Showing posts with label AQIDAH. Show all posts
Showing posts with label AQIDAH. Show all posts

Friday, March 24, 2017

BOM BUNUH DIRI MENURUT PANDANGAN PARA ULAMA'



BOM BUNUH DIRI MENURUT PANDANGAN ULAMA’


Bagi mereka yang melakukan, bom bunuh diri diyakini sebagai sebuah solusi untuk meraih gelar  mati syahid. Sementara mati syahid adalah sebuah proses kematian yang sangat mulia disisi Allah swt, sehingga kematian ini memiliki beberapa ktriteria.

Kriteria Syahid dengan prospek masuk surga mencakup 2 golongan:

a)      Syahid dunia akhirat: adalah orang yang mati dalam medan peperangan melawan orang kafir dan dia mati sebab perang.
b)       Syahid akhirat; adalah orang yang mati dengan sebab-sebab syahadah sebagaimana berikut: antara lain: tenggelam , sakit perut, tertimpa reruntuhan, dll.

المراجع:هامش القليوبى و عميره جز 1 ص : 337:
إعْلَمْ أَنَّ المُصَنِّفَ (النَّوَويَّ) رَحِمَه اللهُ ذَكرَ فِي ضَابِطِ الشَّهيدِ ثلاثَ قُيُودٍ المَوتَ حَالَ القِتالِ وَكَونَهُ قِتالُ كُفَّارٍ وكَونَهُ بِسَببِ قِتالٍ.
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya musonnif (Imam Nawawi) dalam hal definisi mati sahid menuturkan tiga syarat, yaitu mati ketika berperang, perangnya melawan kafir, dan matinya karena sebab berperang.”


متن الشرقاوي جز 1 ص : 338:
وَخَرَجَ بِشَهيدِ المَعْرِكَةِ غَيرُهُ مِن الشُّهَداءِ كَمَن مَاتَ مَبْطونًا أوْ مَحْدُودًا أوْ غَريْقًًا أوْ غَريْبًا أوْ مَقتُولاً ظُلْمًا أوْ طَالِبَ عِلمٍ فَيُغْسَلُ وَ يُصَليَّ عَليهِ وَ إنْ صَدَقَ عَليهِ إسْمُ الشَّهيدِ فَهُوَ شَهيدٌ فِي ثوَابِ الأخِرَةِ
“Dikecualikan dari status mati syahid dalam peperangan ialah para syuhada’ selain dalam peraperangan, seperti halnya mati karena sakit perut (mabtun), atau di had (hukum), atau tenggelam (ghoriq), atau diasingkan, atau dibunuh karena dzalim, atau daalam waktu mencari ilmu. Maka mereka semua itu di mandikan, dan disholati, meskipun bersetatus mati sahid, karena dia mati sahid dalam perhitungan pahala diakhirat.”


Mayit pelaku gerakan separatis bukan termasuk syuhada', sehingga mayitnya tetap dimandikan dan dishalati seperti layaknya mayit muslim.

المراجع :مغني المحتاج معرفة الفاظ المنهاج للشيخ محمد بن احمد الشربيني الخطيب ، ج ك 2 ص : 35 ، مانصه:
أمَّا إذَا كَانَ المَقتُولُ مِنْ أهْلِ البَغْىِ فَليْسَ بِشَهيدٍ جَزْمًا
“Adapun orang yang terbunuh itu dari ahlul baghyi (pemberopntak) maka mereka bukan termasuk mati syahid dengan pasti.”

روضة الطالبين للشيخ محي الدين يحي بن أبي زكريا النووي ، ج : 2 ، ص : 42 ، مانصه :
النَّوعُ الثانِي الشُّهَداءُ العَارُونَ عَن جَمِيعِ الأوْصَافِ المَذْكُورَةِ كَالمَبْطُونِ وَالمَطْعُونِ وَالغَرِيقِ وَالغَرِيبِ وَالمَيّتِ عِشْقا وَالمَيّتَةِ فِي الطَّلْقِ وَمَن قَتَلَهُ مُسْلِمٌ أوْ ذِمِّيٌّ أوْ بَاغِ القِتالِ فَهُم كَسَائِرِ المَوتىَ يُغْسَلونَ وَيُصَلىَّ عَليْهِمْ وَإنْ وَرَد فِيهِمْ لفْظُ الشَّهادَةِ وَكذَا المَقتُولُ قِصَاصًا أوْ حَدّا لَيسَ بِشَهيدٍ
“Macam yang kedua yaitu orang-orang yang mati syahid yang selain dari sifat-sifat tersebut diatas, seperti mati karena sakit perut, sakit tho’un (wabah), tenggelam, diasingkan, mati karena merindukan (kekasih), mati karena melahirkan dan orang yang mati karena dibunuh sesama muslim atau orang kafir dzimmy atau orang yang menentang berperang, maka mereka semua dihukumi seperti mati biasa, artinya harus disholati dan dimandikan. meskipun statusnya mati syahid (di akherat), begitu juga mati karena dihukum qisos atau dihukum had itu bukan mati syahid.”

الموسوعة الفقهية ج : 8 ص : 152، مانصه :
أما قتلى البغاة، فمذهب الملكية والشافعية والحنابلة : أنهم يغسلون ويكفنون ويصلي عليهم، لعموم قوله صلى الله عليه وسلم : (صلوا على من قال لا إله إلا الله ) ولأنهم مسلمون لم يثبت لهم حكم الشهادة، فيغسلون ويصلي عليهم ومثله الحنفية، سواء اكانت لهم فئة أم لم تكن لهم فئة على الرأي الصحيح عندهم وقد روي أن عليا رضي الله عنه لم يصل على أهل حروراء، ولكنهم يغسلون ويكفنون ويدفنون ولم يفرق الجمهور بين الخوارج وغيرهم من البغاة في حكم التغسيل والتكفين والصلاة .
“Adapun orang-orang yang terbunuh dari para pembangkang (bughot) maka menurut ulama’madzab Maliki, Syaf’ii dan Hambali mereka itu harus dimandikan, dikafani dan sisholati karena keumuman sabda Rasulullah SAW (artinya) “Sholatilah orang-orang yang mati dan berkata Laa Ilaa Ha Illallaah”. Karena mereka adalah orang-orang Islam yang tidak berstatus mati syahid maka dia dimandikan dan disholati.
Begitupula pendapata ulama’ madzab Hanafi, baik mereka itu mempunyai kelompok atau tidak, menurut pendapat yang sohih dikalangan ulam’ hanafiyyah. Diriwayatkan sesungguhnya sahabat Ali RA tidak melakukan sholat terhadap orang golongan Harurok, tetapi mereka itu dimandikan, dikafani dan dimakamkan ditempat pemakaman muslim. Juhur al ulama (kebanyakan ulama) tidak membedakan antara kaum khawarij dan lainnya dari golongan penentang pemerintahan yang sah di dalam hukum memandikan, mengkafani serta mensholati.”


حاشية الجمل 2:
وَتَجْهِيزُهُ أيِ المَيّتِ المُسْلِمِ غَيرِ الشَّهيدِ بِغَسْلِهِ وَ تكْفِينِهِ وَ حَمْلِه وَ الصَّلاةُ عَليْهِ وَدَفنِهِ وَ لَوْ قَاتلَ نَفْسَهُ فَرضُ كِفَايَةٍ.
“Merawat jenazahnya orang Islam yang selain mati syahid dengan cara memandikan, mengkafani, membawa, menyolati dan mengkuburkan walaupun melakukan bunuh diri, hukumnya fardhu kifayah.”

Bunuh diri tidak dibenarkan dalam syariat sekalipun dalam rangka memperjuangkan kebenaran. Akan tetapi dalam peperangan yang diizinkan syara' (jihad) menyerang musuh dengan keyakinan akan terbunuh untuk membangkitkan semangat juang kaum muslimin adalah diperbolehkan.


المراجع:تفسير ابن كثير ج: 1 ص: :481
عَنْ أبِي صَالِحٍ عَن أبِي هُرَيرَةَ قالَ قالَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَليهِ وَسَلمَ مَن قَتلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِها بَطْنَهُ يَوْمَ القِيامَةِ فِي نَارِ جَهَنمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أبَدًا وَمَن قتلَ نَفسَهُ بِسُمٍّ تَرَدَّى بِه فَسَمَّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنمَ خَالدًا مُخَلدًا فِيهَا أبَدًا وَهَذا الحَدِيثُ ثابِتٌ فِي الصَّحِيحَينِ خ م
“Dari Abi Sholeh dari Abi hurairoh berkata : Rosululloh SAW. bersabda : Barang siapa melakukan bunuh diri dengan cara membenamkan besi keperutnya sendiri besuk pada hari kiamat akan masuk neraka Jahannam selam-lamanya. Dan barang siapa melakukan bunuh diri dengan cara menaruh racun di tangannya dengan menghirupnya maka akan masuk neraka jahanam selam-lamanya. Hadits ini telah ditetapkan dalam dua kitab Shohih, (Bukhari dan Muslim).”


اسعاد الرفيق جز 2 ص :
تتِمَّة مِنَ الكَبَائِرِ قَتلُ الإنْسَانِ نَفسَهُ لِقَولِه عَليْهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقتَلَ نَفْسَه فَهُو فِى نَارِ جَهَنّمَ يَترَدَّى فِيهَا خَالِدًا مُخَلدًا فِيهَا ابَدًا
“Termasuk dosa besar adalah bunuh diri, sebagaimana sabda Nabi SAW. : “Barang siapa bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari ketinggian gunung maka akan masuk neraka jahanam dengan terlempar selamanya.”


الموسوعة الفقهية 6 ص : 285 – 286:
الانتحار حرام بالاتفاق ويعتبر من اكبر الكبائر بعد الشرك بالله قال الله تعالى ولا تقتلوا النفس التى حرم الله الا بالحق وقال ولا تقتلوا انفسكم ان الله كان بكم رحيما وقد قرر الفقهاء ان المنتخر اعظم وزرا ممن قاتل غيره وهو فاسق وباغ على نفسه حتى قال بعضهم لايغسل ولايصلى عليه كالبغاة وقيل لاتقبل توبته تغليظا عليه كما ان ظاهر بعض الأحاديث يدل على خلوده في النار منها قوله من تردى من جبل فقتل نفسه فهو في نار جهنم يتردى فيها خالدا مخلدا فيها ابدا
“Bunuh diri adalah harom denga kesepakatan para ulama’ dan dipandang dosa yang paling besar setelah syirik kepada Allah. Allah berfirman ( artinya ): “ Janganlah kalian semua membunuh jiwa yang diharomkan oleh Allah kecuali dengan jalan yang haq”, dan firman Allah ( artinya ): “Janganlah kalian membunuh dirimu sendiri sesungguhnya Allah maha penyayang terhadap kamu semua”. Para Fuqoha’ menetapkan bahwa orang yang melakukan bunuh diri lebih besar dosanya dari pada orang yang memerangi orang lain, dan dialah orang fasiq dan menganiaya dirinya, hingga sebagian ulama’ mengatakan bahwa dia tidak dimandikan dan disholati sebagaimana para pembangkang. Ada pendapat lain bahwa dia tidak diterima taubatnya karna memberatkan atas kesalahannya sebagaimana dlohirnya sebagian hadits menunjukkan keabadiannya dalam neraka.”

 Walloohu a'lam
  

SESAJI ATAU TUMBAL


TRADISI SESAJEN DALAM RITUAL MASYARAKAT


Telah menjadi tradisi orang-orang jawa sejak dahulu, dan sampai sekarang tradisi tersebut masih dilakukan dibeberapa daerah, sebelum panen masyarakat menyiapkan sesajian untuk diletakkan disawah, ada lagi yang meletakkan sesajen disebelah sumur, ditempat-tempat lain yang dianggap keramat oleh penduduk, didaerah pesisir biasanya tradisi seperti ini dilakukan dengan cara membuat sesajen yang kemudian diangkut dengan perahu, lalu dibuang dilaut dan sebagainya.
Da umumnya, tujuan mereka melakukan ritual tersebut di tujukan kepada golongan makhluk halus penunggu tempat tersebut dengan maksud agar terhindar dari musibah, malapetaka, atau agar memperoleh keamanan, keselamatan, dsb. Jika itu tujuannya maka ritual tersebut haram hukumnya.

مسألة -ث : العادة المطردة فى بعض البلاد لدفع شر الجن من وضع طعام أو نحوه فى الأبيار أو الزرع وقت حصاده وفى كل مكان يظن أنه مأوى الجن وكذلك إيقاد السرج فى محل ادخار نحو الأرز الى سبعة أيام من يوم الإدخار ونحو ذلك كل ذلك حرام حيث قصد به التقرب إلى الجن بل إن قصد التعظيم والعبادة له كان ذلك كفرا-والعياذ بالله- قياسا على الذبح للأصنام المنصوص فى كتبهم.
وأما مجرد التصدق بنية التقرب إلى الله ليدفع شر ذلك الجن فجائز ما لم يكن فيه إضاعة مال مثل الإيقاظ المذكور انفا, فإن ذلك ليس هو التصدق المحمود شرعا كما صرحوا أن الإيقاد أمام مصلى التراويح وفوق جبل أحد بدعة.
قلت : حتى إن مجرد التصدق بنية التقرب إلى الله لا ينبغى فعله فى خصوص تلك الأماكن لئلا يوهم العوام ما لا يجوز إعتقاده.
Tradisi yang sudah mengakar disebagian masyarakat yang menyajikan makanan dan semacamnya kemudian diletakkan didekat sumur atau tanaman yang hendak dipanen dan ditempat-tempat lain yang dianggap tempatnya Jin, dan tradisi lain seperti menyalakan beberapa lampu ditempat penyimpanan padi selama tuju hari yang dimulai dari hari pertama menyimpan padi tersebut, begitu pula tradisi-tradisi lain seperti dua contoh diatas itu hukumnya Harom, jika memang bertujuan mendekatkan diri kepada Jin,bahkan bisa menyebabkan kekafiran ( murtad ) jika sertai tujuan memuliaan dan wujud pengabdian.Keputusan hukum ini diqiyaskan dengan hukum penyembelihan hewan yang dipersembahkan untuk berhala yang disebutkan oleh Fuqoha' dalam kitab-kitab mereka.

Adapun jika sekedar bersedekah dengan tujuan mendekatkan diri pada Alloh untuk menghindarkan diri dari kejahatan yang dilakukan oleh Jin tersebut,maka diperbolehkan,selama tidak dengan cara menyia-nyiakan harta bendaseperti tradisi menyalakan lampu yang baru saja disebutkan,karena hal tersebut tidak termasuk dalam sedekah yang terpuji dalam pandangan syari'at, sebagaimana ulama' menjelaskan bahwa menyalakan lampu didepan tempat sholat tarawih dan diatas gunung Arofah itu dikategorikan bid'ah.

Saya katakan : Bahkan sekedar bersedekah dengan niat mendekatkan diri pada Alloh pun tak pantas dilakukan ditempat-tempat ditempat-tempat tersebut, agar orang awam tidak salah faham,lalu meyakini hal yang tidak seharusnya diyakini.

Referensi:
Bulghotut Thullab Fi Talkhishi Fatawi Masyayikhil Anjab, Hal : 90-91


Thursday, March 23, 2017

HUKUM RUWATAN

                           
HUKUM RUWATAN

Ruwatan adalah salah satu perbuatan haram, bahkan bisa menyebabkan kemusyrika , karena mengandung tawassul dengan arwah syaithoniyyah .
(مسئلة ك) جعل الوسائط بين العبد وبين ربه فإن صار يدعوهم كما يدعو الله فى الأمور ويعتقد تأثيرهم فى شيء من دون الله تعالى فهوكفر. وإن كان التوسل بهم إليه تعالى في قضاء مهماته مع اعتقاد أن الله هو النافع الضار المؤثر فى الأمور دون غيره فالظاهر عدم كفره, وإن كان فعله قبيحا.اهـ
“Menjadikan perantara antara hamba dan Tuhannya, bila pelaksanaannya seperti saat ia berdoa/memohon pada Allah akan terkabulnya keinginannya dan menyakini bahwa yang merealisasikan masalahnya juga perantara tersebut maka ia kufur karenanya, sedang bila ia menjadikan perantara pada Allah untuk memenuhi kebutuhannya dengan meyakini yang memberi manfaat serta musibah hanya Allah maka ia tidak kufur hanya saja perbuatannya tergolong jelek.”. [Bughyah al-Mustarsyidiin hal 249 ].

اما وضع الطعام والازهارفي الطرق والمزارع اوالبيوت لروح الميت وغيره في الايام المعتادة كيوم العيد ويوم العيد ويوم الجمعة وغيرهما فكل ذالك من الامورالمحرمة ومن عادة الجاهلية ومن عمل اهل الشرك اهـ
“Sedangkan meletakkan makanan dan aneka kembang dijalan raya, sawah-sawah, rumah-rumah untuk ruh orang yang telah meninggal dihari-hari tertentu yang dibiasakan seperti hari raya, hari jumah dan selainnya kesemuanya tergolong perilaku yang diharamkan, kebiasaan orang-orang jahiliyyah dan perilaku orang-orang ahli syirik.”. [ Siraaj al-‘Aarifiin hal 57 ].
واتفقوا على أن ما كان من جنس دعوة الكواكب السابقة أو غيرها أو خطابها أو السجود لها والتقرب إليها بما يناسبها من اللباس والخواتم والنجوم ونحو ذلك فإنه كفر وهو أعظم أبواب الشر –إلى أن قال- ولا يجوز الإستعانة بالجن في قضاء حوائجه وامتثال أوامره وإخباره بشيء من المغيبات ونحو ذلك. اهـ
“Ulama sepakat bahwa perbuatan sejenis menyeru pada planet-planet, berkomunikasi, sujud, ibadah padanya dengan hal-hal yang layak dengannya seperti aneka pakaian, cincin, bintang-bintang maka termasuk perbuatan kufur dan tergolong paling agungnya perbuatan kotor...Dan tidak boleh meminta pertolongan pada jin untuk memenuhi keinginannya, menjalani perintah-perintahnya, mempercayai berita yang mereka bawa dari alam ghaib dan lain sebagainya.”. [ Ittihaaf as-Saadah al-Muttaqiin II/286 ].
فائدة من ذبح تقربا لله تعالى لدفع شر الجن عنه لم يحرم أو بقصدهم حرم (قوله فائدة من ذبح) أي شيئا من الإبل أو البقر أو الغنم (وقوله تقربا لله تعالى) أي بقصد التقرب والعبادة لله تعالى وحده وقوله لدفع شر الجن عنه علة الذبح أي الذبح تقربا لأجل أن الله سبحانه وتعالى يكفي الذابح شر الجن عنه وقوله لم يحرم أي ذبحه وصارت ذبيحته مذكاة لأن ذبحه لله لا لغيره (قوله أو بقصدهم حرم) أي أو ذبح بقصد الجن لا تقربا إلى الله حرم ذبحه وصارت ذبيحته ميتة بل إن قصد التقرب والعبادة للجن كفر كما مر فيما يذبح عند لقاء السلطان أو زيارة نحو ولي اهـ
“Faedah, barangsiapa menyembelih karena mendekatkan diri pada Allah untuk menolak gangguan jin maka tidak haram, bila penyembelihan karena murni menolak gangguan jin maka haram.(Keterangan barangsiapa menyembelih) baik unta atau lainnya dengan tujuan mendekatkan diri pada Allah karena ingin menolak gangguan jin, karena Allah lah yang maha mencukupi dengan mendekatkan diri padanya lewat cara menyembelih binatang dia berharap gangguan jin dapat terhilangkan.(keterangan bila penyembelihan karena murni menolak gangguan jin) artinya penyembelihannya bertujuan menolak gangguan jin bukan mendekatkan diri pada Allah maka haram sembelihannya dan sembelihannya dihukumi bangkai bahkan bila tujuannya mendekatkan diri dan ibadah pada jin maka ia kufur seperti keterangan yang telah lewat dalam masalah menyembelih saat bertemu pemimpin atau atau ziarah semacam wali”. [ I’aanah at-Thoolibiin II/349 ].

ومن الأول أيضا ما عم به الإبتلاء من تزيين الشيطان للعامة تخلية حائط أي بأن يخلقوه بالخلوق وهو نوع من الطب أو تخليط عمود وتعظيم نحو عين أو حجر أو شجرة لرجاء شفاء أو قضاء حاجة وقبائحهم في هذا ظاهرة غنية من الإيضاح والبيان. اهـ
[ Siraaj at-Thoolibiin I/110 ].

بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي - (ج 2 / ص 68)[فائدة]: حكم العرف والعادة حكم منكر ومعارضة لأحكام الله ورسوله، وهو من بقايا الجاهلية في كفرهم بما جاء به نبينا محمد عليه الصلاة والسلام بإبطاله، فمن استحله من المسلمين مع العلم بتحريمه حكم بكفره وارتداده، واستحق الخلود في النار نعوذ بالله من ذلك اهـ فتاوى بامخرمة. ومنها يجب أن تكون الأحكام كلها بوجه الشرع الشريف، وأما أحكام السياسة فما هي إلا ظنون وأوهام، فكم فيها من مأخوذ بغير جناية وذلك حرام، وأما أحكام العادة والعرف فقد مرّ كفر مستحله، ولو كان في موضع من يعرف الشرع لم يجز له أن يحكم أو يفتي بغير مقتضاه
[ Bughyah al-Mustarsyidiin Li as-Sayyid Ba ‘alawy al-Hadhramy II/68 ].

 Islam tidak mengenal istilah ruwatan karena ruwatan identik dengan kepercayaan pada hari-hari sial..Tidak ada hari pembawa sial karena dalam islam semua hari adalah sama..
من يسال عن النحس وما بعده لاجاب الاعراض عنه و تصفيه ما فعله و يبين قبحه و ان ذالك من سنة اليهود لا من هدي المسلمين المتوكلين على خالقهم و بارئهم الذين لا يحسبون و على ربهم يتوكلون. و ما ينقل من الايام المنقوطة و نحوها عن علي كرم الله وجهه باطل كذب لا اصل له فليحذر من ذالك
(الفتاوى الحديثيه)
"Barang siapa yg bertanya tentang hari sial dan sesudahnya untuk mendatangkan kehormatan dan memilih apa yg harus dikerjakan serta menjelaskan keburukannya,semua itu merupakan kebiasaan org yahudi dan bukan petunjuk org islam yg bertawakal pd penciptanya yg senantiasa tdk pernah menghitung thd Tuhannya serta bertawakal...


Friday, December 2, 2016

Membaca Surat Jin di Malam Hari, Jin akan Hadir

Sabtu, 03 Rabiul Awal 1438 H - 03 Desember 2016

Membaca Surat Jin di Malam Hari, Jin akan Hadir


Bolehkan kita membaca Surat Al Jin dimalam hari, untuk mengundang jin. Karena saya pernah mendengar cerita kalau Nabi SAW pernah didatangi oleh para jin ketika pada malam hari saat membaca Al jin. terima kasih

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pertama, Kami tidak menjumpai adanya riwayat yang berisi anjuran untuk membaca surat jin di waktu malam.

Riwayat shahih yang kami jumpai terkait surat yang dianjurkan untuk dibaca di malam hari, hanya ada 2 surat,

[1] Surat as-Sajdah
[2] Surat al-Mulk

Dalam hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لاَ يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ (الم تَنْزِيلُ) وَ (تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ)

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tidur sampai beliau membaca surat as-Sajdah dan surat al-Mulk. (HR. Ahmad 14659, Turmudzi 3135, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Kedua, jin pernah hadir ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca al-Quran 

Pernyataan ini benar, bahwa jin pernah hadir, mendengarkan dan memperhatikan bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan setelah itu mereka masuk islam dan menjadi da’i, mengajak bangsa jin untuk masuk islam.

Allah ceritakan ini dalam al-Quran,

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ . قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

“Ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (**) Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. al-Ahqaf: 29-30)

Ibnu Katsir membawakan riwayat bahwa ini terjadi ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat isya di daerah Nakhlah, di Ukadz. Di ayat lain, Allah juga menceritakan adanya jin yang mendengarkan al-Quran berikut testimoni mereka setelah mendengarkan al-Quran. Cerita itu Allah sebutkan panjang lebar di surat al-Jin,

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا . يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآَمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami. (QS. al-Jin: 1 – 2)

Sehingga isi dari surat al-Jin adalah cerita bahwa ada jin yang mendengarkan al-Qur’an yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kita tidak tahu, surat apa yang kala itu dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga didengar para jin. Dan tidak ada kesengajaan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membacanya di hadapan jin.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bercerita,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membaca al-Quran untuk jin, dan beliau juga tidak melihat jin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berangkat bersama beberapa sahabatnya menuju pasar Ukadz. Sementara ada penghalang antara setan dan berita langit, dan ada banyak panah api yang mengintai mereka.

Akhirnya merekapun saling bertanya di kalangan bangsa jin. Mereka sepakat untuk mencari di ujung-ujung dunia, apa yang membuat mereka terhalangi untuk duduk di langit. Ternyata mereka menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat. Mereka mengarahkan dugaan itu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan ketika mereka mendengar bacaan al-Quran, mereka memperhatikannya, hingga mereka masuk islam dan mengajak kawan-kawannya untuk masuk islam. kemudian Allah ceritakan kejadian ini dengan Allah turunkan surat al-Jin. (HR. Ahmad2271 & Muslim 1034)

Ketiga, bahwa di manapun kita berada, kita akan selalu disertai jin.

Kita tidak perlu mengundang jin, karena di sekitar kita selalu ada jin yang menyertai kita.

Dan bagi anda yang tidak bisa melihatnnya hendaknnya bersyukur, karena Allah jadikan anda manusia normal, yang tidak bisa melihat jin. Justru mereka yang bisa melihat jin, dia kondisinya tidak normal, yang seharusnya diobati. Demikian,

Allahu a’lam

Ustadz Ammi Nur Baits

(Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Tuesday, September 13, 2016

Tiga Jenis Jin



Ada sebuah Hadits yang membagi jin dalam 3 jenis. Yang pertama mempunyai sayap dan dapat terbang, bagaimana yang kedua dan ketiga?
  
***

Kunjungi kami di

www.rumahruqyah.com

Informasi dan Free Konsultasi Online:

WA 081282171204, pin Bb 2901EE02 (Only Chatting)

Hotline Service: 021- 8087-2602, 0851-0503-5459

Monday, September 12, 2016

Setan Mengendalikan Manusia?


Selasa, 11 Dzulqoidah 1437 H - 13 September 2016


Assalamualaikum wr.wb

saya mau tanya pak ustadz,

Apakah setan mampu mengendalikan tubuh manusia? hingga orang itu tak menyadari perbuatannya saat setan mengendalikan tubuhnya?

Terimakasih,

Wasalamualaikum wr.wb
Hamba Allah

Jawaban:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pertama, perlu kita tanamkan dalam diri kita bahwa tipu daya setan itu lemah. Allah Ta’alaberfirman,

 “Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS. an-Nisa: 76)

Sekuat apapun upaya setan untuk mengajak manusia berbuat maksiat, tidak mampu mengalahkan semangat dan tekad kaum Muslimin untuk menjalankan perintah Allah. 

Terlebih lagi ketika mereka bertawakkal, yakin bahwa Allah yang menanggung semua kebutuhannya. Sehingga tidak ada yang dia khawatirkan ketika menjalankan hukum Allah.

Allah berfirman,

Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (QS. an-Nahl: 98 – 99)

Lalu mengapa di sana ada maksiat?

 Setan sama sekali tidak mampu mengendalikan tubuh manusia. Setan tidak bisa memaksa orang untuk berbuat maksiat, atau mengganggu orang lain. 

Yang dilakukan setan hanyalah mengajak manusia untuk maksiat, dan mereka mengikutinya. Tidak lebih dari sebatas mengajak.

Sehingga yang terjadi, bukan setan memaksa mereka, tapi mereka tunduk kepada ajakan setan.
Sebagaimana yang Allah Firmankan,

Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS. an-Nahl: 100)

  Karena itulah, ketika Iblis berada di Neraka bersama para pengikutnya, dia sama sekali tidak mau disalahkan. 

Karena dia hanya mengajak, dan kalian – wahai penduduk neraka – mau mengikutinya. Maka salahkan diri kalian sendiri.

Dalam al-Quran Allah menceritakan pidato Iblis ketika di neraka,

Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diputuskan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sama sekali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan sekedar aku mengajak kamu lalu kamu mematuhi ajakankku, oleh sebab itu janganlah kamu mencela aku akan tetapi salahkan dirimu sendiri.” (QS. Ibrahim: 22).

Semoga Allah membimbing kita ke jalan yang benar, bisa menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangannya dan melindungi kita dari tipu daya setan.

Allahu a’lam.

Ustadz Ammi Nur Baits 

(Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sunday, July 3, 2016

Digoda Setan sampai Sakaratul Maut

Ahad, 28 Ramadhan 1437 H - 03 Juli 2016


 Diceritakan oleh Abdullah putra Imam Ahmad,

  Aku menghadiri proses meninggalnya bapakku, Ahmad. Aku membawa selembar kain untuk mengikat jenggot beliau. Beliau kadang pingsan dan sadar lagi. Lalu beliau berisyarat dengan tangannya, sambil berkata, “Tidak, menjauh…. Tidak, menjauh…”
 
beliau lakukan hal itu berulang kali. Maka aku tanyakan ke beliau, “Wahai ayahanda, apa yang Anda lihat? 

Beliau menjawab,

إن الشيطان قائم بحذائي عاض على أنامله يقول: يا أحمد فُتَّنِي، وَأَنـاَ أَقُولُ: لَا بُعْدٌ لَا بُعْدٌ

“Sesungguhnya setan berdiri di sampingku sambil menggigit jarinya, dia mengatakan, ‘Wahai Ahmad, aku kehilangan dirimu (tidak sanggup menyesatkanmu). Aku katakan: “Tidak, masih jauh…. Tidak, masih jauh….” (Tadzkirah Al-Qurthubi, Hal. 186)

  Maksud cerita ini, setan hendak menyesatkan Imam Ahmad dengan cara memuji Imam Ahmad. Setan mengaku menyerah di hadapan Imam Ahmad, agar beliau menjadi ujub terhadap diri sendiri dan bangga terhadap kehebatannya. 

  Tapi beliau sadar, ini adalah tipuan. Beliau tolak dengan tegas: “Tidak, saya masih jauh, tidak seperti yang kamu sampaikan….” tidak bisa kita bayangkan, andaikan ujian semacam ini menimpa tokoh agama atau orang awam di sekitar kita…

  Termasuk juga, kejadian yang pernah dialami salah satu ulama Kordoba. Seperti yang diceritakan Imam al-Qurthubi,

   “Saya mendengar guru kami, Abu Abbas Ahmad bin Umar di daerah perbatasan Iskandariyah bercerita: ‘Saya menjenguk saudara guruku, Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad di daerah Kordoba. Ketika itu beliau sedang sekarat. Ada yang mentalqin beliau: ucapkan: Laa ilaaha illallaah…

   Tapi orang ini malah menjawab: Tidak… Tidak… Setelah beliau sadar, beliau bercerita: ‘Ada dua setan mendatangiku, satu di sebelah kanan dan satunya di sebelah kiri. 

   Yang satu menyarankan: Matilah dengan memeluk Yahudi, karena itu adalah agama terbaik. Satunya berkata: Matilah memeluk Nasrani, karena itu adalah agama terbaik’. Lalu aku jawab: Tidak… Tidak…” (Tadzkirah al-Qurthubi, Hal. 187)

   Memang tidak semua orang mengalaminya. Ada yang mengalami kejadian demikian dan ada yang tidak mengalami. 

  Namun setidaknya ini menjadi peringatan bagi kita akan betapa mencekamnya sakaratul maut. Karena yang menentukan status manusia adalah ujung hidupnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

“Nilai amal, ditentukan keadaan akhirnya.”(HR. Bukhari 6493, Ibn Hibban 339 dan yang lainnya)

Semoga Allah menyelamatkan kita dari semua tipu daya setan.

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku di atas agama-Mu.

Wallahu'alam bish-shawab.

Thursday, June 16, 2016

Kiat Menjaga Rumah dari Gangguan JIN

Jum'at, 12 Ramadhan 1437 H - 17 Juni 2016 

   
 Rumah adalah salah satu bangunan yang dijadikan tempat tinggal selama jangka waktu tertentu. Rumah bisa menjadi salah satu bagian taman-taman syurga untuk kita berbagi kebahagian kepada   suami, istri dan anak-anak kita..

  Namun sebaliknya Rumah pun bisa menjadi bagian Siksa untuk kita jika didalamnya tak ada keharmonisan, kebahagian dan kasih sayang. Jika kita merasakan saat berada di dalam rumah tak nyaman sering bertengkar.

    Anak kita sering menangis tanpa sebab, dan berubah karakter kepada keburukan, bisa jadi itu pertanda rumah anda mengalami Gangguan JIN atau setan..

   Sebelum terjadi demikan, Berikut saya paparkan 13 Kiat menjaga Rumah kita dari Gangguan Jin Atau Setan:

1. Ucapkan Salam dan Basmalah sebelum masuk kedalam Rumah kita.
2. Membaca Basmalah saat akan makan dan Minum.
3. Hindarkan Musik , alat alat musik dan kemaksiatan dari dalam rumah.
4. Membaca Al Quran terutama surat al Baqoroh dan solat sunnah didalamnya.
5. Tidak membiarkan Rumah Kosong (dari dzikir ) selama 3 Hari.
6. Bersihkan Rumah dari Lonceng, Azimat, Tangkal dan benda-benda pusaka.
7. Jangan membiarkan salah satu ruangan didalam rumah anda kosong tanpa ada aktivitas lebih dari 3 hari.
8. Tutup Pintu, jendela saat matahari akan tenggelam dengan membaca basmalah, dan perintahkan anak-anak anda untuk masuk kerumah pada saat itu.
9. Tutup lemari makan atau wadah makanan / minum yang terbuka dengan membaca basmallah saat matahari akan tenggelam.
10. Hindarkan kata kata kotor atau cacian kepada siapapun didalam rumah.
11. Hindarkan rumah anda dari Gambar , patung , DVD music/ porno. kitab -kitab bid'ah dan Khurafat.
12. Membersihkan kasur, kemudian mengumpulkan kedua telapak tangan saat akan tidur dan Membaca Ayat Kursyi, Al Ikhlas,  Al Falaq, Annas. Meniupkan ketelapak tangan dan mengusapkannya keseluruh tubuh.
13. Saat Keluar Rumah membaca doa :

BISMILLAHI TAWAKKALTU ‘ALALLAAH, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.

Jika anda melakukan hal tersebut insya Allah, Rumah anda akan menjadi salah satu diantara taman taman syurga, yang kebahagiaan akan terpancar dalam kehidupan anda..

Barokallahufikum.

Syuhada Hanafi , S. Pd.I

*****

Silahkan dipraktikkan, semoga rumah kita terhindarkan dari gangguan syaithon. Ilmu ini juga mempunyai 2 manfaat, melindungi juga mengobati.

Bisa untuk rumah, tempat usaha, rumah makan, kantor dsb. Bagi yang ingin membutuhkan bantuan, Rumah Ruqyah Indonesia siap membantu ke seluruh Indonesia dan luar negeri. Insya Allah