Showing posts with label Mitos. Show all posts
Showing posts with label Mitos. Show all posts

Tuesday, May 24, 2016

Putih Di Kuku, Ada yang Tidak Suka? [Bag. 3]-Selesai

Rabu, 18 Syaban 1437 H - 25 Mei 2016

Putih Di Kuku, Ada yang Tidak Suka? [Bag. 3]-Selesai


Jangan mentang-mentang tidak ada titik putih di kuku, lantas kita merasa selalu baik, sehingga kita menganggap kalau selama ini tidak ada satupun orang yang benci kepada kita. 

Tidak seharusnya begitu. 

Lantaran ada orang yang kukunya terlihat mulus-mulus saja, tidak ada warna putih (yang dimaksud) setitikpun di sana, tapi ternyata banyak orang-orang yang ada di sekelilingnya pada tidak menyukainya. 

Terus kemana titik putih itu pergi? Kenapa setitik putih itu tidak mau memberi isyarat padanya, tentang keadaan orang-orang disekelilingnya yang tidak menyukainya? Aneh bukan?! 

Begitulah, memang hal itu terasa aneh. Tapi bagaimana hal itu tidak aneh, sedangkan mempercayai hal yang demikian itu adalah nganeh-nganeh (neko-neko)? 

Kalau toh sekiranya munculnya titik putih di kuku itu benar mengandung isyarat adanya orang yang tidak suka kepada kita, atau jika kepercayaan semisal itu memang penting bagi kemaslahatan ummat manusia, maka sudah barang tentu Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalammenyampaikannya sejak dulu kala. 

Waspadalah!! Waspadalah!! Jangan biarkan debu-debu  "KATANYA" mengotori Aqidah!! 

Al Iman bil Ghoib Edisi 107, Rajab 1429 H - 7 Juli 2008 , Hal  42

Monday, May 2, 2016

Putih Di Kuku, Ada yang Tidak Suka? [Bag. 2]

Putih Di Kuku, Ada yang Tidak Suka? [Bag. 2]
Selasa, 03 Mei 2016-25 Rajab 1437 H



Sebagian orang memang sukanya mengada-ada. Sesuatu yang tidak benar adanya di olah sedemikian rupa, dicocok-cocokkan kesana kemari, dan setelah dirasa cocok kemudian dipercayai. 

Padahal tidak ada penjelasan yang shahih, baik dari kitab al Qur'an maupun as-Sunnah. 

Sebenarnya kalau kita mau jujur mengurai diri, bertanya pada hati nurani, dan merenungkan setiap hikmah dalam kehidupan, maka kita tidak perlu menunggu-nunggu munculnya titik putih di kuku. 

Baru kemudian sadar bahwa ternyata selama ini ada yang tidak suka kepada kita lantas mengoreksi diri. 

Kita harus sadar sedari awal, baik sebaik apapun kita, sesempurna apapun kita, namanya orang tidak suka itu selalu ada. 

Dan tugas kita bukanlah membalas ketidaksukaan itu dengan ketidaksukaan serupa atau malah dengan kejahatan. 

Melainkan kita harus tetap istiqomah dalam mengislah diri sembari terus memperbaiki mu'amalah ma'an nas (interaksi social). [Bersambung]

Sunday, April 10, 2016

Putih Di Kuku, Ada yang Tidak Suka? [Bag. 1]


Putih Di Kuku, Ada yang Tidak Suka? [Bag. 1]
Ahad, 2 Rajab 1437 H - 10 April 2016


   Coba anda sekalian perhatikan kuku yang menghiasi ujung jemari anda. Ada warna putih nggak di sana? Warna putih yang dimaksud bukanlah warna putih yang melengkung di pangkal kuku itu. 

  Kalau yang itu, hampir semua orang pasti ada. Hanya saja banyak sedikitnya berbeda masing-masing orang. 

  Warna putih itu berupa titik, yang terkadang terlihat di kuku dan terkadang hilang. Nah, itulah warna putih yang kita maksud dalam bedah 'katanya'edisi kali ini. 

   Ada yang percaya kalau warna putih yang kadang terlihat dan kadang pula tidak itu muncul bukan karena kebetulan semata. Tapi, ada isyarat khusus di balik itu semua. 

   Katanya, jika ada titik putih muncul di kuku seseorang maka itu berarti ada yang sedang tidak suka dengan orang tersebut! 

  Makanya, bagi orang yang di kukunya ada titik putih, dia harus segera berhati - hati, agar terhindar dari kejahatan orang lain yang tidak suka kepadanya....

Sesederhana begitukah? 

Lantas siapa orang lain yang sedang tidak suka pada kita? 

   Jangan-jangan hal itu malah akan menjadikan kita bersikap su'udzon melulu dan berprasangka buruk kepada setiap orang yang ada di sekitar kita. [Bersambung, Insya Allah]

Friday, May 24, 2013

Foto Bertiga Bisa Kualat?

Foto Bertiga Bisa Kualat?
Jum'at, 24 Mei 2013 / 14 Rajab 1434 H

    Katanya, foto bertiga bisa mendatangkan bencana, apalagi yang saat itu pas berada di tengah. “Wah, bisa gawat! Dialah nanti yang mati duluan,” kata peramal. Sial benar. Jadinya, nggak bebas donk fhoto bertiga.

   Lalu gimana kalau saat itu mereka bertiga adalah teman akrab. Dan, momen itu merupakan pertemuan mereka yang terakhir. Yaa dengan terpaksa, mereka harus fhoto berdua-duaan. Akhirnya harus jeprat-jepret tiga kali, padahal sebenarnya bisa satu kali.

    Kasihaan sekali, selain boros mereka harus gigit jari, dan hilanglah kesempatan emas foto bersama dengan sia-sia. Yang lebih kacau lagi kalau kesempatan berfoto tinggal satu kali.

    Dalam kondisi seperti ini, tidak jarang orangtua mewanti-wanti anaknya agar tidak foto bertiga. Seperti yang yang dialami Putra, remaja ABG yang  siang tadi baru pulang dari jalan-jalan bersama teman-temannya. Malam harinya dia ditanya ayahnya, “Kemana saja kamu jalan-jalan?”

   “Ke Bedugul Pak, fhoto-fhoto.” Jawab Putra sambil menonton Meteor Garden II di televisi swasta.

    “Bagus, untuk kenang-kenangan bersama teman-teman. Tapi kamu tidak fhoto bertiga kan? Bahaya!” tutur ayahnya.

    Belum lagi kalau sepasang suami istri ingin fhoto bersama anak semata wayangnya. Apa yang harus dilakukan? Melupakan keinginannya, atau rela dibayang-bayangi kekhawatiran akan meninggalnya salah seorang dari mereka? Kasihan. Bingung harus pilih yang mana.

    Anehnya, kepercayaan ini berkembang luas di berbagai daerah, baik di Jawa maupun Bali. Padahal kalau diselidiki lebih jauh, ternyata sumber dari larangan ini berasal dari kepercayaan non Islam yang mengeramatkan angka tiga.

    Seperti kepercayaan tentang Kahyangan Tiga, Padma Tiga, termasuk Sanggah Kemulan yang juga ber-rong tiga.

    Sebagai angka keramat, angka tiga biasanya digunakan untuk urusan sakral. Kendati tiga adalah angka mukjizat, ajaib, tapi jika dihubungkan ke manusia, biasanya tiga malah dipandang berakibat buruk karena memada-mada angka yang suci untuk Tuhan.

    Misalnya, dilarang matatah bertiga (ganjil), tak boleh mengendarai motor bertiga. Selain pasti ditilang pak Polisi, juga nggak enak berdesak-desakan. Atau bisa juga merusak sepeda motor. Wajar saja, kelebihan beban.

     Dalam pandangan Islam, tentu tidak ada hubungan antara fhoto bertiga dengan kematian. Siapapun boleh saja fhoto bersama dengan orang lain tanpa harus menghindari jumlah tiga. Tanpa harus takut mendapat bencana.

     Tapi jangan coba-coba fhoto dengan mengumbar aurat. Karena jelas ini terlarang baik oleh etika ataupun norma agama. Sendiri, berdua atau bertiga sama saja hukumnya dalam agama, tidak boleh. Bencananya bukan hanya di dunia tapi jauh lebih berat dari itu, bencana siksa dalam kehidupan akhirat.

    Terlebih bila kepercayaan ini secara nyata berdasarkan pada keyakinan yang bersumber dari agama non Islam, atau sekedar warisan nenek moyang. Maka sudah sewajarnya bila kita mensikapi dengan lebih keras.

     Bahkan menolaknya mentah-mentah. Sehingga kita tidak termasuk dalam golongan orang yang tercantum dlam firman Allah, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutlah apa yang telah diturunkan Alah,” mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapatkan dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”(QS. Al-Baqarah: 170).

    Nah, bila kebetulan teman kita ada yang pernah foto bertiga. Lalu tak lama kemudian ada yang meninggal. Bukan berarti itu karena kutukan. Tapi karena memang kontraknya didunia sudah habis. Alias sudah tiba ajalnya. Karena itu jangan kotori aqidah kita dari hal-hal yang berbau katanya. Bisa gawat. Dan tetap waspada terhadap segala hal yang bersumber dari katanya.

Sunday, May 19, 2013

Jangan duduk di pintu, Pamali!

Jangan duduk di pintu, Pamali!
Senin 20 Juni 2013 / 10 Rajab 1434 H

jangan di foto dalam jumlah ganjil, nanti salah satu mati 

jangan menyapu tengah malam, pamali nanti rezekinya seret

jangan bersiul di dalam rumah, pamali nanti kedatangan harimau
 

    Sebenarnya banyak lagi, kata-kata seperti itu yang katanya nantinya akan menyebabkan musibah. Dan tidak cuma kebiasaan/tingkah laku saja, ada juga yang dari ciri atau fisik orang misalnya :

Anak yang lahir kulitnya hitam
Anak yang lahir kulitnya bule
Anak yang lahir jam 12 siang

    Ini hanya beberapa contoh "Sukerta" yaitu jenis-jenis manusia yang akan dimakan oleh BATARA KALA. Batara kala menurut orang Hindu Bali yaitu Dewa pencipta bumi dan cahaya yang menguasai dunia bawah tanah. Dan untuk menghindari dimakan oleh Batara Kala mereka yang termasuk kriteria sukerta harus melakukan tolak bala atau disebut juga RUWATAN

Darimana itu mitos ini berasal ?

    Kriteria orang-orang sukerta diambil dalam kitab sastra "Serat Centhini" yang disampaikan dalam bentuk tembang/nyanyian oleh para sinden dalam acara Pagelaran Wayang. Kitab Serat Senthini itu ada 12 Jilid, tiap jilid berbeda-beda isinya, ada yang menceritakan kuliner, menceritakan santri yang melakukan petulangan santri berganti-ganti pasangan, cerita-cerita vulgar, tata cara persenggamaan juga dibahas dalam kitab tersebut. Naudzubillahi min dzalik.

    Dalam agama Islam, beranggapan sial ketika tertimpanya suatu musibah pada sesuatu yang bukan merupakan sebab dilihat dari sisi syar’i atau inderawi, baik itu dengan orang, dengan benda tertentu, dengan tumbuhan, dengan waktu, dengan angka tertentu atau dengan tempat tertentu disebut THIYAROH atau TATHOYYUR.

    Thiyaroh berasal dari kata burung, artinya dahulu orang Arab Jahiliyah ketika memutuskan melakukan safar, mereka memutuskan dengan melihat pergerakan burung. Jika burung tersebut bergerak ke kanan, maka itu tanda perjalanannya akan baik. Jika burung tersebut bergerak ke kiri, maka itu tanda mereka harus mengurungkan melakukan safar karena bisa jadi terjadi musibah ketika di jalan.

    Thiyaroh atau beranggapan sial termasuk kesyirikan sebagaimana dinyatakan dalam hadits.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَيُعْجِبُنِى الْفَأْلُ » . قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ « كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ »

“Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah) dan tidak dibenarkan beranggapan sial. Sedangkan al fa’lu membuatkan takjub.” Para sahabat bertanya, “Apa itu al fa’lu?” “Kalimat yang baik (thoyyib)”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 5776 dan Muslim no. 2224)

     Apa beda al fa’lu dan thiyaroh? Al fa’lu adalah berangan kebaikan. Sedangkan thiyaroh adalah berperasaan akan datangnya keburukan. Adapun contoh al-fa`lu misalnya dia mendapatkan sebuah masalah, lalu ketika dia berpikir akan jalan keluarnya, tiba-tiba temannya yang bernama Sahl datang, dan Sahl maknanya adalah kemudahan.

    Ketika Sahl datang, dia pun berharap kepada Allah semoga masalahnya menjadi mudah, tapi harapannya ini muncul karena datangnya Sahl, temannya. Maka dari penggambaran di atas kita bisa melihat bahwa al-fa`lu yang disenangi oleh Rasulullah -alaihishshalatu wassalam-, tidak ada di dalamnya ketergantungan hati kepada selain Allah Ta’ala.

      Bahkan yang ada adalah hati bertambah semangat dan menguat untuk mewujudkan apa yang dia inginkan, tatkala dia mendengar atau melihat sesuatu yang menyenangkan. Jadi, thiyarah merupakan kesyirikan kepada Allah, sementara al-fa`lu adalah ibadah raja` (harapan) dan husnuzhzhan (berprasangka baik) kepada Allah Ta’ala.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menyebutkan hadits secara marfu’ –sampai kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

« الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ».

    “Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

      Hadits ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa thiyaroh atau beranggapan sial termasuk bentuk syirik. Kesyirikan dalam masalah thiyaroh ini bisa dirinci menjadi dua:

- Jika menganggap bahwa yang mendatangkan manfaat dan mudhorot adalah makhluk, ini syirik akbar.
- Jika menganggap bahwa yang memberi manfaat atau mudhorot hanyalah Allah, namun makhluk hanyalah sebagai sebab, ini termasuk syirik ashgor.

     Catatan: Tidak setiap anggapan jelek itu terlarang. Ada anggapan jelek yang masih dibolehkan selama ada sebab yang syar’i atau hissiy (inderawi). Seperti misalnya kita sudah mengetahui gerak-gerik si pencuri, dan kita berprasangka jelek padanya, maka ini ada bukti atau sebab, sehingga prasangka jelek ini tidak bermasalah

     Budaya diatas adalah termasuk Budaya Kesyirikan. Dahulu orang musyrik di masa Nabi juga beralasan karena ini adalah budaya. Akhirnya, mereka terus melestarikan budaya kegelapan tersebut. Yang dikatakan oleh orang-orang musyrik dahulu,

إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

     "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka" (QS. Az Zukhruf: 22).

     Lihat mereka pun beralasan karena yang mereka lakukan itu budaya dan tradisi. Tidak ada hujjah dalil atau wahyu yang mereka sampaikan kecuali alasan itu.

     Sampai-sampai gara-gara ingin kokoh dengan tradisi, maka paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mati dalam keadaan kafir karena digoda oleh teman-temannya untuk tetap terus mempertahankan budaya. Coba renungkan kisah Abu Tholib saat-saat ia mau meninggal dunia.

     Mengenai RUWATAN atau Tolak Bala, bukanlah minta pada Allah. Namun jin dijadikan tempat meminta pertolongan. Jin atau setan itu dipanggil oleh dukun. Padahal meminta tolong pada jin untuk menolak bala telah disebutkan dalam Al Qur’an Al Karim,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS. Al Jin: 6). Dari Al ‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Setan malah menambah dosa pada manusia”.

    Tak tahunya, jin pun tidak bisa menolak kehendak Allah. Kalau Allah takdirkan gagal, yah gagal walau dengan bantuan 1000 jin sekali pun.

    Kalau ritual ruwatan berisi do’a tulus pada Allah, mengapa harus pakai kembang bunga saat ruwat dari mana tuntunannya ataukah itu wasiat dari jin? Mengapa harus datangkan dukun, kenapa tidak meminta atau berdo’a pada Allah langsung? Dukun juga biasanya kagak shalat (itu yang umum ditemukan), mana mungkin ia meminta pada Allah dengan tulus?

Ingatlah pelajaran dari firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).

     Jangan menuduh kesialan itu pada tanggal, hari, angka, bulan, tempat atau nama anak. Buang jauh-jauh anggapan sial dan ganti dengan tawakkal pada Allah Ta’ala. Ketika mendapatkan hal yang tidak mengenakkan, ucapkanlah:

اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ

“Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan denganmu."

Kenapa kita tidak cukup berdo’a pada Allah saja? Di antara do’a yang bisa kita panjatkan,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

  "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu".
(HR. Muslim no. 2739).

Do’a ini berisi permintaan, di antaranya agar nikmat itu tetap ada.

Intinya Thiyarah dan ritual Ruwatan jelas sudah bahwa itu merupakan perbuatan syrik. di akhirat kelak berupa siksaan yang pedih bagi pelaku kesyirikan.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

   “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48).

Wallahul musta’an.

Semoga Allah memberi hidayah pada kita untuk terus bertauhid dan menjauhkan kita dari segala macam perbuatan syirik

Friday, May 10, 2013

Tali Pusar Perdamaian?

Tali Pusar Perdamaian?
Jum'at, 10 Mei 2013 / 29 Jumadil Akhir 1434 H

Hidup rukun adalah dambaan setiap orang. Terlebih bagi orang-orang yang hidup dalam satu atap dan tembok. Yang setiap saat berjumpa dan bertemu. Rasanya tidak enak bila di antara mereka sendiri kemudian terjadi perang dingin dan tidak bertegur sapa. Bila di dalam rumah sendiri sudah tidak ditemukan kehangatan dan kedamaian, lalu ke mana harus mencari?

     Satu hal yang membuat orangtua merana bila hal itu benar-benar teriadi di dalam keluarganya. Kekhawatiran yang kemudian berujung pada keyakinan pada mitos-mitos katanya yang masih berkembang di sebagian warga.

     Ya, mereka kemudian mencari pengikat di antara para saudara kandung itu yang bisa menyatukan mereka. Pengikat itupun ditemukan pada tali pusar yang biasanya masih menyertai seorang bayi hingga berumur seminggu.

    Sebagian orangtua yang masih percaya pada tuah tali pusar itu pun kemudian menyimpannya dengan rapi. Giliran berikutnya menunggu kelahiran anak kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Kemudian tali pusar-tali pusar mereka disatukan dan tidak dibiarkan terpisah-pisah.

    Makna yang terkandung dalam penyatuan tali pusar ini adalah agar mereka hidup rukun dan damai. tidak ada perkelahian. Tidak ada perselisihan yang meruncing dan memecah belah ikatan persaudaraan mereka. Apalagi sampai terjadi pertumpahan darah laksana perang bubat. Adik membunuh kakaknya atau sebaliknya.

    Kalaupun toh ada perbedaan pandang di antara mereka, maka harapannya semuanya masih bisa diselesaikan dengan kepala dingin.

     Sebenarnya niat orangtua yang mengharapkan anak-anaknya dapat hidup dengan rukun dan damai merupakan niat yang mulia. Tapi di sini masalahnya menjadi lain karena kemudian untuk mendapatkan kedamaian itu mereka menempuh jalur yang salah yaitu dengan meyakini bahwa penyatuan tali pusar anak-anaknya akan dapat mewujudkan impian mereka. Padahal tali pusar-tali pusar itu tidak memiliki pengaruh apa-apa.

     Padahal, tidak semua orangtua mengumpulkan tali pusar anak-anaknya dan menyimpannya dengan baik, lalu apakah dengan demikian kehidupan mereka dalam bayang-bayang pertengkaran? Jawabannya tidak bisa dipastikan demikian.

    Pada sisi lain, persaudaraan dalam lslam tidak terbatas pada ikatan pertalian darah semata. Tapi jauh lebih luas dari itu, persaudaraan dalam lslam lebih ditekankan kepada persamaan akidah.

     Siapapun yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat maka dalam pandangan lslam dia adalah saudara kita yang juga memiliki hak dan tanggungjawab.

     “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu”(QS. Al-Hujurat: 10)

    Rasulullah menegaskan hal ini dalam hadits, “Kamu melihat perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta dan kasih sayang mereka serta kelemahlembutan mereka bagaikan satu jasad. Jika salah satu anggota tubuh sakit maka yang anggota tubuh yang lain tidak bisa tidur dan demam.”(HR. Bukhari)

    Dengan demikian, perkuatlah persaudaraan sedarah dengan persaudaraan lslam yang terjamin kelanggengannya. Dan hiduplah dengan damai tanpa harus menyatukan tali pusar sesama saudara.

Wednesday, April 24, 2013

Kupu-Kupu Masuk Rumah, Benarkah akan datang Tamu?

Kupu-Kupu Masuk Rumah, Benarkah akan datang Tamu?
Kamis, 25 April 2013 / 14 Jumadil Akhir 1434

    Katanya, bila ada kupu-kupu yang hinggap di pintu rumah berarti ada tamu yang segera datang. Entah malam ini, esok atau lusa. Kepercayaan yang berkembang di berbagai daerah. Tak tahulah. Entah kenapa kedatangan kupu-kupu menjadi sinyal kalau rumah itu akan didatangi tamu.

     Tidak jarang seorang ibu yang meyakini mitos ini segera berbenah, bila melihat kupu-kupu hinggap di pintu rumahnya. Mulai dari membersihkan rumah, hingga menyiapkan menu makanan yang sedikit istimewa.

    Maklum kedatangan kupu-kupu itu memberinya harapan untuk bertemu dengan seseorang yang barangkali sangat istimewa. Sang suami yang kebetulan bekerja juga sudah dipesan untuk segera pulang.

    Namun, ... gawat nih. Makanan sudah selesai dimasak, rumah juga selesai dibersihkan. Kamar pun telah disiapkan. Tinggal menyisakan rasa capek dan pegal di badan. Tapi ternyata tamu misterius yang ditunggu tak kunjung datang. Malam pun telah menjelang. Ya, akhirnya hidangan untuk  sang tamu, segera disantap ramai-ramai. Mendingan begitu daripada basi.

     Itulah realita di sebagian warga. Hanya karena hinggapnya kupu-kupu di pintu, seluruh anggota keluarga sudah ribut. Kasihaan sekali. Emang ee..nak dikerjai oleh kupu-kupu. Belum lagi kalau kupu-kupu itu terlanjur masuk rumah dan ‘oh, mati’.

    Awalnya kupu-kupu itu biasa saja, tapi karena menjadi rebutan anak-anak akhirnya kupu yang malang itu terkapar tak bernyawa. Malang benar nasib sang kupu.

    Lalu apa artinya itu? konon kata mereka yang percaya dengan dunia katanya, kematian kupu-kupu itu memberikan kabar bahwa ada salah seorang anggota keluarga sedang sakit atau mengalami musibah. Gawat kan? Kematian kupu itu menjadi derita tersendiri.

    Rasa cemas dan khawatir pasti akan menyeruak masuk rongga dada. Siapa gerangan yang akan mengalami musibah?. “Jangan-jangan, jangan-jangan ....” pusing dibuatnya.

     Lain lagi bila sang kupu itu masuk rumah di malam hari. Katanya sang tuan rumah akan mendapat uang tak terduga dalam waktu dekat. Entah dari mana. Tidak ada yang tahu.

     Namun, apapun penafsiran orang kepada sang kupu yang hinggap di pintu atau masuk ke dalam rumah, sebenarnya bukanlah sesuatu yang harus dipercaya. ltu hanya bersumber dari ‘katanya’ yang jelas menyimpan banyak kesalahan daripada benarnya.

     Tidak ada sesuatu yang terlalu istimewa dari sang kupu. la hanyalah binatang bebas yang punya kemauan untuk terbang atau hinggap di mana saja. Tak terkecuali bila ia mau hinggap di pintu rumah atau bahkan masuk ke dalam, barangkali tiupan angin kencang yang menghempaskan dirinya ke dalam rumah. Jadi mengapa harus diartikan macam-macam.

    Dalam kaca mata lslam, kepercayaan kepada hal-hal yang berbau ‘katanya’ itu bisa merusak aqidah. Sebab seseorang telah meyakini bahwa sesuatu yang dalam pembahasan kita sekarang berwujud kupu-kupu itu bisa mendatangkan madharat atau manfaat.

     Padahal kupu-kupu tadi tidak memiliki hubungan sebab akibat. Tidak ada hubungan antara sang kupu dengan sang tamu atau sang musibah. Terlebih lagi tidak ada orang yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi.

     Dan, kalaupun ada seorang tamu yang kedatangannya setelah ada kupu-kupu yang hinggap di pintu rumah, itu hanya faktor kebetulan belaka. Tldak ada, yang perlu dan layak untuk dihubung-hubungkan.

     Tetaplah berhati-hati dengan segala kepercayaan yang sumbernya adalah katanya. Karena bisa-bisa merusak aqidah kita.

Monday, April 22, 2013

Misteri Batu Krobu di Probolinggo

Misteri Batu Krobu di Probolinggo
Selasa, 23 April 2013 / 12 Jumadil Akhir 1434 H

   Batu Krobu yang menjadi mitos di Desa Sumberkare, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Batu sebesar rumah ini diyakini sebagai jelmaan seorang ratu kerajaan.

    Menurut pemilik tanah tegal tempat batu sebesar rumah itu berada, Sutali (40), dirinya memang tidak tahu sendiri kepastian hikayat soal kesakralan batu itu. Tapi, dia sempat diceritakan orangtuanya bernama Ba'i. Orangtuanya mengaku jika batu krobu itu merupakan wujud salah seorang ratu.

   "Pada zaman dahulu katanya ada salah seorang ratu yang hendak ke pulau Madura yang diantar oleh prajuritnya. Namun, karena perjalanan mereka kesiangan, akhirnya berhenti di tempat itu," cerita kata Sutali saat ditemui di rumahnya.

    Wujud dari keberadaan prajurit yang mengawal perjalanan sang ratu, dibuktikan banyaknya batu-batu kecil sebesar kepala kerbau yang bertaburan di lahan tegal miliknya. Bahkan, batu-batu yang dianggap sebagai prajurit itu umurnya hingga mencapai ratusan.

   "Nah, semua batu-batu kecil yang bertaburan itu menurut sejarahnya para prajurit yang mengawal sang ratu," katanya.

   Sakralnya keberadaan batu krobu itu memang sudah sejak zaman dahulu. Ini dibuktikan, menurut cerita warga setempat jika batu tersebut pernah dijadikan tempat persembunyian para tentara Indonesia saat dikejar-kejar tentara Belanda.

    "Ada sekitar 1 kompi tentara Indonesia pada saat itu sedang dikejar-kejar oleh tentara Belanda. Pada saat dikejar tentara Belanda, mereka kebingungan. Sehingga kemudian berembunyi dibalik batu itu," kata Sutali.

    Anehnya, begitu bersembunyi di balik batu itu para tentara Belanda kehilangan jejak. Mereka tidak melihat para tentara Indonesia lagi. "Memang batu itu sejak dulu katanya wingit. Tidak mau dirusuhi (dikotori,red)," jelasnya.

    Pernah, cerita dia, ada salah seorang warga sekitar yang mengaku tidak percaya dengan adanya mitos batu tersebut. Dia kemudian memanjat batu ke atas. Melihat warga itu naik ke atas batu, para tetangganya beramai-ramai menyuruhnya turun.

   Tapi orang itu tetap ngotot menaiki batu tersebut. Begitu orang itu turun ke bawah, warga terkejut. Karena orang yang berani memanjat batu itu tiba-tiba tak sadarkan diri. Bahkan, setelah sadar dia menjadi gila.

     Melihat kejadian itu, warga yang rumahnya berada di dekat batu itu semakin percaya. Mereka melarang anak kecil agar tidak bermain di dekat batu tersebut. "Wejangan agar kita tidak sembrono main di dekat batu itu sejak orang-orang tua dulu sampai sekarang," katanya. (viva/26/3/13)

****

Rumah Ruqyah Indonesia: Segala sesuatu yang diawali dengan kata misteri sering membuat orang penasaran tapi juga sekaligus takut. Seperti halnya batu krobu ini, diawali dari berita hikayat tidak mendasar kebenarannya (mitos) membuat warga sekitar segan untuk mendekati batu itu.

Dengan sakralnya batu itu, hingga ketika ada yang kesurupan saat ada yang nekat menaiki batu tersebut kian merusak aqidah yang mempercayainya. Karena mempercayai ada kekuatan mistik dibalik batu tersebut. Waspadalah, kesyirikan bisa merusak aqidah keislaman kita.

Wednesday, April 17, 2013

Malam Jum’at Kliwon Syetan Gentayangan?

Malam Jum’at Kliwon Syetan Gentayangan?
Kamis, 18 April 2013 / 7 Jumadil Akhir 1434 H

   
   Malam Jum'at Kliwon menebar ancaman. Ada sebagian orang yang merinding bila keluar rumah di malam Jum'at Kliwon. la ketakutan lantaran mendengar mitos keangkeran yang terjadi di malam itu. Katanya, di malam Jum'at Kliwon syetan bergentayangan.

    Jagad perfilman lndonesia kembali diramaikan film horor yang mengambil tema malam Jum'at Kliwon. Seorang wanita penyihir yang tewas dihakimi massa menuntut balas. Di malam Jum'at Kliwon, ‘arwahnya yang penasaran’ digambarkan menyembul dari alam ghaib dan menebar ancaman. la bergentayangan mencari mangsa.

    Tempat di mana ia meninggal, telah dibangun penginapan. Di malam Jum'at Kliwon keganjilan demi keganjilan menghampiri tamu penginapan. Ada yang kesurupan, ada pula yang meninggal dunia.

     Sebuah film yang memanfaatkan mitos yang berkembang di masyarakat untuk mendongkrak pendapatan. Judul film itu telah menggugah rasa penasaran.

   Dukun juga memanfaatkan malam Jum'at Kliwon untuk memperkuat ilmunya. Ada yang melakukan ritual-ritual khusus ada pula yang memandikan benda-benda pusaka. Bahkan ada sebagian ilmu sihir yang memanfaatkan jasad perawan yang meninggal di malam Jum'at Kliwon untuk kekuatan ilmunya. Makamnya dibongkar. Kain  kafannya diambil. Semua itu dilakukannya di malam Jum'at Kliwon'.

    Bagi kita umat lslam, malam Jum'at Kliwon bukanlah seperti yang dibayangkan orang. Malam yang menakutkan. Sebaliknya, malam Jum'at Kliwon itu tidak berbeda dengan malam Jum'at lainnya. Ia adalah malam yang mubarakah. Malam yang diberkati.

    Orang yang meninggal di malam Jum'at Kliwon atau Jum’at-Jum'at lainnya seharusnya berbahagia. Karena itu adalah pertanda bahwa ia adalah orang baik. Orang yang terbebas dari ancaman siksa kubur. Abdullah bin Amr bin Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. Bersabda,

مَنْ مَاتَ يَـوْمَ اْلجُمْعَــةِ اَو لَيْلَةَ الجُمعَــةِ وُقِـيَ فِتْنَـةَ القَـبْر

“Barangsiapa meninggal di hari Jum'at atau malam Jum'at, dia dibebaskan dan siksa kubur."(HR. Ahmad)

    Hari Jum'at adalah hari raya pekanan bagi umat lslam. la adalah sayyidul ayyam Sedangkan perhitungan kalender hijriah, dimulai sejak matahari terbenam. Saat adzan Maghrib berkumandang di hari Kamis, maka mulai detik itu sudah terhitung malam Jum'at. Hari Raya Pekanan bagi kaurn muslimin.

     Malam Jum'at Kliwon tidak berbeda dengan malam-malam lainnya tidak ada perkecualian apapun untuknya Karena itu tinggalkan hal-hal yang berbau mitos. Kembalilah ke pangkuan lslam.

Waspadalah!! Jangan kotori akidah dengan debu-debu katanya.

Sunday, April 14, 2013

Angka Sial Mengapa Harus 13?

Angka Sial Mengapa Harus 13?
Senin, 15 April 2013 / 4 Jumadil Akhir 1434 H

     
Katanya, adalah angka sial. Angka yang membawa bencana. Sehingga segala hal yang berhubungan dengan angka ini harus dijauhi. Di sebagian komplek perumahan tidak ditemukan rumah bernomor tiga belas.

      Demikian pula di sebagian hotel maupun apartemen, hal ini tidak hanya di negara kita bahkan di luar negeri. Ya, katanya orang yang tinggal di nomor tiga belas akan mendapatkan gangguan. Gangguan yang tidak diketahui kapan datangnya dan apa alasannya.

      Padahal dalam hidup ini musibah dan bencana bisa datang kapan saja, di mana saja, tanpa harus menunggu bertepatan dengan angka 13. Selain itu, ada juga masyarakat yang yakin bahwa angka 13 bisa mendatangkan kematian. Seakan angka ini adalah isyarat yang dikirimkan malaikat pencabut nyawa.

      Bila kita bepergian ke luar negeri dan menginap di hotel barangkali kita tidak menemukan kamar nomor 13 atau lantai tiga belas. Mereka ketakutan dengan tuah angka tiga belas yang katanya membawa sial. Behkan lotere di Italia dan Prancis pun tidak mencantumkan angka tiga belas.

     Lain pula ceritanya di Inggris, bila kita makan malam di hotel Savoy di London, dan kebetulan kita serombongan berjumlah tiga belas. Dengan serta merta, si manager hotel akan cepat-cepat mengeluarkan mascot dua kucing hitam yang didudukkan di kursi khusus, untuk menemani kita di meja makan.

    Biar yang makan jadi lima belas, kalau tidak,“Diyakini bahwa salah seorang dari tiga belas orang yang makan itu akan meninggal dalam waktu satu tahun,” ujar si manager hotel.

    Kematian, siapakah yang tahu kapan datangnya? Tentu, tidak ada yang tahu, sebab kematian termasuk rahasia yang hanya diketahui Allah dan sudah ditentukan waktu dan sebabnya.

    Angka tiga belas tidak hanya merugikan individu, bahkan juga Negara. Buktinya Amerika Serikat, Negara yang tidak percaya pada katanya mengalami kerugian minimal satu biliun dollar AS setahun. Akibat absenteisme, pembatalan perjalanan darat, udara dan laut, sambil memerosotkan kinerja ekonomi, industry dan bisnis pada setiap tanggal tiga belas.

    Apalagi, bila kebetulan jatuh pada hari Jum’at. Fakta ini bukan asal-asalan, tapi hasil penelitian Paul Hoffman, ahli psiko-sosiolog. Demikian besar kerugian yang seharusnya tidak terjadi, sebab kerugian ini hanya bersumber pada katanya.

    Sebenarnya, asal muasal keangkeran angka tiga belas tidak ilmiah sama sekali. Tapi, hanya sekedar reka-rekaan. Dengan alasan alam memiliki banyak sifat yang saling berlawanan, misalnya siang-malam, panas-dingin dan seterusnya.

    Dari sini ditarik kesimpulan bahwa mewakili karakter manusia, misalnya angka 1 (satu) mewakili karakter yang aktif, kuat dan inovatif. Sebaliknya angka 2 (dua) untuk mereka yang pasif dan lemah. Begitu seterusnya hinga sampai angka dua belas, angka sempurna.

   Sedangkan, angka tiga belas adalah angka sial, karena lebih dari satu angka di atas angka sempurna. Sementara itu, orang China memiliki alasan lain. Bila angka tiga belas dijumlah maka hasilnya adalah empat. Empat Sie bila diucapkan dengan intonasi berbeda melahirkan makna yang berbeda pula yaitu empat dan mati.

    Dalam Islam kepercayaan seperti ini jelas tidak dibenarkan. Keyakinan yang mengotori keimanan kepada takdir. Segala bencana tidak ada hubungannya dengan tempat dan waktu yang berkaitan dengan angka tiga belas. Sekali lagi ini adalah mitos.

    Sebab pada dasarnya semua dimensi waktu itu sama. “Tidak ada musibah yang terjadi kecuali atas izin Allah SWT.”(QS. At-Taghabun: 11).

      Karena itu hati-hatilah kepada segala hal yang berbau katanya. Jangan sampai iman kita terkotori kemusyrikan, hanya karena percaya pada hal-hal yang hanya katanya … Waspadalah!

Monday, April 8, 2013

Mimpi Bertemu Ular, Jodoh Sudah Dekat?

Mimpi Bertemu Ular, Jodoh Sudah Dekat?
Selasa 09 April 2013 / 28 Jumadil Awwal 1434 H

     Katanya, kalau saat tidur malam kita diusik oleh mimpi bertemu ular, berarti akan ada jodoh yang datang. Kalau ular itu menggigit atau melilit, berarti jodohnya sudah dekat. Sebentar lagi jodoh itu akan datang melamar. Asyik ya.

     Terus kalau dikejar, katanya kita lagi dikejar-kejar oleh jodoh kita yang entah dimana. Mungkin sebentar lagi dia juga akan menyatakan kesediaannya datang ke rumah dengan segala kesungguhannya untuk melamar. 

      Nah, kalau dalam mimpi kita ternyata mampu membunuh ular, aduh kita membunuh jodoh kita donk. Alias jodoh semakin menjauh dan mungkin orang yang sudah dilamar bisa dibatalkan atau jangan-jangan yang sudah menyebar undangan gagal menikah. Kasihan ya …

       Itu semua gara-gara ular yang hadir dalam mimpi kita di malam hari. Atau bahkan hadir dalam mimpi tidur siang kita. Tidak pernah disebutkan dalam buku-buku penafsir mimpi tentang asal muasal kepercayaan ini. Yang ada katanya, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah atau berdasarkan kisah turun temurun dari mulut ke mulut.

      Mengapa ular dijadikan simbol jodoh. Bahkan sebagian orang tidak saja meyakininya dalam mimpi. Tetapi sebagian lagi mereka menggunakan gelang bahar bermodel ular yang melingkar. Tentu itu semua tidak terlepas dari kepercayaan dan keyakinan dibaliknya.

     Jawaban mengapa, tidak terjawab kecuali bahwa itu semua adalah cerita dari negeri antah berantah. Tidak lebih dari itu. Padahal dalam Islam ular justru merupakan simbol syetan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi. Ular hitam adalah syetan. Dan mimpi jelek, seperti dikejar ular adalah merupakan usaha syetan untuk menakut-nakuti kita.

      Ular juga binatang yang dianjurkan untuk dibunuh dalam Islam. Artinya binatang ini sangat berbahaya. Bukan rahasia lagi kalau ular itu berbisa. Bahkan bisanya bisa membunuh. Sangat berbahaya. Untuk itulah Islam menggolongkan ular sebagai binatang yang layak diburu untuk dibunuh.

      Nah, terus keganasan ular ini kok tiba-tiba berubah menajdi simbol jodoh. Kita tidak pernah tahu apa hubungan antara ular yang ganas itu dengan pasangan hidup yang menentramkan hati.

      Sementara penafsiran mimpi tidak mungkin dilakukan oleh siapapun. Nabi SAW. hanya memberikan garis besar dari mimpi, “Mimpi baik dari Allah, sedangkan mimpi buruk dari syetan. Jika kalian mimpi jelek maka berlindunglah kepada Allah.”

     Sedangkan untuk menafsirkannya, tidak sembarang orang diberikan kelebihan ini oleh Allah. Awalnya kelebihan menterjemahkan mimpi adalah mukjizat. Nabi Yusuf as adalah Nabi yang dikenal memiliki mukjizat ini. Seperti dijelaskan dalam kisah Nabi Yusuf dalam surat Yusuf.

    Sekarang kenabian telah selesai. Tidak ada lagi Nabi setelah Rasulullah SAW. maka kelebihan penafsiran mimpi tentunya hanya hanya untuk orang-orang shaleh yang diberi kelebihan oleh Allah. Tidak semua orang shaleh pasti. Kelebihan itulah yang dinamakan dengan karomah.

      Karomah ini tidak mungkin dipelajari. Tidak pula bisa dimunculkan oleh orang shaleh sesuai dengan keinginannya. Tetapi tergantung, apakah Allah berkenan memberikan karomah tersebut saat itu. Maka ular dalam mimpi sama dengan jodoh adalah penafsiran yang tidak berdasarkan dalil. Dan susah untuk dilogiskan.

       Penafsiran mimpi ini adalah karomah. Artinya ini adalah hal ghoib yang tidak mungkin ada campur tangan otak manusia di dalamnya. Hanya dalil al-Qur’an dan Sunnah saja yang diijinkan untuk dimainkan di sini. Dan tidak pernah ada satu dalil pun yang mengatakan bahwa ular = jodoh.

       Maka, tetaplah berhati-hati dengan segala yang sumbernya adalah katanya. Karena bukan hanya menyesatkan, tetapi bisa menyeret kita kepada kemusyrikan dan kemaksiatan. Waspadalah …

Sunday, April 7, 2013

Mahluk Gaib Pembuat Kursi Batu Misterius Ini?

Mahluk Gaib Pembuat Kursi Batu Misterius Ini?
Senin, 08 April  2013 / 27 Jumadil Awwal 1434 H

     Sebuah kursi yang terbuat dari susunan batu granit berdiri tegak di puncak bukit Gunong Bulongan, Dusun Birah, Desa Kelubi, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur (Beltim), Kepulauan Bangka-Belitung (Babel), Sabtu (23/3/2013) siang.

     Hingga kini sejarah keberadaan kursi tersebut masih misterius. Dukun Kampong Birah Repan (65) mengatakan kursi batu sudah ada sejak lama. Bahkan sudah berdiri sebelum orangtuanya lahir.

Menurut Repan, kursi batu itu sudah ada di Gunong Bulongan sejak beradab-abad lalu. Kala itu masyarakat Belitung belum memeluk agama Islam.

     "Kursi ini dibuat oleh makhluk gaib, mungkin sudah beratus abad la ade di sini, zaman itu orang-orang masih makan kera," kata Repan, Sabtu (23/3/2013) sore. Dugaan mengenai makhluk halus itu cukup kuat. Repan mengatakan, kursi tersebut sempat di robohkan oleh oknum tak bertanggungjawab.

    Namun keesokan harinya kursi tersebut kembali bediri seperti semula. Repan mengakui dirinya tak mengetahui sejarah tentang kursi tersebut. Cerita rakyat yang berkembang juga tak satu pun berkaitan dengan kursi batu Gunong Bulongan. (tribun/25/3/13)

*****

Rumah Ruqyah Indonesia: Kasus-kasus seperti ini begitu banyak terjadi di sekitar. Seperti yang terangkum dalam Mitos di blog Rumah Ruqyah Indonesia. Hal-hal yang tidak ada landasannya tapi dipercaya kebenarannya haruslah kita hindari. Karena bisa berakibat fatal pada aqidah kita.

Wednesday, April 3, 2013

Kisah si ‘Adik Ari-Ari’

Kisah si ‘Adik Ari-Ari’

   
Katanya, sebagian besar masyarakat menganggap, bahwa plasenta (ari-ari) bagian yang tak terpisahkan dari sang bayi. Oleh karena itu katanya, plasenta atau ari-ari sebaiknya dirawat sebaik mungkin, dicuci sampai bersih, dibungkus kain kafan, kemudian dikubur yang agak dalam. Bahkan, katanya, ia juga harus diberi penerangan lampu, baik listrik atau minyak, serta ditaburi bunga-bungaan, seperti layaknya orang meninggal.

    Pemahaman ini katanya, berdasarkan pendapat secara turun-temurun yang menganggap ari-ari adalah kakak bayi, yang telah menemani sang bayi selama di kandungan. Di sebagian masyarakat Jawa, ari-ari mendapat sebutan adi ari-ari (adik ari-ari).

     Secara urutan, yang paling tua adalah kakang kawah (ketuban), adik ari-ari (plasenta), dan Jabang bayi (si bayi). Dengan urutan ini bayi adalah paling muda, dengan demikian penghormatan yang lebih tua sebaiknya dilakukan agar tidak tertimpa bencana. Demikian kata sebagian orang.

    Secara medis, plasenta berperan besar dalam mengatur lalu lintas suplai dan pembuangan berbagai unsur yang dibutuhkan janin untuk terus hidup. Misalnya saja, mengatur lalu lintas oksigen dan karbondioksida, demikian juga halnya memasukkan nutrisi dan mengeluarkan sisa asupan janin.

    Sebagai tambahan atas fungsi ini, plasenta juga memproduksi hormon-hormon yang dibutuhkan ibu di sepanjang masa kehamilannya, guna menjaga kelangsungan hidup janin,  yaitu HCG (human chorionic gonadotropin), estrogen juga progesteron.

     Kalau plasenta tak bekerja, kemungkinan akan timbul bermacam-macam kelainan pada bayi. Dan, yang pasti yang menemani bayi didalam rahim adalah plasenta, sebagai penyambung hidup sang janin. Dan, apabila plasenta mengalami kelainan dan tidak mampu menyuplai oksigen dan nutrisi kepada janin maka janin akan mengalami kematian dalam kandungan.

      Boleh jadi, dengan peran yang cukup besar itulah sebagian orang menganggap bahwa ari-ari demikian luhur dalam menjaga kelangsungan hidup janin khususnya dan populasi manusia pada umumnya. Namun, Pusat Konsultasi Syariah yang diasuh oleh para doktor syari'ah seperti Dr. Salim Segaf Al-Jufri, yang beralamat di www.syariah online, menjelaskan, tidak ada dasar hukum yang mengharuskan ari-ari atau plasenta dikuburkan.

     Hanya saja menurut Pusat Konsultasi Syariah itu, sebaiknya dikembalikan saja kepada maslahatnya. Mungkin yang lebih baik memang dikubur atau dipendam, agar tidak menjadi penyakit atau mengotori lingkungan.

     Dengan demikian, hukum penguburannya tidak ada landasan hukumnya dalam lslam. Bilapun ingin dikuburkan sebaiknya hanya diniatkan untuk mencegah timbulnya penyakit. Karena dikhawatirkan bila plasenta dibiarkan di tempat terbuka, akan membusuk dan menimbulkan penyakit.

    Jadi, boleh saja mengubur plasenta alias si ‘adik ari-ari’. Tapi, jauhkan syirik dari kita. Karena semua itu  hanya katanya …. Waspadalah!

Sunday, March 31, 2013

Syetan Takut Sama Gunting?

Syetan Takut Sama Gunting?
Senin, 01 April 2013 / 20 Jumadil Awwal 1434 H

 
    Katanya, gunting atau peniti yang dibawa oleh ibu hamil, dan gunting yang diletakkan di bawah alas tidur bayi, bisa menjaga seorang ibu dan janinnya atau bayi yang baru lahir dari gangguan syetan. Menurut mereka yang mempercayai hal itu, katanya; karena syetan takut kepada gunting, peniti, atau benda-benda tajam.

     Realita sebagian masyarakat, biasanya ibu muda yang baru hamil atau yang sedang menyusui anak dianjurkan oleh orang-orang tua untuk membawa gunting ketika keluar rumah atau ketika buang hajat.

   Kepercayaan seperti itu telah menjadi tradisi turun temurun di sebagian masyarakat kita. Baik di pedesaan maupun di perkotaan. Bahkan di beberapa tempat, hal itu masih lazim terjadi sampai saat ini.

     Lalu timbul pertanyaan. Mengapa harus gunting? Bisakah posisinya digantikan oleh benda tajam lainnya seperti pisau, golok, clurit atau bahkan senjata api?

    Diantara mereka ada yang mengatakan, bahwa karena gunting mudah dibawa, digembol (dimasukkan) ke dalam baju. Sedang pedang atau clurit itu kebesaran.

    Bagi kalangan muslim, kepercayaan seperti itu tentu tidak benar. Apalagi, bila kepercayaan itu bersumber atas dasar “Katanya”.

    Dalam pandangan Syari’at Islam, sekali lagi, ini masuk ke dalam permasalahan syirik. Karena telah meyakini suatu benda bisa mendatangkan manfaat atau madharat dalam hal apa-apa yang hanya bisa dilakukan oleh Allah.

     Sementara bila alasannya adalah untuk melestarikan apa yang telah diajarkan para pendahulu kita, maka sebagai muslim, parameter yang harus dipakai adalah kitab Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Artinya, bila sesuatu itu dibenarkan oleh keduanya, maka kita ikuti. Bila tidak, harus ditinggalkan. Apalagi sampai ke tingkat kemusyrikan.

    Selain itu, membawa gunting atau peniti bagi ibu hamil atau ibu yang sedang menyusui justru bisa berbahaya bagi sang ibu, atau bagi sang bayi itu sendiri. Alih-alih mau selamat, bisa-bisa justru sebaliknya.

    Sebab, seorang ibu hamil tentu mengalami kepayahan, demikian juga ibu yang menyusui. Dalam kondisi itu sangat berbahaya kalau tiba-tiba gunting yang dibawanya justru melukai dirinya sendiri. Demikian juga peniti yang ia bawa. Akhirnya, secara duniawi celaka, secara agama bisa terjebak ke dalam kemusyrikan.

    Maka tetap waspadalah dengan segala susuatu yang sumbernya hanya “katanya”. Kalau memang perlu membawa gunting untuk dipakai kebutuhan tertentu, sah-sah saja. Tetapi jangan sampai ada keyakinan kemusyrikan dibaliknya. Justru, syetan semakin senang melihat manusia yang menggantungkan keselamatannya kepada gunting, dan ia bukannya malah takut kepada gunting itu.

    Tegakah seorang ibu menodai diri sendiri dan belahan hatinya, yang masih di perut maupun yang sudah lahir dengan amal-amal yang musyrik? Rasulullah pernah mengingatkan, “Barangsiapa menggantungkan keselamatanya kepada sesuatu, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada apa yang ia bergantung kepadanya itu.”

Waspadalah …

Wednesday, March 27, 2013

Ibu Hamil Melayat, Anaknya Sawan Bangkai ?

Ibu Hamil Melayat, Anaknya Sawan Bangkai ?
Kamis, 27 Desember 2012/13 Safar 1434 H

     Katanya, urusan layat melayat tidak sembarang orang diperbolehkan. Meski yang meninggal masih saudara atau tetangga sendiri. Ibu hamil dilarang melayat, dengan alasan yang dibuat-buat. Kalau pantangan itu dilanggar maka siap-siaplah untuk melahirkan anak yang kurus kering.

      Konon, si janin kena sawan bangkai alias sawan mayat. Pucat. Seperti bunga yang layu. Mitos yang satu ini masih menyertai keseharian warga. Seperti dituturkan ibu Suti yang tinggal di Jakarta Utara. Ketika tetangga seberang jalan rumahnya meninggal, tetangga kiri kanan sudah melarang untuk melayat.

"Bu, jangan melayat. Ibu lagi hamil. Nanti kena sawan bangkai" kata mereka.

      Ibu Suti pun mengurungkan niatnya. la tidak mau dihantui ketakutan. Hingga apa yang disebarkan dalam mitos itu menjadi nyata. Lain pula dengan kisah Ningrum. Ketika ada temannya yang lagi hamil meminta saran, apa yang harus dilakukannya. la ingin melayat, tapi teman-temannya melarang. Alasannya sama. Sawan bangkai. Nanti anaknya akan terlahir kurus kering.

     Ningrum mengatakan kepada temannya, bahwa itu hanyalah mitos. Dalam Islam tidak ada keyakinan seperti itu. "Kalau kamu ragu-ragu, jangan melayat. Tapi kalau kamu yakin tidak akan terjadi apa-apa, pada janinmu, melayatlah. Lawan mitos itu."

    Temannya pun melayat. Setelah lahir, anaknya tidak mengalami masalah apa-apa. dia lahir normal seperti bayi-bayi lainnya.

      Boleh saja ibu yang hamil tidak melayat, karena melayat itu hukumnya hanya sunah. Tidak mencapai derajat wajib yang berdosa bila ditinggalkan. Disunahkan berta'ziyah hingga tiga hari berdasarkan pada hadits riwayat Ibnu Majah.

"Tak seorang pun mukmin yang ta'ziyah kepada saudaranya yang tertimpa musibah kecuali Allah akan memberinya pakaian kemuliaan di hari kiamat."

       Meski demikian, bila seorang ibu hamil sampai ketakutan sedemikian rupa dan khawatir bila melayat akan menyebabkan anaknya kena sawan bangkai, sebaiknya ia putuskan untuk tidak melayat. Karena beban psikologis tersebut akan mempengaruhi pada perkembangan janin. Tapi kembali pada alasan semula. Ketidakhadiran itu bukan karena mengikuti mitos, tapi untuk menghindari madharat yang lebih besar.

Waspadalah! Waspadalah, jangan kotori akidah dengan debu-debu katanya.


RRIAds - RRI Calls 

Monday, March 18, 2013

TOK..TOK…TOK…TOKEK..Tokek ‘Pembawa’ Rezeki ?

TOK..TOK…TOK…TOKEK..Tokek ‘Pembawa’ Rezeki ?
Jum'at, 08 Februari 2013/27 Rabiul Awwal 1434 H

Tokek adalah makhluk ciptaan Allah SWT. la adalah binatang yang memang dikaruniai suara berbeda dengan binatang yang lainnya, sebagai sarana mereka berkomunikasi. Layaknya ayam yang berkokok, anjing yang menggonggong, kuda yang meringkik, maka tokekpun bertokek.

      Sebagaimana suara gonggongan anjing yang banyak ditafsirkan dengan hal-hal yang macam-macam, suara tokekpun juga mempunyai tafsiran sendiri. Katanya kalau ada suara tokek, maka itu artinya akan ada rizki yang datang.

      Malam itu hujan baru saja reda. Rama, anak pak Tamam yang masih berusia tiga tahun menangis sejadi-jadinya, karena mendengar suara tokek di teras rumah. Istrinya pun terus menghibur sang anak agar tidak menangis, dan mengatakan kalau tokek itu tidak bakalan menyakiti Rama.

     Tapi namanya juga anak, kalau sudah takut, seambrek kata-kata yang disusun untuk melipur tak lagi mempan menghilangkan rasa takutnya itu. Pak Tamam segera meraih sapu lidi, dan bergegas hendak mengusir si tokek yang membuat takut anaknya.

"Jangan diusir, Mas! Kata bapak tokek itu membawa rizki buat kita!" cegah sang istri.

     Ada-ada saja. Memang, dalam dunia “katanya” tidak ada yang beneran. Semuanya serba mengada-ada, Bahkan kadang dipaksakan. Kadang pula akal dipaksa tunduk untuk menerima sesuatu yang tidak logis. Karena memang sebelumnya tidak ada dalam tuntunan yang diajarkan agama kita.

     Rozzak adalah salah satu Asmaul Husna yang berarti Maha Pemberi Rizki. Allah SWT yang menciptakan semua makhluk. Allah SWT pula yang memberi mereka rizki. Lantaran tidak mungkin Allah mendzalimi makhluk-makhluknya. Kalau dipikir-pikir, bagaimana mungkin seekor makhluk yang masih mengharap rizki dari Allah bisa mendatangkan rizki ?

     Ketika ada tokek yang lagi bersuara, jangan langsung ditafsirkan dengan hal-hal yang bisa mengotori akidah kita. Kita tidak tahu bahasa tokek. Bisa jadi dia sedang mengadakan komunikasi dengan teman-temannya. Karena seperti itulah bahasa dan suaranya. Seperti kambing yang selalu mengembek ketika lapar atau sedang menginginkan pasangan.

     Anggapan atau keyakinan seperti di atas sudah ada sejak zaman Jahiliyah, sebelum Rasulullah SAW diutus. Dalam kajian agama kita menyebutnya 'tathoyyur'. Hal itu sering kali mereka lakukan.

     Bahkan saking kuat keyakinannya pada suara-suara, burung atau angin, mereka bisa menunda safar (perjalanan) yang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari. Adanya suara sesuatu itu seolah memberi isyarat tidak baik jika ia tetap melanjutkan perjalanannya saat itu. Ini adalah salah satu contohnya.

     Hal seperti di atas tidak diajarkan dalam Islam. Yang ada yaitu bahwa urusan rizki itu sudah diatur oleh Allah SWT. Tugas kita hanyalah menjemputnya. Dan yang namanya makhluk itu tidak bisa memberi manfaat, tidak pula madharat (bahaya).

     Akidah harus selalu kita jaga. Bisa jadi keyakinan-keyakinan semu yang kadang itu terkesan sepele bisa menodai. Kalau memang benar suara tokek itu pertanda datangnya rizki, maka beruntung sekali donk yang rumahnya dihuni banyak tokek ?

    Atau tidak perlu repot-repot kita bekerja, kalau mau kaya kita pelihara saja tokek sebanyak-banyaknya, biar selalu membawa rizki buat kita.

Waspadalah! Waspadalah! Jangan nodai kesucian akidah Anda!

GhoibRuqyah.com | Tokek Pembawa Rezeki

Thursday, March 14, 2013

Truk Container Menabrak Orang, BAWA HOKI?

Truk Container Menabrak Orang, BAWA HOKI?
Senin, 10 Desember 2012/26 Muharram 1434 H

     Ada cerita miris soal mitos yang berkembang di kalangan masyarakat tertentu. Kecelakaan maut justru dianggap hoki yang membawa keberuntungan tersendiri. Sudah menjadi rahasia umum, bila sebagian sopir truk container bisa dibilang tidak mau mengalah pada pengendara yang lain. Mentang-mentang mobilnya besar, lalu tidak mau mengalah. la menjadi raja jalanan.

     Tidaklah mengherankan bila kecelakaan maut sering terjadi. Cerita seputar pengendara sepeda motor yang tewas seketika digencet container sering menghiasi halaman surat kabar.

     lronisnya. kecelakaan yang merenggut nyawa tersebut diyakini sebagian orang justru menjadi tumbal kelancaran bisnis mereka. Nyawa orang lain dipermainkan hanya untuk mengeruk keuntungan pribadi.

     Perusahaan yang truk containernya menabrak orang hingga meninggal itu diyakini akan meraup keuntungan berlimpah pada bulan-bulan berikutnya. Artinya, biaya yang dikeluarkan untuk santunan keluarga korban, masih lebih kecil dari pendapatan yang akan diraup. Alhasil, sopir-sopir itu tidak jera meski telah mengakibatkan kematian orang lain.

      Apakah keyakinan itu bermula dari ritual pesugihan? Kemungkinan ini pun bisa saja terjadi.Yang jelas, ada juga orang yang mengaitkan keyakinan itu dengan ritual pesugihan.

      Pencari pesugihan itu, konon, harus setor nyawa tiap tahunnya. Dan truk container bisa dijadikan sebagai sarananya. Begitulah cerita yang berkembang di tengah masyarakat.

    Kedua alasan di atas tidak bisa dibenarkan. Apapun alasannya, kita tidak boleh mempermainkan nyawa manusia. Terlebih untuk kepentingan sesaat. Dengan menjadikannya sebagai tumbal atas ritual pesugihan, misalnya.

   Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda, "Harta, kehormatan dan darah  seorang muslim diharamkan atas muslim lainnya." (HR. Abu Dawud)

      lslam melindungi jiwa setiap orang. Ia tidak boleh dibunuh kecuali dengan alasan yang dibenarkan agama. Misalnya, murtad, membunuh atau orang tua yang berzina. Karena itu, tidak boleh menghilangkan nyawa orang dengan alasan mitos.

       Sekadar untuk melancarkan bisnis, lalu membiarkan nyawa melayang tanpa rasa bersalah. Waspadalah, jangan biarkan debu-debu katanya mengotori akidah!.

ghoib ruqyah syar’iyyah | Truk Container Menabrak Orang, Bawa Hoki?

Tuesday, March 12, 2013

Mengadopsi Anak, Memancing Kehamilan?

Mengadopsi Anak, Memancing Kehamilan ?
Jum'at, 02 Nopember 2012/17 Zulhijjah 1433 H

    Setiap pasangan suami istri mendambakan lahirnya si buah hati. Rumah tangga terasa kurang lengkap tanpa kehadiran mereka. Kelucuan dan keluguan anak yang menghilangkan rasa letih dan lesu setelah seharian bekerja. Tawa canda yang bisa merekatkan jalinan cinta yang mulai redup.

    Karena itu banyak cara dilakukan pasangan suami istri untuk mewujudkan keinginan mereka. Dari yang berbau medis hingga yang tidak logis. Ya, dengan mengikuti terapi medis oleh seorang dokter kandungan maupun dengan meminum ramuan obat-obatan tradisional.

    Yang tidak logis pun banyak ditemukan di kalangan masyarakat. Suatu mitos yang diyakini bisa memancing datangnya si buah hati. Di antaranya adalah saran untuk mengadopsi anak.
    Dalam kenyataannya mitos ini sering dilakukan oleh sebagian masyarakat. Bisa jadi mereka mengambil mitos ini dari kisah nabi Zakaria yang tidak memiliki anak hingga berusia lanjut.

    Nabi Zakaria mengadopsi Maryam dan mengasuhnya dengan bijaksana. Waktu terus berjalan. Istrinya sudah semakin tua, dan menurut akal sehat manusia sudah tidak mungkin akan hamil. Tapi Allah berkehendak lain, dalam usianya yang lanjut itu istri nabi Zakaria hamil dan lahirlah nabi Yahya.

    Dr. Hasnah Siregar, Sp.OG, menjelaskan mitos mengadopsi anak yang memang tidak bisa dijelaskan hubungan antara keduanya. Hanya saja, mitos ini pada akhirnya membuat jiwa ibu tenang. Bila ibu tenang, maka organ reproduksi akan bekerja maksimal dan memudahkan terjadinya kehamilan. Dengan catatan baik suami maupun istri tidak mengalami gangguan secara fungsional maupun anatomis.

   Masih menurut Dr. Hasnah Siregar, Sp.OG, hampir 2/3 atau 60 persen faktor penyebab tiadanya kehamilan bukan faktor fungsional organ atau anatomisnya. Melainkan masalah psikologis atau psikis ibu.

    Faktor psikologis itu sendiri banyak sebabnya. Antara lain adalah pasangan suami istri tersebut tinggal serumah dengan mertua atau ada dengan banyak saudara ipar, atau tekanan dalam pekerjaan sehingga seorang ibu mengalami stress.

    Selain itu dorongan kuat untuk segera hamil menjadi faktor yang tidak bisa dikesampingkan sehingga seorang ibu selalu tegang menunggu hari-hari menstruasinya. Sedemikian tegangnya sehingga emosi seorang ibu tidak stabil.

   Jiwanya tidak tenang dan pembuahan benar-benar tidak kunjung terjadi. Atau bisa juga karena seorang ibu mengalami stress akibat pertanyaan orang-orang sekitarnya.

    Bila demikian, masalah tiadanya kehamilan bisa dibilang cukup kompleks. Ada banyak faktor yang saling terkait. Bila berbagai cara sudah ditempuh dan masih tidak ada hasilnya, pasangan suami istri bisa saja mengadopsi anak.

    Tentu dengan tujuan yang mulia. Bukan sekadar mengikuti mitos. Tapi lakukanlah itu sebagai panggilan jiwa kebapakan atau keibuan. Seraya terus berharap semoga Allah mengabulkan doanya.

Majalah Ghoib, Edisi 31 Th 2/29 Dzulqo'dah 1425 H/10 Januari 2005 M 

Sunday, March 10, 2013

Mengikat Tiang Ketika Hembusan Angin Kencang

Mengikat Tiang Ketika Hembusan Angin Kencang
Selasa, 23 Oktober 2012/7 Zulhijjah 1433 H



       ANGIN adalah peristiwa alami, tapi penuh misteri. Keberadaannya (berhembus atau tidaknya) bukanlah sebuah kebetulan belaka. Melainkan sudah diatur oleh Allah Yang Maha Kuasa.

       Dahulu, pada masa Rasulullah SAW, ada seorang yang memaki angin. Lantas Rasulullah SAW menegurnya, "Janganlah kamu mencaci maki angin! Karena sesungguhnya la itu diperintah. Dan barangsiapa melaknat sesuatu yang bukan pada tempatnya maka laknat itu akan kembali pada dirinya!”

      Misteri tentang angin itupun melahirkan keyakinan-keyakinan (yang terkadang keluar dari kebenaran) tentangnya. Salah satunya adalah manakala terjadi angin kencang. Katanya kaiau angin sedang berhembus kencang, maka kita harus mengikat empat tiang penyangga utama rumah kita itu dengan kain (jarik), biar nggak roboh tertempa hembusannya.

     Maksudnya empat tiang penyangga utama adalah sebagaimana yang bisa kita dapati dari model rumah jawa (Joglo ataupun Dorogepak). Empat tiang ini biasanya berada di tengah, sebagai penyangga kuncupnya.

      Lalu muncul masalah, bagaimana kalau kebetulan rumah kita tidak memiliki tiang sebagaimana yang dimaksud ? Apa yang harus kita ikat ketika ada angin kencang ? Lantas, bagaimana solusi Iman bila terjadi angin kencang ?

     Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Suatu hari terjadi angin kencang di Makkah. Ketika itu Umar sedang berhaji, anginpun berhembus semakin kencang. Lalu Umar berkata kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya, "Apa yang sampai pada kalian (dari hadits Rasulullah) tentang angin ?" aku menjawab, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Angin itu dari hembusan ruh Allah, ia membawa rahmat dan adzab. Maka Janganlah kalian mencacinya, dan mintalah pada Allah kebaikan darinya, dan berlindunglah pada-Nya dari keburukannya."

      Adapun doa permohonan kebaikan dari angin dan perlindungan dari keburukannya ialah sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi SAWjika angin berhembus kencang maka beliau berdoa:

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan dari apa-apa yang dibawanya (angin), dan berlindung kepada-Mu dari apa-apa yang dibawanya."

      Sedangkan solusi Iman lain yang diriwayatkan ibnu Abi Dunya dan ibnu Asakir adalah hadits dari Abu Darda' yang mengatakan, "Jika angin malam berhembus kencang, maka Nabi SAW segera menuju masjid sampai semuanya kembali tenang, dan jika terjadi peristiwa di langit seperti gerhana matahari ataupun rembulan, maka beliau segera melakukan shalat." (ad-Durrul Mantsur oleh Jalaluddin as-Suyuti).

      Angin. Terkadang berhembus sebagai rahmat untuk sebuah kaum. Kadang pula bertiup sebagai adzab atas sebagian kaum lainnya. Jika hal itu terjadi, maka tak ada tempat kembali selain kepada Allah SWT saja.

     Lantaran Dialah yang mengutusnya, maka Dia pula yang kuasa untuk mengendalikannya. Jangan malah mengambil sikap yang berhaluan dengan perintah Islam, seperti dengan mengikat empat tiang penyangga utama rumah. Lantaran itu adalah keyakinan yang salah, yang justru malah akan mengundang petaka, bukan menangkalnya.

Ingat! Waspadalah! Waspadalah! Jangan kotori akidah dengan debu-debu katanya.