, rizki yang semakin berkah, kurniakan kami kekuatan untuk bertaubat sebelum meninggal, dan limpahkanlah kepada kami rahmat saat meninggal, serta pengampunan setelah kami meninggal ....).
Apa arti rizki? dan apa arti berkah dalam rizki? dan bagaimana menjadikan rizki kita semakin berkaH? Berikut sedikit penjelasan dari pertanyaan diatas.


Arti Rizki 

Rizki artinya semua bentuk karunia atau pemberian dari Allah Swt yang bisa mendatangkan manfaat.
Banyak orang menganggap bahwa yang disebut rizki adalah hal-hal material saja, padahal semua karunia apapun bentuknya, baik materi maupun non materi semuanya adalah rizki. Iman, Islam, kesehatan, badan lengkap dengan anggotanya, umur, ilmu dan pemahaman, kelulusan, terhindar dari kecelakaan dan mara bahaya semua itu adalah rizki. Anak, orang tua, guru, murid, harta, rumah (papan), kendaraan, pakaian (sandang), makanan (pangan), dan semua pemberian dan karunia Allah yang tidak terhingga, hingga hidup dan mati kitapun semuanya merupakan rizki dan karunia Allah.

Semua itu hanya pemberian dan karunia Allah, hanya Allah-lah yang melimpahkan semua karunia tersebut, sehingga salah satu Asma Allah al-Husna adalah Ar-Razzaq(Maha pemberi rizki), artinya hak melimpahkan karunia dan rizki hanya milik mutlak Allah,  meminta kepada selain Allah dianggap syirik(menyekutukan Allah).

Arti Berkah 

Lalu apa arti berkah ? Berkah artinya az-ziyadah (bertambah), bertambah secara kwantitas (jumlah) dan kemanfaatanya.

Seorang dikarunia rizki uang, dipakai untuk membangun rumah, maka uang itu berkah. Rumah itu jika digunakan untuk pengajian, belajar-mengajar ngaji, tidak hanya sekedar tempat tinggal saja, maka rumah itu menjadi berkah, karena manfaatnya bertambah. Jika rumah tersebut dihuni oleh pembantu, anak asuh, anak yatim selain suami-istri dan anak-anak-anaknya maka semakin berakat, karena ada nilai tambah.

Begitu juga seseorang yang memiliki mobil, jika mobil itu dipakai untuk sendiri dan untuk kebaikan maka mobil itu berkah, tapi lebih berkah jika mobil itu sering dipinjamkan kepada orang lain, untuk mengantar orang sakit, untuk membantu tetangganya yang mantu, yang punya hajat, untuk keperluan dakwah, organisasi sosial-kemasyarakatan dan lain sebagainya. Karena mobil tersebut akan bertambah manfaatnya.

Ada pertanyaan, kalo begitu mobil itu cepat rusak dong ? jawabnya belum tentu, ada yang cepat rusak, tapi karena berkah Allah menggantikan dengan yang lebih baik.  Tapi terkadang karena berkah tidak rusak-rusak walaupun dipinjam sana dipinjam sini, bahwa ada yang tidak pernah dipinjamkan, tiba-tiba nabrak atau ditabrak.

Saya pernah mendengar sebuah cerita tentang seorang milyuner Indonesia, ia memiliki pesawat pribadi, bagaimana ia menghabiskan uangnya yang milyaran tersebut? Ternyata ia hobi berjudi, hampir satu minggu sekali atau minimal satu bulan sekali pergi ketempat-tempat perjudian terkenal di dunia, di Singapora, London, Australia, Las Vegas dan lain-lain. Satu malam mereka bisa menghabiskan 1 juta USD atau sekitar (20 Milyar), katanya mereka mendapatkan kepuasan dengan cara itu. Suatu saat ia pergi ke London dengan pesawat pribadi, setelah melakukan aktifitasnya, mereka bersantai ria, tiba-tiba ia ingin makanan khas Indonesia. Apa yang dilakukan, ia menyuruh pembantunya untuk membeli makanan khas Indonesia ke Singapura dengan pesawat pribadinya. Bayangkan bagaimana tidak berkahnya harta yang milyaran itu. Karena berapa biaya bahan bakar pesawat, biaya parkir pesawat di sebuah bandara? Ini contoh harta yang tidak berkah. 

Agar rizki kita lebih barakah

Agar rizki yang dianugerahkan Allah kepada kita bertambah barakah (bertamah secara jumlah, dan manfaatnya), maka al-Quran dan Hadits memberikan kita bimbingan sebagai berikut:
  1. Kuatkan iman dan taqwa, sebagaimana difirmankan Allah dalam surat (al-A'raf:96) sebagai berikut:   
" Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."

Makna keimanan dan ketaqwaan adalah meningkatkan ketundukan dalam menjalankan perintah-perintah Allah, serta meninggalkan larangan-Nya.
Jika keimanan dan ketaqwaan menambah barakah rizki kita, maka maksiat akan mengurangi bahkan menghilangkan nikmat/rizki kita. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad disebutkan: bahwa seorang hamba terhalang untuk mendapatkan rizki karena maksiat yang diperbuatnya. Maksiat juga akan menghalangi masuknya ilmu, menjadikan hati seseorang jauh dan asing dengan Allah, membuat jarak antara dia dan manusia, menjadikan dalam hatinya kegelapan, maksiat juga akan melemahkan hati dan fisik, juga menghalangi seseorang untuk melakukan ketaatan, maksiat juga memperpendek umur serta menghilangkan berkahnya, maksiat juga akan melahirkan maksiat semisal, dan lama kelamaan menjadikannya adat dan tradisi, karena maksiat yang dilakukan terasa semakin kecil di dalam hati mereka (orang-orang yang melakukan maksiat).

2. Hindari dan hindarkan  Riba, perbanyak zakat, infaq dan shadaqah
"Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)." (ar-rum (30:39)

Riba itu kelihatannya menjadikan harta kita bertambah, karena tidak mungkin berkurang dan pasti bertambah. Mungkin persepsi ini benar secara kasat mata, secara jumlah matematis, tapi tidak demikian menurut kacamata agama. Jumlahnya bisa bertambah tapi berkahnya tidak ada, artinya walaupun banyak jumlahnya tapi tidak terasa manfaatnya.
Sementara sadaqah, adalah kebalikannya, secara matematis kalau kita mengeluarkan 100,000,- (seratus ribu) sementara uang kita satu juta, maka uang kita menjadi 900,000,- (sembilan ratus ribu), tapi hakekatnya, tidak berkurang malah bertambah. Karena Allah akan melipat gandakan uang tersebut secara matematis maupun pahala. Permisalannya seperti orang yang menanam satu biji tumbuh 7 batang pohon, setiap batang memiliki 100 biji, jadi berlipat 700 kali.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah bersabda: La Yanqushu malun min shadaqah (tidak akan berkurang suatu harta karena sadaqah).

3. Jangan ragu berkontribusi
Selalu berkontribusi juga akan menjadikan rizki kita berkah, kontribusi dalam bentuk apapun, dalam bentuk Pikiran, Materi, Ilmu/Pengajaran, Nasehat, bahkan hanya sekedar senyuman. Berkah dari kontribusi ini berupa datangnya kemudahan-kemudahan, sebagaimana difirmankan oleh Allah:
فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah."

4. Lakukan Aktifitas di pagi hari

Hal lain yang bisa mendatangkan berkah adalah melakukan aktifitas di pagi hari, karena di pagi hari itulah waktu turunnya berkah dari langit.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Abu Dawud, Ibnu Majah dan Imam Ahmad, dari Sakhr al-Ghamidi, Rasulullah bersabda: "Ya Allah, berilah berkah kepada umatku di pagi hari". Oleh karena itu Rasulullah jika memberangkatkan tentara perang pasti pada pagi hari. Sakhr adalah seorang pedagang, jika ia pergi bersama kafilah dagangnya pasti di pagi hari, sehingga hartanya menjadi bertambah dan berlipat ganda.
عَنْ صَخْرٍ الْغَامِدِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا وَكَانَ إِذَا بَعَثَ سَرِيَّةً أَوْ جَيْشًا بَعَثَهُمْ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ وَكَانَ صَخْرٌ رَجُلًا تَاجِرًا وَكَانَ يَبْعَثُ تِجَارَتَهُ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ فَأَثْرَى وَكَثُرَ مَالُهُ ((أَبُو دَاوُد، ابن ماجة، أحمد))

5. Shalat Dhuha, dan membaca Surat al-Waqiah setiap malam

Shalat Dhuha juga bisa menjadi penyebab terbukanya pintu langit, ini dapat kita hayati dari do'a yang dipanjatkan seusai shalat.
"Ya Allah, jika rizkiku ada di langit maka turunkanlah, jika berada di perut bumi maka keluarkan, jika ia haram maka halalkan, jika ia jauh maka dekatkan."

Demikian pula tradisi membaca surat Waqiah tiap malam hari, juga akan membuka pintu langit, seperti tersebut dalam hadits berikut:
عن أبي ظبية قال مرض عبد الله ابن عباس مرضه الذي توفي فيه فعاده عثمان بن عفان فقال ما تشتكي قال ذنوبي قال فما تشتهي قال رحمة ربي قال ألا آمر لك بطبيب قال الطبيب أمرضني قال ألا آمر لك بعطاء قال لاحاجة لي فيه قال يكون لبناتك من بعدك قال أتخشى على بناتي الفقر إني أمرت بناتي يقرأن كل ليلة سورة الواقعة إني سمعت رسول الله صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم يقول من قرأ سورة الواقعة كل ليلة لم تصبه فاقة أبدا>> . وعن عبد الله بن مسعود قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول <<من قرأ سورة الواقعة كل ليلة لم تصبه فاقة أبدا>> فكان أبو ظبية لا يدعها.
Diriwayatkan dari Abi Dhabiyyah ia berkata, suatu hari Abdullah bin Abbas sakit –yang menyebabkan beliau meningga-. Utsman bin Affan datang untuk menjenguk beliau, lalu berkata: Rasa sakit apa yang engkau rasakan?. "Dosaku", jawab beliau. "Sekarang makanan apa yang sangat kau inginkan ?", "Rahmat Tuhanku". Jawab beliau. "Apa perlu aku panggil dokter?". Tanya Utsman. "Dokter itulah yang membuat saya sakit". Jawab beliau. "Terus apa perlu saya kirim kamu uang yang kamu butuhkan?". "Aku tidak membutuhkannya". "Mungkin untuk putri-putrimu setelah kematianmu". "Apakah kamu takut putriku dilanda kemiskinan?, Aku sudah menyuruh mereka untuk membaca surrat al-Waqiah tiap malam, karena aku mendengar Rasulullah bersabda; "Barangsiapa membaca surat al-Waqiah tiap malam, maka tidak akan ditimpa kefakiran selamnya".

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa sejak itu Abu Dhabiyyah tidak pernah meninggalkan membaca surat al-Waqiah tiap malam.
Dalam hadits lain tentang keutamaan surat al-Waqiah, Abu Ishaq berkata dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas ia berkata: Abu Bakar berkata kepada Rasulullah: "Ya Rasulullah kelihatannya anda sudah mulai beruban". "Ya, yang menjadikan saya beruban adalah surat Hud, Waqiah, Mursalat, Amma Yatasaalun, dan Idza-s-syamsu kuwwirat".
Ini menandakan keagunggan dan kedahsyatan makna yang terkandung di dalam surat-surat tersebut.
Semoga Allah Swt, berkanan menembah berkah rizki yang dikaruniakan kepada kita, sehingga kita mampu berbuat kebaikan lebih, agar lebih dekat dengan-Nya.

6. Selalu mencari dan mengkonsumsi suber rizki yang halal (halalan) dan baik (thayyiban)

(Dr. Khalid Mushlih, MA

Ada Apa Dengan Bulan Sya'ban ?


Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin[1])

Berikut ini uraian singkat tentang beberapa masalah yang berkaitan dengan bulan Sya’bân.

PERTAMA, TENTANG KEUTAMAAN PUASA BULAN SYA’BÂN
Dalam shahih Bukhâri dan Muslim, diriwayatkan bahwa A’isyah radhiyallâhu'anha menceritakan,
“Aku tidak pernah melihat Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhân dan aku tidak pernah melihat Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam puasa lebih banyak dalam sebulan dibandingkan dengan puasa Beliau pada bulan Sya’bân.”[2]
Dalam riwayat Bukhâri, ada riwayat lain,
“Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam berpuasa penuh pada bulan Sya’bân.”[3]
Dalam riwayat lain Imam Muslim,
“Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam berpuasa pada bulan Sya’bân kecuali sedikit.”[4]
Imam Ahmad rahimahullâh dan Nasa’i rahimahullâh meriwayatkan sebuat hadits dari Usâmah bin Zaid radhiyallâhu'anhu, beliau mengatakan,
Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam tidak pernah berpuasa dalam sebulan sebagaimana Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam berpuasa pada bulan Sya’bân. Lalu ada yang berkata, ‘Aku tidak pernah melihat anda berpuasa sebagaimana anda berpuasa pada bulan Sya’bân.’ Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menjawab, ‘Banyak orang melalaikannya antara Rajab dan Ramadhân. Padahal pada bulan itu, amalan-amalan makhluk diangkat kehadirat Rabb, maka saya ingin amalan saya diangkat saat saya sedang puasa."[5] 


KEDUA, TENTANG PUASA NISFU (PERTENGAHAN) SYA’BÂN
Ibnu Rajab rahimahullâhmenyebutkan dalam al- Lathâ’if, (hlm. 143, cet. Dar Ihyâ’ Kutubil Arabiyah) dalam Sunan Ibnu Mâjah dengan sanad yang lemah dari ‘Ali radhiyallâhu'anhubahwa Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda, Jika malam nisfu Sya’bân, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah pada siangnya. Karena Allâh Ta'ala turun pada saat matahari tenggelam, lalu berfirman, “Adakah orang yang memohon ampun lalu akan saya ampuni ? adakah yang memohon rizki lalu akan saya beri ? …”[6]
Saya mengatakan,
“Hadits ini telah dihukumi sebagai hadits palsu oleh penulis kitab al Mannâr. Beliau rahimahullâh mengatakan (Majmu’ Fatawa beliau 5/622), ‘Yang benar, hadits itu maudhu’ (palsu), karena dalam sanadnya terdapat Abu Bakr, Abdullah bin Muhammad, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Abi Bisrah. Imam Ahmad rahimahullâh dan Yahya bin Ma’in rahimahullâhmengatakan, ‘Orang ini pernah memalsukan hadits'.”
Berdasarkan penjelasan ini, maka puasa khusus pada pertengahan Sya’bân itu bukan amalan sunnah. Karena berdasarkan kesepakatan para ulama’, hukum syari’at tidak bisa ditetapkan dengan hadits-hadits yang derajatnya berkisar antara lemah dan palsu. Kecuali kalau kelemahan ini bisa tertutupi dengan banyaknya jalur periwayatan dan riwayat-riwayat pendukung, sehingga hadits ini bisa naik derajatnya menjadi Hadits Hasan Lighairi. Hadits Hasan Lighairi boleh dijadikan landasan untuk beramal kecuali kalau isinya mungkar atau syadz (nyeleneh).

KETIGA, TENTANG KEUTAMAAN MALAM NISFU SYA’BÂN
Ada beberapa riwayat yang dikomentari sendiri oleh Ibnu Rajab rahimahullâh setelah membawakannya bahwa riwayat-riwayat ini masih diperselisihkan. Kebanyakan para ulama menilainya lemah sementara Ibnu Hibbân rahimahullâh menilai sebagiannya shahih dan beliau membawakannya dalam shahih Ibnu Hibbân.
Diantara contohnya, dalam sebuah riwayat dari ‘Aisyah radhiyallâhu'anha,
“Sesungguhnya Allâh Ta'ala akan turun ke langit dunia pada malam nisfu Sya’bân lalu Allâh Ta'ala memberikan ampunan kepada (manusia yang jumlahnya) lebih dari jumlah bulu kambing-kambing milik Bani Kalb.”
Hadits ini dibawakan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Mâjah. Tirmidzi rahimahullâh menyebutkan bahwa Imam Bukhâri rahimahullâh menilai hadits ini lemah. Kemudian Ibnu Rajab rahimahullâhmenyebutkan beberapa hadits yang semakna dengan ini seraya mengatakan, “Dalam bab ini terdapat beberapa hadits lainnya namun memiliki kelemahan. “
As-Syaukâni rahimahullâhmenyebutkan bahwa dalam riwayat ‘Aisyah radhiyallâhu'anha tersebut ada kelemahan dan sanadnya terputus. Syaikh Bin Bâz rahimahullâh menyebutkan bahwa ada beberapa hadits lemah yang tidak bisa dijadikan pedoman tentang keutamaan malam nisfu Sya’bân.

KEEMPAT, TENTANG SHALAT PADA MALAM NISFU SYA’BÂN
Untuk masalah ini ada tiga tingkatan,
Tingkatan pertama, shalat yang dikerjakan oleh orang yang terbiasa melakukannya diluar malam nisfu Sya’bân. Seperti orang yang terbiasa melakukan shalat malam. Jika orang ini melakukan shalat malam yang biasa dilakukannya diluar malam nisfu Sya’bân pada malam nisfu Sya’bân tanpa memberikan tambahan khusus dan dengan tanpa ada keyakinan bahwa malam ini memiliki keistimewaan, maka shalat yang dikerjakan orang ini tidak apa-apa. Karena ia tidak membuat-buat suatu yang baru dalam agama Allâh Ta'ala
Tingkatan kedua, shalat yang khusus dikerjakan pada malam nisfu Sya’bân. Ini termasuk bid’ah. Karena tidak ada riwayat dari Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam yang menyatakan Beliau memerintahkan, atau mengerjakannya begitu juga dengan para shahabatnya. Adapun hadits Ali radhiyallâhu'anhuyang diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah rahimahullâh, “Jika malam nisfu Sya’bân, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah pada siangnya.”, sudah dijelaskan (di atas) bahwa Ibnu Rajab rahimahullâh menilainya lemah, sementara Rasyid Ridha rahimahullâh menilainya palsu.
Hadits seperti ini tidak bisa dijadikan sandaran untuk menetapkan hukum syar’i. Para Ulama memberikan toleran dalam masalah beramal dengan hadits lemah dalam masalah fadhâilul a’mâl, tapi itupun dengan beberapa syarat yang harus terpenuhi, diantaranya,
  • Syarat pertama, kelemahan hadits itu tidak parah. Sementara kelemahan hadits (tentang shalat nisfu Sya’bân) ini sangat parah. Karena diantara perawinya ada orang yang pernah memalsukan hadits, sebagaimana kami nukilkan dari Muhammad Rasyid Ridha rahimahullâh.
  • Syarat kedua, hadits yang lemah itu menjelaskan suatu yang ada dasarnya. Misalnya, ada ibadah yang ada dasarnya lalu ada hadits-hadits lemah yang menjelaskannya sementara kelemahannya tidak parah, maka hadits-hadits lemah ini bisa memberikan tambahan motivasi untuk melakukannya, dengan mengharapkan pahala yang disebutkan tanpa meyakininya sepenuh hati. Artinya, jika benar, maka itu kebaikan bagi yang melakukannya, sedangkan jika tidak benar, maka itu tidak membahayakannya karena ada dalil lain yang dijadikan landasan utama.
Sebagaimana sudah diketahui bahwa dalam dalil yang memerintahkan untuk menunaikan shalat nisfu Sya’bân, syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi karena perintah ini tidak memiliki dalil yang shahih dari Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rajab rahimahullâh dan yang lainnya.
Dalam al-Lathâif (hlm. 145) Ibnu Rajab rahimahullâh mengatakan,
“Begitu juga tentang shalat malam pada malam nisfu Sya’bân, tidak ada satu dalil sahih pun dari Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam maupun dari shahabat.
Muhammad Rasyid Ridha rahimahullâhmengatakan,
“Allâh Ta'ala tidak mensyari’atkan bagi kaum Mukminin satu amalan khusus pun pada malam nisfu Sya’bân ini, tidak melalui kitabullah, ataupun melalui lisan Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam juga tidak melalui sunnah Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam.”
Syaikh Bin Baz rahimahullâhmengatakan,
“Semua riwayat yang menerangkan keutamaan shalat malam nisfu Sya’bân adalah riwayat palsu.”
Keterangan terbaik tentang shalat malam nisfu Sya’bân yaitu perbuatan sebagian tabi’in, sebagaimana penjelasan Ibnu Rajab dalam al-Lathâif (hlm. 144), “Malam nisfu Sya’bân diagungkan oleh tabi’in dari Syam. Mereka bersungguh-sungguh melakukan ibadah pada malam itu. Dari mereka inilah, keutamaan dan pengagungan malam ini diambil.
Ada yang mengatakan, ‘Riwayat yang sampai kepada mereka tentang malam nisfu Sya’bân itu adalah riwayat-riwayat isra’iliyyat.’ Ketika kabar ini tersebar diseluruh negeri, manusia mulai berselisih pendapat, ada yang menerimanya dan sependapat untuk mengagungkan malam nisfu Sya’bân, sedangkan Ulama Hijâz mengingkarinya. Mereka mengatakan, ‘Semua itu perbuatan bid’ah.’
Tidak diragukan lagi, pendapat ulama Hijaz ini adalah pendapat yang benar karena Allâh Ta'ala berfirman, yang artinya,
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,
dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku,
dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
(Qs al-Maidah/5:3)

Seandainya shalat malam nisfu Sya’bân itu bagian dari agama Allâh, tentu Allâh Ta'ala jelaskan dalam kitab-Nya, atau dijelaskan oleh Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam melalui ucapan maupun perbuatan Beliau. Ketika keterangan itu tidak ada, itu berarti shalat khusus ini bukan bagian dari agama Allâh Ta'ala.
Semua (ibadah) yang bukan bagian dari agama Allâh Ta'ala adalah bid’ah, sementara ada dalil shahih dari Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam, bahwa Beliau bersabda, "Semua bid’ah itu sesat.”
Tingkatan ketiga, dikerjakan malam itu satu shalat khusus dengan jumlah tertentu dan ini dilakukan tiap tahun. Maka ini lebih parah daripada tingkatan kedua dan lebih jauh dari sunnah. Riwayat-riwayat yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits palsu.
As-Syaukâni rahimahullâhmengatakan (al-Fawâidul Majmû’ah, hlm. 15),
“Semua riwayat tentang shalat malam nisfu Sya’bân ini adalah riwayat bathil dan palsu.”

KELIMA, TERSEBAR KABAR DI MASYARAKAT BAHWA PADA MALAM NISFU SYA’BÂN ITU DITENTUKAN APA YANG AKAN TERJADI TAHUN ITU
Ini kabar yang bathil. Malam penentuan takdir kejadian selama setahun itu yaitu pada malam qadar lailatul Qadar).
Allâh Ta'ala berfirman, yang artinya,
“Haa miim. Demi Kitab (al Qur’ân) yang menjelaskan.
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi
dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.
Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah."

(Qs ad-Dukhân/44:1-4).

Malam diturunkannya al-Qur’ân adalah lailatul qadar. Allâh Ta'ala berfirman, yang artinya,
“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Qurân) pada malam kemuliaan."
(Qs al-Qadr/97:1)

yaitu pada bulan Ramadhân, karena Allâh Ta'ala menurunkan al-Qur’an pada bulan itu.
Allâh Ta'ala berfirman, yang artinya,
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al Qur’ân.
(Qs al-Baqarah/2:185)

Orang yang mengira bahwa malam nisfu Sya’bân merupakan waktu Allâh Ta'ala menentukan apa yang akan terjadi dalam tahun itu berarti dia telah menyelisihi kandungan al-Qur’an.

KEENAM, ADA SEBAGIAN ORANG MEMBUAT MAKANAN PADA HARI NISFU SYA’BÂN DAN MEMBAGIKANNYA KEPADA FAKIR MISKIN
Ini yang mereka namakan ‘asyiyâtul wâlidain. Perbuatan ini juga tidak ada dasarnya dari Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Sehingga mengkhususkan amalan ini pada nisfu Sya’bân termasuk amalan bid’ah yang telah diperingatkan oleh Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dengan sabda Beliau, ”Semua bid’ah itu sesat.”
Ketahuilah, orang yang membuat kebid’ahan dalam agama Allâh Ta'ala ini berarti dia telah terjerumus dalam beberapa larangan :
a.
Perbuatannya menyiratkan pendustaan terhadap kandungan firman Allâh Ta'ala, yang artinya
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.”
(Qs al-Maidah/5:3)

Karena apa yang dibuat-buat ini dan diyakini sebagai bagian dari agama ini tidak termasuk agama ketika agama ini diturunkan. Dengan demikian, ditinjau dari kebid’ahan ini berarti agama itu belum sempurna (sehingga perlu disempurnakan-red)


b.
Membuat-buat suatu yang baru menyiratkan kelancangan terhadap Allâh dan rasulNya.


c.
Orang yang membuat-buat suatu yang baru berarti ia memposisikan dirinya sama dengan Allâh Ta'ala dalam menghukumi manusia. Allâh berfirman, yang artinya,
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allâh
yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allâh ?”
(Qs as-Syuura/42:21)


d.
Membuat-buat suatu baru berkonsekuensi satu diantara dua. Yang pertama, Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam tidak tahu bahwa amalan ini bagian dari agama dan kedua, Nabi tahu namun Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menyembunyikannya. Kedua anggapan ini adalah celaan kepada Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam karena yang pertama menuduh Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam tidak tahu syari’at dan kedua menuduh Beliau menyembunyikan bagian dari agama Allâh yang Beliau ketahui.


e.
Kebid’ahan menyebabkan manusia berani terhadap syari’at Allâh Ta'ala. Ini sangat dilarang oleh Allâh Ta'ala.


f.
Kebid’ahan ini akan memecah belah umat. Karena masing-masing membuat manhaj sendiri dan menuduh yang lain masih kurang. Ini akan menyeret umat kedalam apa yang dilarang Allâh Ta'ala  dalam firman-Nya, yang artinya,
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang
yang bercerai-berai dan berselisih
sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.
mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,"
(Qs Ali Imrân/3:105)

dan dalam firman-Nya, yang artinya,
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka
dan mereka menjadi bergolong-golong,
tidak ada sedikitpun tanggung-jawabmu kepada mereka.
Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allâh,
kemudian Allâh akan memberitahukan kepada mereka
apa yang telah mereka perbuat.”
(Qs al-An’âm/6:159)


g.
Kebid’ahan ini membuat pelakunya tersibukkan sehingga meninggalkan suatu yang disyariatkan. Para pembuat bid’ah itu, tidaklah membuat suatu kebid’ahan kecuali pada saat yang sama dia telah menghancurkan syariat yang sepadan dengannya.

Sesungguhnya apa yang tercantum dalam kitabullah dan sunnah yang shahih itu sudah cukup bagi orang-orang yang mendapat hidayah dari Allâh Ta'ala.
Allâh Ta'ala berfirman,
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb kalian
dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada
dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Katakanlah, “Dengan kurnia Allâh dan rahmat-Nya,
hendaklah mereka bergembira dengannya. karunia Allâh
dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.
(Qs Yûnus/10:57-58)

Dalam ayat lain Allâh Ta'ala berfirman, yang artinya,
“Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”
(Qs Thaha/20:123)

Akhirnya saya memohon kepada Allâh Ta'ala agar senantiasa memberikan petunjuk kepada kita dan kepada saudara-saudara kita kaum Muslimin menuju shirâtul mustaqîm dan saya memohon kepada Allâh Ta'ala agar senantiasa menolong kita di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allâh Maha Dermawan dan Maha Pemurah.
Description: http://majalah-assunnah.com/images/naskah/garis.gif
Diterjemahkan dengan sedikit ringkas dari Majmu’ Fatawa beliau, 20/25-33
HR Bukhâri, no. 1969 dan Muslim, no. 1156 dan 176
HR Bukhâri, no. 1970
HR Muslim, no. 1156 dan 176
HR Ahmad, 5/201 dan Nasâ’i, 4/102
HR Ibnu Mâjah, no. 1388

(Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XIV)