Saturday, October 5, 2013

Keluar Ulat dari Telinga Bayi Berumur Dua Minggu

Bakri, 47 tahun.
Sejauh-jauh burung terbang, ia akan kembali ke sarang juga, kata pepatah. Kehidupanku tidak jauh berbeda dengan burung-burung yang berangkat pagi, pulang sore. Menembus cakrawala hingga berpuluh-puluh kilo, demi sesuap nasi, lalu kembali dengan tenang di sore hari.
Seperti burung-burung itu, aku juga seorang perantau. Jauh bermil-mil dari tanah kelahiranku, Cirebon, Jawa Barat. Bedanya, aku menetap hingga puluhan tahun di tanah rantau, di ibokota Sumatera Selatan, Palembang. Di sanalah, aku merajut hari, menanam harapan. Di sana pula, aku dipertemukan Allah dengan jodohku. Seorang wanita kelahiran Palembang. Jeng Nur. Begitu aku biasa memanggilnya.
Jeng Nur, tipikal seorang istri yang penurut. Demikian pula, ketika di awal tahun 2000, kuputuskan untuk kembali ke tanah kelahiran. Jeng Nur dengan setia mengikutiku. Ia tidak menolak. Meski keenam anak kami juga terlahir di Palembang.
Seperti burung yang kembali di sore hari, aku pun kembali ke pangkuan ibu pertiwi.
Saat main ke rumah orangtuaku, kulihat tulisan terpampang di papan pinggir jalan. "Rumah dijual tanpa perantara". Seandainya, kubeli rumah itu tentu sangat menyenangkan, pikirku. Lokasinya strategis, di pinggir jalan raya Blok A no 1. Solusi tepat bagiku yang telah mengajukan pensiun dini dari kantor. Aku ingin berwiraswasta. Dan tidak selamanya menjadi orang gajian.
Proses pembelian rumah itu berjalan lancar. Istri saya setuju, dan pemilik rumah itu pun sepakat dengan tawaran harga yang kusodorkan. Enam puluh lima juta rupiah. Bahkan ia bersedia mengurus semua surat-suratnya. Aku tinggal menunggu beres saja. "Kamu pulang ke Palembang saja, Sini KTP kamu, biar aku yang ngurus balik nama sekalian," katanya.

Sebenarnya, peminat rumah itu banyak. Sampai ada yang bermuka masam, ketika tahu rumah itu sudah berpindah tangan. Setelah rumah itu kubeli pun 'orang bule' masih ada yang datang. "Oh, saya suka sekali rumah ini," katanya. Tapi aku tidak mau menjualnya lagi. Aku ingin menjadikannya sebagai tempat tinggal sekaligus usaha.
Enam bulan setelah pembelian rumah itu, aku selesaikan semua urusan yang terkait dengan kantor lama, hingga aku bisa pindah dengan tenang ke Cirebon.
Siang dibangun manusia, malam dibangun jin.
"La ilaha illallah, jauh-jauh dari Palembang, kok nempati rumah kayak gini. Mau tidur di mana?" celoteh anak sulungku saat pertama kali melihat rumah yang baru kubeli.
Aku tidak menyalahkan anak-anakku, karena bentuk rumah itu memang kurang menarik. Rumahnya kecil dan nampak kurang terurus. Berbeda dengan rumahku di Palembang. Saat membeli rumah itu, aku memang tidak mempertimbangkan bentuk rumahnya, karena rumah itu akan segera kurenofasi.
 Untuk sementara aku dan keluargaku tinggal bersama orangtuaku, sampai menunggu rumah yang kurehap total. Kami terhitung keluarga besar dengan enam anak. Aku merencanakan membangun rumah dua tingkat.
Kebetulan aku mendapat tukang yang bagus, Pak Radi, namanya. Kupercayakan pembangunan rumah kepadanya. Ia bekerja dengan baik. Pembangunan rumah dua tingkat seluas seratus delapan puluh meter itu terbilang cepat. Biasanya dibutuhkan waktu empat bulanan. Rumahku selesai dalam waktu dua setengah bulan. Sampai ada yang nyeletuk bertanya. "Apa yang diwiridkan nihpak?" tanya seorang pekerja.
"Saya pakai doa Nabi Sulaiman," jawabku. "Emang kenapa?" tanyanya penasaran.
"Siang dibangun orang, malam dibangun jin," jawabku sekenanya. Aku tidak serius mengungkapkannya. Karena aku memang tidak merapal mantra atau mengamalkan lelakon tertentu. Ia terperangah. Ia kaget mendengar jawabanku. Padahal aku hanya bergurau. Orang-orang yang mendengar gurauanku pun tergelak tertawa.
Saat pembangunan rumah itu memang tidak ada peristiwa yang aneh. Hingga sampai pada detik-detik akhir penyelesaian, Pak Radi memintaku naik ke lantai dua. Di atas atap kulihat bendera merah putih berkibar-kibar, didampingi janur kuning dan beberapa benda lainnya.
Saat itulah aku diminta mengumandangkan adzan. "Pak, adzan Pak?" kata Pak Radi. "Adzan?" aku bingung juga mengapa harus mengumandangkan adzan. Padahal saat itu bukan waktunya shalat. Menurut Pak Radi memang begitulah kebiasaannya ketika membangun rumah. Di samping mengibarkan bendera atau janur kuning, juga dilantunkan adzan.
Entah apakah karena lantunan adzan itu, hingga malamnya aku bermimpi. Aku didatangi seerkor ular naga. Putih warnanya dengan lidah menjulur-julur. Naga itu hanya mendengus, setelah itu berlalu begitu saja. Selama ini, aku jarang bermimpi yang aneh-aneh. Malam itu, malam satu-satunya aku mimpi bertemu naga.
Pembangunan rumah berjalan lancar. Pada saat pindahan ke rumah baru, alhamdulillah, aku diantar rombongan jamaah masjid dan dititipkan ke jamaah masjid di tempat tinggalku yang baru. Selama ini, aku aktif di kegiatan masjid. Dan terbilang banyak temannya. Mungkin karena sifatku yang humoris dan mudah bergaul hingga mereka dengan senang hati mengantarku ke tempat yang baru. 
Muntah darah, lantaran infeksi kecil di usus
Rumah baru. Suasana baru. Harapan baru. Begitu yang kuharapkan kala menempati rumah sendiri. Kehidupan yang lebih harmonis antar anggota keluarga. Antar orangtua dan anak-anak.
Aku sadar, bahwa semua keinginan manusia tidak bisa langsung terkabul begitu saja. Ada masa sulit ada pula masa senang. Istriku sedari awal merasa tidak tenang tinggal di rumahnya sendiri. Ia lebih merasa nyaman tinggal di rumah orangtuaku. Padahal kondisi rumahnya sudah jauh berbeda. Layak huni dan tidak bising, meski berada di pinggir jalan.
Aku berusaha menenangkan istri. Bahwa itu perasaannya saja. Tidak perlu terlalu dibesar-besarkan. Toh seiring dengan perjalanan waktu serta keakraban dengan tetangga kiri kanan, akan merasa nyaman dengan sendirinya. Awalnya aku berpikiran bahwa istriku terkena home sick. Ia rindu dengan kampung halamannya, seperti kerinduanku dulu pada kampung halamanku.  Sampai pada titik ini, aku bisa memahaminya.
Setahun setelah menempati rumah baru, aku muntah darah. Padahal aku tidak sedang sakit. Malam sebelum muntah darah itu, aku sempat nongkrong bersama beberapa tetangga di anjungan depan rumah. Shubuh pun aku masih ke masjid. Saat itu, aku belum merasa ada yang tidak beres dengan kesehatanku. Aku sehat-sehat saja. bahkan sepulang dari masjid, aku mengantar istri belanja ke pasar. Naik motor.
Saat di pasar itulah, perutku sedikit melilit. Ah, karena lapar, pikirku. Aku memang belum sarapan. Aku pun mampir di warung makan. Kunikmati sarapan pagi itu dengan lahapnya.
Sepulang dari pasar, aku merasakan nyeri di perut. Dan tak lama kemudian, aku muntah. Bukan makanan atau air yang keluar, tapi darah. Merah. Aku terkejut, istriku pun menjerit. Aku segera bergegas ke kamar mandi. Di sana, kubiarkan darah itu keluar. Karena memang tidak kuasa kutahan.
Aneh, mengapa harus muntah darah? Padahal tidak ada yang aneh dengan diriku. Aku merasa sehat-sehat saja. dokter yang merawatku di rumah sakit pun dibuat keheranan. Pasalnya, setelah dilakukan scanning, ternyata hanya terdapat luka kecil di usus. Luka itulah yang mengeluarkan darah. Secara logika, jelas hal ini sulit diterima akal.
Akhirnya, untuk sementara aku menjalani rawat inap. Badanku mulai lemas, karena muntah darah masih sesekali terjadi. lima bungkus darah, habis dalam hitungan hari. Setiap tambah darah, justru HB (HaemogloubinCek ulang) turun. Kondisiku semakin kritis, akhirnya aku berpesan kepada istriku.
Lima kantong darah, sampai habis. Tiap nambah hb nya turun. Akhirnya saya berpesan, kalau saya nggak ada, titip anak-anak.' Nangislah istri saya. pulang ke palembang lagi.
Setelah ditambah dua kantong sekaligus, saya sembuh lagi. Sampai cerita orang-orang sini, ada orang cempaka arum ini, tiga yang muntah darah. Dua mati satu selamat. Pak dodi, kata mereka.
Dalam pikiran saya karena saya orang baru, saya tidak punya musuh. Jadi suudzan saya lepas. Saya tidak mau buruk sangka. Karena saya tidak punya musuh.
Setelah tahun ketiga, anak saya, tiba-tiba sakit. Menurut pengalaman dokter, anak seumur itu tidak mungkin menderita kangker dengan stadium berat. Itulah waktu perkenalan dengan ruqyah syar'iyah cabang cirebon.
Anak saya diruqyah dua kali oleh ustadz ya'qub dan haris. Mereka berpendapat, medis juga perlu dilaksanakan. Akhirnya saya jalankan dua-duanya. Akhirnya dioperasi. Sekilo setengah, keluar usus. Tumor sebesar telur angsa tiga biji. Dipotong.
Saya disuruh kemoterapi lima belas kali. Pengalaman sampai tiga kali saja, banyak yang tidak kuat. Saya nggak. Bismillah, kalau kata Allah, hidup, hidup saya bilang. Saya pakai jamu saja. saya pakai brotowali. Saya pakai pepahitan semua. Kebetulan, secara fisik, anak saya juga bagus. Alhamdulillah, Allah menyembuhkannya.
Yang namanya penyakit itu tidak dirasakan saja. Cuma dokter bingung. anak sekecil itu sudah kena tumor stadium tinggi. Jarang terjadi. bentuknya sudah seperti telur angsa.
Sakitnya mendadak. Katanya lima bulan. dalam waktu lima bulan kok sudah separah itu perkembangannya? Selain itu, benjolan itu juga bergerak-gerak. Berpindah-pindah dalam perut. Secara teknis dipotong.
Selain ruqyah di kantor cabang Majalah Ghoib, juga saya lakukan terapi di rumah.
Saya pensiun tahun 2000. menetap di palembang. Sesaat sebelum pindah ke sini, tidak ada masalah dengan teman-teman kantor. Tetangga baik-baik semua.
Muntah darah setahun setelah di sini.
Sebelum muntah darah itu, siangnya saya main tembak-tembakan, malamnya main gitar sama teman-teman di pos depan rumah. pagi shalat shubuh lalu ngantar istri ke pasar. Sampai di pasar, saya bilang, kok tidak enak perut saya. ah, belum makan ini, pikir saya. saya sarapan dulu di gunung sahari.
Sampai di rumah, kok semakin tidak enak perut saya. saya langsung muntah darah. Banyak sekali. Padahal yang luka hasil dari scaning itu kecil di usus.
Sejak pindah ke sini, aktifitas saya wiraswasta.
Waktu saya bangun rumah ini, saya kan naik suwung. Tukang bilang, pak tolong diadzanin.' Saya bilang, adzan kan untuk manggil orang shalat. Pikir-pikir mau bentrok sama tukang kan nggak enak. Saya adzan saja.
Malamnya itu saya mimpi didatangi ular naga. Mendesis-desis. Tapi saya tidak tahu. ini mau kenalan atau marah. Tapi setelah saya sembuh, saya malah dikejutkan oleh mimpi yang kedua. Saya didatangi oleh pangeran cakra buana. Saya dituntun ke syarif hidayatullah, sunan gunung jati. Saya dikenalkan. Saya salaman. Langsung,
Mimpi pertama dan kedua selang sebulan.
Sebelumnya banyak orang yang berminat, tapi uangnya kurang. Tidak diizinkan. Buat mereka yang tidak punya duit dibilang mahal. Bagiku tidak.
Ada cerita bahwa orang yang ngontrak di rumah ini, anaknya yang masih bayi di bawah tempat tidurnya itu ada ular dari besi. Kan kalau bayi itu dikasih parlak. Anaknya kan sakit terus.
Ini rumahnya dokter, tapi selalu dikontrakkan. Katanya selalu ada kejadian aneh. Yang persis tahu, karena saya kenal dia. Katanya anaknya yang bayi selalu sakit-sakitan, sampai katanya hidupnya anaknya itu saja nebus. Sekarang ujung-ujungnya saja anak saya kan juga bayi. Saya tidak tahu apa hubunganya.
Tapi saya hanya berpikiran begini, kalau ini merupakan bagian dari cara untuk mengurangi dosa-dosa saya. akhirnya saya bersyukur saja. daripada saya tuduh sana tuduh sini, bikin pusing saja. sementara di sini, saya tidak punya musuh. Saya orang baru.
Suka atau tidak suka,
Dari sisi tampilan fisik rumah itu ada yang menerawang nggak?
Menurut pendapat yang sempat saya dengar, katanya di rumah ini itu sarangnya ular. Rumahnya di sini. Keluar pintunya di situ, di rumah sebelah. Ular-ular itu main kemana-mana. Setelah itu kembali ke rumah ini lagi.
Itu penglihatan orang-orang di sini. Cerita lampau. Tadinya di sini.
Yang mengatakan di sini rumahnya ular itu ada yang paranormal ada juga orang-orang lama yang memang sudah lama di sini. Ini sudah menjadi legenda kalau ular itu dari sini, main ke seberang, setelah itu balik lagi ke sini.
Pintunya di sana, katanya rumahnya di sini.
Waktu itu ibu saya bermimpi, katanya rumah saya itu justru bagus. Saya tanya kenapa? Katanya rumah kamu itu balong. Banyak orang ambil air minum. Jadinya sepertinya tabrakan ya, yang satu bilang begini, yang satu begitu.
Orang-orang kraton menganggap daerah sini sebagai daerah … apakah itu juga ada kaitannya ke sana, saya tidak ngerti. Dari mulai arum sari itu katanya daerahnya ular.
Cuma saya tidak mengambil sebuah permusuhan.
Ya, saya perang dengan istri saya. 'mengapa kita harus mengalah dengan hal-hal seperti itu?' tapi saya kembalikan kepada Allah. Ya Allah, andaikan itu yang lebih baik, mengapa saya tidak hijrah. Rasulullah sendiri kan begitu. dalam kondisi yang membuat kita tidak nyaman dan kita bisa memilih dan halal mengapa tidak?
(istri) sejak pertama tinggal di sini, ribut saja.
perasaannya itu kurang nyaman. Saya tidak tahu. bukan karena saya (istri) orang palembang, terus saya tidak betah di sini, bukan. Apapun yang saya lakukan di sini itu tidak bisa langgeng. Misalnya, saya jualan, hari-hari pertama itu larisnya bukan main. Nanti sesudah itu tidak ada yang mau beli.
Kalau saya lagi laris-larisnya, saya pernah kejadian saya masak khas cirebon. Dari wajan itu saya suruh suami untuk mencicipinya, rasanya enak. Selang berapa lama kemudian, saya pindahin dari wajan, ke tempat cetakannya itu, rasanya asem. Sudah berubah total. Jadi tidak bisa dijual.
Kalau masakan sering sekali. Awalnya laku-laku sampai aneh. Kata orang, kalau hari pertama saya itu tidak bisa selaris ini, kalau ibu enak, begitu jualan langsung laku.'
Tapi setelah itu, ada saja makanan yang basi, yang inilah yang itulah.
Pembelikan selalu bilang ke saya (istri) ibu kok tutup?' saya kan tidak merasa tutup, jadi saya bilang, saya tidak tutup. Tapi dia ngotot, katanya warung saya tutup. 'ibu warungnya tutup.' 'buka, ente itu gimana sih? Ane buka, ente bilang tutup,' kata suamiku kesal.
Saya juga tidak mengerti. Saya punya pendapat saya tidak punya musuh. Tapi semuanya saya kembalikan kepada Allah.
Sejarah rumah.
Dokter itu kan buka praktek sama istrinya. Dokter kan pintar milih ya. Letaknya bagus, di pinggir jalan. Blok A no satu. Nomor teleponnya juga bagus,. Mudah diingat. Jadi kemudian, dokter itu mengalami kecelakaan. Akhirnya ia tidak jadi membuka praktik di rumah ini.
Rumah ini akhirnya dijualnya. Yang berminat itu banyak tapi tidak kesampaian. Saya dari palembang, cari-cari rumah, (65 juta) luas tanah 190. Cuma rumahnya tidak bisa dipakai.
Waktu saya ambil, ada yang mukanya masam. Kesimpulan awal, factor tempat, artinya siapapun yang tinggal di rumah ini akan mengalami gangguan itu. saya larinya ke sana, saya tidak mau menuduh orang lain.
Saya hanya berpikiran, orang yang ngontrak di rumah ini, dulu mengalami kejadian yang aneh. Tetangga belakang tidak ada yang mengalami keanehan. Tidak ada komentar tetangga tentang rumah ini.
Hanya waktu saya sakit mendadak saja, ada yang komentar. Tiga orang muntah darah, dua meninggal, satu selamat. Tapi bagi saya itu tidak berpengaruh apa-apa. umur itu ditangan Allah, kalau belum waktunya ya tidak akan meninggal meski apapun yang terjadi.
Selang pembangunan rumah lama dan pemugaran, sekitar enam bulan, pembangunan lagi tiga bulan. jadi total sembilan bulan. Setelah saya beli kan saya balik ke palembang. Telpon juga saya bayar dari sana. Setelah enam bulan saya baru ke sini. Saya rehab total. Selama tiga bulanan.
Saya dapat tukang yang bagus. Dua bulan setengah, waktu itu saya sempat bergurau. Orang-orang kan heran, rumah ini kok cepat sekali pembangunannya. Tingkat. Luas bangunan seratus delapan puluhan. Orang bangun rumah kan rata-rata empat bulan.
Orang sendiri heran. 'apa yang dianu ini pak?' tanya mereka. 'saya pakai doa nabi sualiman.' Saya bilang. 'kenapa?' siang dibangun orang, malam dibangun jin,' saya bilang begitu.
Tertawa semua. Padahal saya Cuma nyeletuk saja. 'masya Allah,' kata mereka. Saya hanya bercanda. Tapi nggak tahu mereka.
Ketika pembangunan rumah ini tidak ada yang mengalami gangguan apa-apa. setiap kali mencangkul, yang keluar air saja. mau buat septick tank, baru satu meter, sudah keluar air.
Tradisi di sini, kalau naik wuwung, yang ada genthong, ada benderanya.
Saya kan bingung, itu pakai apa? saya kan kalau sudah pakai tukang itu kan sudah saya serahkan semuanya ke tukang. Misalnya pimpinannya siapa gitu. Terus saya disuruh naik ke atas. Pak naik sini pak. Ke suwunan. Saya naik ke atas. Semua barang yang dibutuhkan itu sudah nempel di sana. Adzan pak. Katanya.
Itu kalau saya ambil maknanya, bendera ya sebagai lambang negara. Janur karena kelapa itu semuanya berfungsi.
Malam harinya, saya didatangi naga. Warnanya putih.
Ketika menempati rumah ini, saya syukuran. Saya bahkan diantar jamaah masjid tempat saya dititipkan ke jamaah masjid di tempat baru ini.
(istri) tidak sreg sampai sekarang. Yang namanya istri itu manut suami. Apalagi suaminya itu tidak macem-macem. Pokoknya nurutlah. Susah mau dibawa susah. Senang bersama-sama. Kalau persoalan bahwa di sini tidak puas, setiap orang pasti tidak puas. Apalagi bila jauh dari orangtua. Cuma saya pikir, setelah tinggal di sini agak lama kalau secara tenang, ya tenang di sini. Cuma barangkali Cuma itu ..
setelah saya sakit ada orang datangi orang pintar, dia kiai pondok pesantren. Kiai badrul. Saya kan ke sana. Wah kamu disenangi jin, katanya. Kamu disukai jin. minta dikawinin. 'gile, saya bilang. Masak namanya manusia kawin sama jin. jin itu tinggalnya di kamar mandi. Minta dibongkar saja, jangan dibikin kamar mandi. Buat ruang apalah katanya.
Ini lebih gila lagi, saya bilang. Ada jin memerintah manusia. Tidak ada saya bilang. Masak rumah sudah jadi begini disuruh dirombak. Apalagi senang sama saya. nggak masuk diakal. Bini gue manusia, mau diapain? Guyon-guyonnya begitu.
Aneh-aneh saja. ada yang senang sama saya, bangsa lain. Kan aneh itu. apa saya sudah melakukan sesuatu yang aneh-aneh. Sejauh ini, saya tidak punya mantra atau hidzib-hidzib. Saya hanya mengamalkan yang ada tuntunannya. Yang sedang-sedang saja. emang daya ingat saya tidak sehebat.
Saran kiai itu tidak saya lakukan. Wong rumah sudah jadi, mau dibongkar lagi.
Setelah itu saya tidak pernah datang lagi ke sana. Kesana setelah muntah darah.
Katanya, karena cemburu sama saya, itu saya dibuat sakit. Itu kata kiai.
Sebulan yang lalu, ada orang pintar datang ke sini. Kita tidak mengundangnya. Di rumah kamu itu ada pedang, katanya. Ada, kata saya. pedang china itu. ada naganya, katanya.
Ada naganya. Itu ikut terus kemana kamu pergi. Walau pedang itu ada warangkanya. Hawanya panas, katanya. Ini orang bisa kelihatan kayak begitu, darimana ceritanya. Saya sendiri tidak pernah lihat-lihat, kata saya.
Ente senang sama pedang ini. kalau ente senang, bawa. Dia cerita, katanya pedang ini dari dinasti ming, sudah membunuh lima belas orang, katanya. Apalagi sudah membunuh, bawa saja. gratis saja. pedang itu dibawanya.
Setelah pedang itu saya buang, saya tidak merasakan ini lagi. Keluar dari kamar kan, kena tiang dari pohon ini. tiap malam kaset ruqyah tidak pernah berhenti. Kalau saya habis tahajud, saya mau ke masjid, saya putar kaset ruqyah. saya pergi ke masjid. Di sana, saya juga tugasnya muadzin. Pulang dari masjid, masih bunyi.
Kamu sampai di mana, saya bilang. Saya putar kaset ruqyah terus. Tiap hari. Orang disini  sudah pada tahu.
Pertama kali putar kaset ruqyah, tapenya hancur.  Tidak bisa dipakai lagi. Bukan karena ada kucing. Atau naruhnya dipinggir. Yang namanya anak-anak, pada kabur semua. Pedang masih ada.
Saya memang senang barang-barang antic. Saya tidak tahu asal-usul pedang itu. bambu ini juga dikasih orang. Sekadar bambu. Aku sering lewat ladang, katanya. Tahu-tahu ada bambu ini. saya lewat situ nggak pernah tahu. tiba-tiba ada yang nyala. Saya dekatin, ternyata dari bambu ini. saya bawa saja ke rumah.
Setelah pembangunan rumah selesai, saya sekeluarga langsung pindah ke sini. Pernah anak saya sekali, setelah proses operasinya anak saya. istri saya bikin kue di situ, anak saya yang paling kecil, lewat. Ma, ma, itu ada yu dinda kok masuk ke sana? Katanya. Lari ke tempat cucian.
Nggak ada, kata istri saya. Cuma sekali itu. setelah rumah selesai, saya buat bisnis macam-macam. Pernik-pernik, hiasan perempuan, atk, baju-baju. Kerajinan tangan asal palembang.
Setelah dibuka pertama, ramai, lama kelamaan tidak ada yang beli. Sampai akhirnya saya ganti. Etalase saya jual semua. Rencananya samping rumah ini saya pakai kantor. Tapi nggak jadi.
Banyak yang bilang, katanya tokoku tutup. Apa saja bisnis yang kita coba, tidak ada yang langgeng. Akhirnya saya buat kesimpulan, orang lain saja yang buka usaha ini. tinggal bagi hasil saja. lancar akhirnya, seperti voucher ini, sampai sekarang lancar.
Pebisnis yang memanfaatkan rumahku tidak ada masalah.
Keluar Belatung dari telinga
Setelah anak saya dioperasi, saya tidak punya pikiran istrinya saya hamil. Karena sudah tujuh tahun tidak hamil. Tahu-tahu tiga bulan, setelah anak saya operasi saya konsentrasi ke istri saya. saya lihat capek sekali. Saya bawa ke dokter, ternyata positif hamil. Kaget saya. sudah enam bulan.
Berarti selama anak saya sakit, saya kurang memperhatikan istri.
Kalau orang hamil, biasanya nyidam, saya tidak begitu. enam anak saya itu tidak pernah menyidam. Yang nyidam itu suami saya. jadi istri saya tenang-tenang saja. baru ketahuan kalau hamil setelah enam bulan. saya bilang, alhamdulillah. Tuhan memberi kepercayaan lagi.
Dalam kondisi yang lagi semrawut, mertua, orangtua dan saudara tidak ada yang tahu. sampai proses lahiran. Begitu lahir, saya telpon. Bu dodi punya anak satu lagi. Selamat. 'hah, anak? Kapan hamilnya?' tanya mereka.
Anak dari siapa? Tanyanya lagi. Waktu operasi anak saya yang sakit tumor itu kan ibu mertua datang. Tapi tidak kelihatan tanda-tanda kehamilan. Malam jum'at jam setengah satu.
Saat hamil, biasanya kan tidak mau diam istri saya. ngepel, nyapu. Dia nyapu di lantai atas. Tangga belum sampai dikira sudah sampai di dasar. Perasaannya itu sudah habis, tahu-tahu masih ada tangga lagi, dia hampir jatuh. Badannya terjungkal. Alhamdulillah, otomatis pegangan pagar tangganya. Masih tetap terjatuh. Tapi tidak fatal. Perutnya tidak pas di bawah.
Karena pikiran saya jatuh seperti itu bisa keseleo, saya panggil dukun pijat. Orangnya sudah tua. Saya bonceng pakai motor. Baru masuk ke dalam rumah. dia gluyur-guyur sempoyongan, jatuh di tempat yang sama dengan jatuhnya istri. Saya berpikir, ini ada apa-apa nih. Akhirnya saya bawa istri ke tempat ruqyah.
Saya pikir, saya sendiri sudah, anak juga sudah, istri juga sudah. Waktu dibawa ke tempat ruqyah, saya menangkap kesan istri saya tidak serius. ia bermaksud mempermainkan ustadz.
Ketika dibacakan al-Qur'an, istri melirik ke saya, seakan tidak yakin. Begitu ustadz ngomong, 'hai jin yang berada di tubuh saudaraku. Bertaubat kepada Allah cepat keluar. Pilih jalan mana yang kamu pilih. Kaki perut. Keluar kamu. Kalau tidak, aku bakar dengan ayat-ayat al-Qur'an.
Istri saya langsung menangis. Jin nya bereaksi. Istri yang sedang hamil itu, perutnya bergerak-gerak. Istri saya menangis sesenggukan.
Selesai ruqyah, istri saya langsung tertidur. Kecapekan.
Pulanglah kami. Di rumah, saya gentian meruqyah istri saya. saya bacakan ayat-ayat al-Qur'an yang ada dalam panduan buku ruqyah. tangan. Saya tempelkan di perut. Saya baca terus, tahu-tahu pecah ketuban. Selesai baca doa.
Lahiran lah anak keenam. Setelah dua minggu, ada tamu datang. Sampai nabrak maghrib. Anak ditinggalkan di kamar. Dia menjerit menangis. Tiba-tiba keluar darah dari telinganya. Darah segar.
Kemarinnya baru ditindik. Pikir saya, karena baru ditindik. Saya panggil bidan yang lahirin kemarin. Nggak apa-apa, katanya. Tapi anak saya menjerit. Semalaman. Dia menangis. Selesai shalat malam, saya berdoa. Ya Allah, tolong, anak ini masih suci. Tidak berdosa. Kalau memang itu penyakit pasti ada gejala awalnya. Apa busuk atau apa.
Apa sebenarnya yang terjadi. tolong berilah jalan keluarnya. Saya pulang dari masjid setelah shalat shubuh. Anak saya masih menangis. Tiba-tiba begitu saya gendong, 'pa, pa ada yang bergerak-gerak di telinganya.
Saya bergerak otomatis, saya ambil kertas sedapatnya. Saya ambil yang bergerak-gerak itu. ternyata itu adalah ulat. Putih seperti susu, yang seperti ulat nangka. Yang kalau mau loncot begini dulu tuh.
Ukurannya pas dengan telinga anak saya. begitu keluar, saya setengah tidak percaya. 'Ya Allah, siapa yang ngirim ini?' begitu yang terpikir. 'saya tidak punya musuh, anak sesuci ini kok dimasukin seperti ini. kenapa tidak emak bapaknya saja diserang.
Saya lapin. Sudah tidak keluar darah lagi. Habis itu kita ruqyah lagi. Saya bawa ke kantor cabang. Barangkali masih ada yang lain. Samping saya telpon lagi bidan yang menangani anak saya. katanya, bu kata dokter, harus dirontgen kepalanya. Itu mungkin di kepalanya ada pembusukan. Kata bidan itu lagi.
'nggak, nggak. Kalau ada pembusukan tidak seperti itu, anak saya. 'tanggung sendiri nanti resikonya tidak mau.' Saya tolak. Saya tetap memilih ruqyah.
sepulang dari ruqyah, bidan itu datang lagi. 'wah, ini bener. Pasti ada pembusukan di dalam kepala.' Dia nakut-nakutin saja. saya tolak dengan halus.
Kalau sebelumnya itu telinganya bau atau apa, nggak ada apa-apa.
Sejak itu setiap malam habis maghrib sampai isya' saya ruqyah anak-anak saya. anak-anak saya jejer seperti pindang. 'dengerin papa. Ikutin. Yang satu saya pegang tangannya sambil berpegangan tangan. Lima anak dan satu  yang masih berumur dua minggu.
Dengerin. Ikutin.' Anak-anak mendengarkan dan mengikuti saya. sampai berkeringat. Saya lakukan sampai empat puluh hari. Terakhir agak berhenti, ketika buku panduan ruqyah kuberikan kepada orang lain yang datang ke rumah. jadi saya tidak punya buku itu  lagi berhentilah saya.
Habis diruqyah itu tidurnya ngeblek sampai berhari-hari. Seperti orang kecapekan saja. bangun-bangun minta minum tidur lagi. Saya takut juga.
Cuma selagi hamil ini, istri saya lagi masak di dapur. Istri saya kan bangunnya jam setengah lima. 'eh mama sembunyi-sembunyi makannya, sama dinda.' Yang lihat itu anak saya yang paling kecil.
Sejak disini perasaannya, anak saya itu sewot melulu. Mudah berantem dengan adik-adiknya. Yang namanya anak-anak, dulu juga begitu. tapi tidak seperti sekarang. Sampai akhirnya saya berpikir, untuk potong kambing di hara raya kurban atas nama anak-anak.
http://ruqyahmajalahghoib.blogspot.com/ 

Nyawaku nyaris terenggut tangan aparat

Alex 27 tahun, karyawan swasta
Lepas SMA, aku diterima kerja di perhotelan. Bagian pramusaji di café. Di sana, aku bertemu dengan sekian banyak orang yang berbeda latar belakang. Ada pengunjung yang memang murni menginap di hotel. Sebagian yang lain, ada yang memanfaatkannya untuk menikmati gemerlapnya dunia malam.
Kerja di café sendiri, kurasakan mengandung banyak resiko. Aku sering melihat teman-teman dipukul, dibentak atau diberlakukan dengan kasar oleh preman yang mabuk. Terlebih bila kami, pramusaji, harus mengantarkan makanan atau minuman ke night club, segala kemungkinan bisa terjadi.
Suatu ketika, ada seorang teman yang betisnya ditembak oleh Rio, pentolan preman. Hanya karena alasan yang sepele. Rio mabuk. Secara tak sengaja temanku menyinggung perasaannya. Penembakan itu menjadi berita besar di media massa.
Melihat segala kemungkinan buruk juga bisa menimpaku, aku mengiyakan saja, ketika teman-teman mengajak ke dukun. Dalam hati, aku hanya ingin menemani mereka. Tidak terbetik sedikit pun keinginan untuk mencari ilmu kebal, atau ajian pengasihan. Anehnya, setiap kali menemani teman ke dukun, aku selalu ditawari dukun ilmu kesaktian tanpa harus membayar.
Tawaran itu senantiasa kutolak. Ketika ke Lampung misalnya, teman-teman minta diajari ilmu kesaktian. Aku sendiri yang tidak meminta. Tapi teman-teman tidak ada yang dikasih. Anehnya, aku yang justru ditawarinya. Aku tidak tahu mengapa dia ingin mewariskan ilmunya kepadaku. Padahal kami baru bertemu. Tujuanku kesana juga sekadar menemani teman. Tidak lebih.
“Malam ini kamu tidur saja di kamar saya, nanti ilmu saya itu nurun sama kamu,” kata dukun yang sudah paruh baya itu dengan serius. Tapi aku tidak mau. Bukannya apa-apa, aku memang tidak ingin menjadi orang sakti.

Di Palembang pun sama. Entah mengapa beberapa dukun yang kukunjungi selalu ingin mengajarkan ilmunya. Hingga suatu ketika ada yang memberiku sebuah batu cincin. Ia tidak mengajarkan apa-apa. Hanya mengatakan, “Kamu tidak perlu tahu kekuatan batu ini. Kalau kamu tahu nanti kamu takabur. Biar nanti kamu rasakan sendiri.”
Batu seukuran dengan batu permata yang menghiasi cincin itu berwarna putih dengan rona kebiru-biruan di tengahnya. Batu itu kusimpan saja dalam dompet. Tidak kukeluarkan atau kubuatkan cincin.
Aku merasa biasa saja. Tidak merasakan adanya keanehan setelah menyimpan batu putih itu. Hanya saja, Bondan, salah seorang teman yang sering mengajakku ke dukun keheranan ketika main ke rumahku.
“Kamu pegang apa sih, kok rumahmu rasanya beda?” tanyanya.
Nggak. Aku nggak pegangapa-apa. Hanya ada batu ini,” kataku setengah tidak percaya. Lalu kuambil batu putih itu dari dompet dan kutunjukkan pada Bondan. Setelah sekian lama mengamati cincin itu, Bondan mengakui bila batu itu memang ada ‘isinya’.
Kerja di café itu sistimnya sip-sipan. Kadang masuk siang, lain kali tugas malam. Ketika bertugas malam itu secara tak sengaja aku menyinggung perasaan Rio. Preman yang dulu pernah menembak temanku. Aku tak sadar apa yang telah kulakukan, yang jelas, tiba-tiba Rio yang lagi mabuk itu mencabut pistolnya. Ia merengkuh badanku dan menempelkan ujung pelatuknya di kepalaku.
Untuk sesaat aku terperangah. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara orang-orang di sekelilingku secara reflek menyingkir. Mereka membiarkan kami berdua di tengah arena. Seakan kami adalah sepasang petarung di tengah arena yang dikelilingi penonton.
Hening dalam kebisuan. Sontak semuanya terdiam. Sesaat kami beradu pandang. Rio menatap mataku lekat-lekat, dengan jemari tengah siap mengokang pelatuk. Hingga tiba-tiba ia memelukku. Ia sarungkan pistolnya lalu memelukku sambil menangis. “Kamu adalah adikku,” katanya di tengah isak tangisnya.
Sontak semua yang mengelilingi kami keheranan. Mereka tidak menduga Rio bersikap seperti itu. Aku sendiri keheranan mengapa itu bisa terjadi. Setelah kejadian malam itu, aku bersikap biasa saja ketika bertemu Rio. Ia pun tidak lagi pedulikan diriku. Mungkin apa yang terjadi di malam itu karena pengaruh minuman keras, hingga Rio tidak menyadari apa yang telah dilakukannya.
Seorang wanita night clubnekat mau bunuh diri
Kerja di hotel memang banyak cobaannya. Dari yang namanya narkoba hingga main perempuan. Terus terang, di mata wanita, katanya, aku tergolong tampan dengan postur tubuh yang atletis. Di tengah lingkungan seperti itu, tidak sedikit wanita yang tertarik kepadaku.
Bahkan ada yang sampai tergila-gila. Lusi namanya. Ia wanita simpanan seorang pejabat tinggi. Mereka sering menginap di hotel. Sesekali aku yang mengantarkan makanan ke meja mereka. Hingga akhirnya Lusi terpikat kepadaku.
Suatu malam, Lusi datang sendiri ke hotel. Ia mencariku. Dan secara terus terang mengatakan ketertarikannya kepadaku. Waktu itu, aku masih nakal. Kuterima tawarannya, karena aku terpikat dengan uangnya. Selama itu, aku tidak pernah menggunakan ajian pelet atau apalah namanya untuk menggaet wanita. Tapi entah mengapa begitu mudah mereka tertarik kepadaku.
Demikian juga dengan Lusi, aku tidak pernah memeletnya. Setelah hubungan kami berjalan beberapa saat, pejabat itu mencium hubungan gelap antara diriku dengan Lusi. Ia datang sendirian ke hotel dan memintaku datang ke kamarnya. Di sanalah aku disidang dengan pistol di atas meja. Aku ditanya macam-macam tentang hubunganku dengan Lusi, tapi aku menyangkalnya. Kukatakan bila hubungan kami sebatas tamu dan pelayan hotel.
Aku merasa hidupku terancam. Pejabat itu memang berkata, “Aku tidak akan ngapa-ngapain sama kamu,” tapi ia mengatakan itu sambil meletakkan pistolnya di atas meja. Hati siapa yang tidak mengkerut. Ia memang tidak mengancam akan mencelakakanku. Tapi bisa saja, ia mengirim anak buahnya.
Aku mulai menjaga jarak dengan Lusi, hingga akhirnya Lusi meninggalkan pejabat tersebut. Mungkin ia juga diinterogasi seperti diriku. Setelah putus, Lusi datang menemuiku. Dia ingin agar hubungan kami terus berlanjut, tapi aku menolaknya. Aku tidak mau, karena aku merasa hidupku terancam bila masih berdekatan dengannya.
Lusi kecewa. Sedemikian kesalnya, hingga ia membanting hand phonenya. Arloji yang sedianya diberikan kepadaku juga diinjak-injak dengan sepatu haknya yang tinggi. Ia menangis dan merengek agar aku tidak memutuskan hubungan.
Tapi aku kekeh menolak. Aku tidak menganggap main-main ancaman pejabat itu. Aku belum siap mati. Setidaknya saat itu. Sampai akhirnya Lusi berniat mengakhiri hidupnya, ia mengambil potongan kaca dan hendak memotong urat nadinya. Untunglah, temanku dengan sigap memegang tangannya dan menghentikan kenekatannya.
Bergabung dengan gerombolan perampok
Lima bulan setelah peristiwa itu, aku mengundurkan diri dari hotel. Kutinggalkan Palembang untuk mengadu keberuntungan di kota kembang, Bandung. Berangkat berempat dengan teman-teman satu band. Sejak SMA, aku sudah membentuk band bersama teman-teman. Aku didaulat sebagai vokalis. Selama kurun waktu itu, bisa dibilang, band ku sudah punya nama. Aku sering manggung di café, pesta ulang tahun atau acara-acara tertentu.
Kami memilih Bandung, karena dari sana banyak grup band yang meraih sukses. Namun, harapan itu tinggal harapan. Di Bandung, bukannya menuai keberhasilan. Sebaliknya grup band yang kurintis bersama teman-teman layu sebelum mekar. Kami terjebak dalam mata rantai narkoba, hingga cita-cita awal terabaikan.
Dua orang temanku kembali ke Palembang, sementara aku menetap di Bandung. Aku kos rame-rame dengan sekumpulan teman dari Palembang. Setiap kali bertemu dengan mereka, aku heran, ternyata teman-temanku itu uangnya berkecukupan, kalau tidak boleh dibilang berlimpah.
Mereka seakan tidak pernah kehabisan uang. Padahal, aku tahu apa yang mereka lakukan. Kerjanya adalah menghambur-hamburkan uang di dunia malam atau arena perjudian. Mereka juga tidak punya pekerjaan yang tetap. Yang mereka lakukan untuk memenuhi hasrat mereka adalah dengan menjambret atau merampok.
Awalnya, aku bertahan dengan idealisme untuk tidak terlibat terlalu jauh dengan mereka. Hubunganku hanyalah sebatas teman biasa. Namun, desakan ekonomi dan belum adanya pekerjaan yang bisa dijadikan pegangan akhirnya membuyarkan idealisme itu. Aku larut dalam suasana.
Mulailah, aku belajar dengan mereka. Mula-mula menjambret di terminal atau tempat ramai lainnya, sampai akhirnya ikut dalam rombongan perampok. Biasanya, kami memilih rumah yang sering ditinggal penghuninya keluar kota.
Dalam perampokan itu memang tidak ada yang dianggap sebagai ketua secara permanen. Karena yang disebut sebagai ketua perampok adalah yang memiliki ide untuk merampok rumah tertentu. Dia yang telah mengadakan survey, rumah mana hendak dijadikan sasaran.
Selanjutnya ia memilih siapa saja yang diajak bergabung. Dalam setiap perampokan biasanya beranggotakan empat orang. Hasil rampokan itu kemudian dibagi rata di antara anggota yang ikut merampok. Yang dibagi itu pun barang-barang berharga seperti televisi atau motor misalnya. Sedangkan untuk perhiasan atau barang-barang kecil yang bisa jadi tidak diketahui oleh anggota perampok lainnya dianggap menjadi hak milik orang yang mengambilnya. Bila ia berkenan memberikan bagian kepada yang lain, dipersilahkan dan jika ia mau menikmatinya sendiri juga tidak apa-apa. Hal semacam ini sudah dianggap sebagai hokum yang tak tertulis dan dipatuhi setiap anggota.
Suatu saat ketika aku sedang pulang kampung, tempat kosku bersama teman-teman digerebek polisi. Katanya, terjadilah aksi baku tembak dengan polisi, hingga akhirnya dua anggota perampok tewas tertembus timah panas. Satu di antara dua tertembak dengan mengenakan jaketku.
Itu adalah jaketku yang dipinjam sebelum aku pulang kampung. Padahal saat itu, ia tidak ikut dalam aksi perampokan. Mungkin polisi sudah lama mengincar tempat kosku dan teman-teman.  Hingga akhirnya dilakukan aksi penggerebekan itu.
Tiga hari setelah penggerebekan itu, aku baru mendapat informasi dari temanku yang  pulang ke Palembang. Ia mengatakan, sebaiknya aku tidak perlu kembali ke Bandung, karena tempat persembunyianku dan teman-teman sudah digerebek polisi. Dua anggota kami juga sudah tewas.
Aku menuruti saran temanku. Dan mulailah kujalani kehidupanku di Palembang. Aku kembali kerja di hotel. Meski tidak di hotel yang dulu. Aku juga masuk kuliah di perguruan tinggi swasta.
Aku seakan memutar jarum jam. Apa yang dulu kujalankan di hotel yang lama, kembali kugeluti. Pada saat yang bersamaan, aku juga berpacaran dengan adik kelasku. Evi namanya, gadis cantik berambut panjang itu menjadi rebutan beberapa lelaki.
Perebutan cinta yang memanas, sampai akhirnya melibatkan klenik. Aku yang berhasil menggaet Evi, menjadi sasaran santet orang-orang yang ingin merebut cintanya.
Suatu sore menjelang Maghrib, tiba-tiba kaca lemari dan tremos air pecah.  Beberapa hari kemudian, aku merasakan kesakitan seperti ditusuk jarum setiap waktu shalat. Aku memang tidak pernah shalat. Tapi setiap waktu shalat itu aku selalu kesakitan.
Aku berobat ke dukun. Namanya Poli. Ia lebih setahun dariku. Katanya, ada orang yang menyantetku. Dia mengerjaiku setiap habis shalat. Beberapa minggu, aku diterapi Poli sampai sembuh. Hubungan kami pun berlanjut tidak sekadar antara pasien dengan dukun, tapi antara guru dengan muridnya.
Ya, perlahan, aku diajari bagaimana menguasai ilmu pelet, ilmu harimua atau ilmu kesaktian lainnya. Evi yang sudah beralih ke pemuda lain itu coba dikembalikan kepadaku. “Mana HP kamu. Sebentar lagi dia nelpon ke HP mu,” katanya.
Benar. Beberapa saat kemudian, HP ku berdering.  Nama Evi muncul dilayar. Kukatakan bila besok aku ingin ketemu di kantor. Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan Evi menemuiku di kantor. Ia meminta maaf bila telah berpaling ke lelaki lain.
Evi pun kembali ke pangkuanku. Pemuda yang mengirim guna-guna kepadaku itu pun kecewa. Mungkin karena tidak lagi mampu mencelakanku hingga ia beralih mencelakai Evi. Badannya disiram dengan cuka. Untunglah hanya mengenai pakaian di bagian punggung dan tidak sampai melukai kulitnya. Kekerasan terhadap wanita itu pun berbuntut panjang, hingga akhirnya pemuda itu masuk ke dalam penjara.
Taubat
Karena merasa bosan kerja di hotel, aku mengajukan lamaran ke perusahaan perminyakan. Alhamdulillah, aku diterima kemudian ditempatkan di Jambi.  Dari Jambi, aku ditugaskan ke Balikpapan.
Ketika di Balikpapan itulah, aku mulai menghindari narkoba. Shalat yang telah sekian puluh tahun kutinggalkan, kembali kujalani. Kesadaran untuk shalat itu muncul begitu saja. Sekitar awal tahun 2004.
Entah apa hubungannya dengan kekuatan ilmu pelet, yang jelas beberapa hari setelah melaksanakan shalat, Evi yang telah menjalin cinta denganku sejak tahun 1999 tiba-tiba memutuskan untuk berpisah. Ia akhirnya menikah dengan lelaki lain.
Setelah menjalankan shalat itu juga tiba-tiba aku lumpuh. Waktu itu aku sedang jongkok. Mau berdiri lagi, tapi tidak bisa. Padahal aku tidak melakukan aktifitas yang membebani urat syaraf. Sampai akhirnya aku dievakuasi ke rumah sakit.
Dokter bingung mendiagnosa sakit yang kuderita. Katanya, ginjal. Pemeriksaan berikutnya, katanya, usus buntu. Sampai akhirnya aku cuma dibilang kram otot saja. Tapi anehnya, ketika aku tidak shalat, aku tidak merasakan adanya gangguan kesehatan. Aku sehat seperti biasanya. Tapi ketika shalat, ada saja gangguan fisik yang kuterima.
 Setelah masa kontrak di Balikpapan habis, aku balik ke Palembang. Di sana, aku membuka rental play station. Aku mulai rajin ke masjid dan secara perlahan, aku berhasil meninggalkan narkoba yang telah sekian tahun akrab denganku.
Mulai ada rasa tenang. Omonganku juga mulai didengar orang. Yang biasanya slengekan mulai ada tatakramanya. Kubuat peraturan ketat di rental. Ketika tiba waktu shalat, untuk sementara rental ditutup. Selain itu, pelanggan tidak diperkenankan membawa makanan atau minuman ke dalam tempat play station. Semua itu untuk menghindari adanya pelanggan yang membawa narkoba.
Tahun 2006, aku dikenalkan dengan seorang gadis asal Palembang yang menetap di Jakarta. Zulaihah, namanya. Tak lama setelah perkenalan itu aku kembali mendapat panggilan kerja di perminyakan di Jambi.
Hubunganku dengan Zulaihah pun terus berlanjut, meski jarak memisahkan kami. Setelah masa kontrak di proyek habis, aku bulatkan tekat untuk melamar Zulaihah. Aku ingin membangun keluarga yang harmonis dengan seorang perempuan yang baik agamanya, baik akhlaknya.
Cukuplah kiranya pengembaraanku selama ini. Aku ingin mengakhirinya dan membangun mahligai rumah tangga yang diridhai-Nya. Pasca pernikahan, aku pindah ke Jakarta. Meninggalkan kenangan masa lalu untuk meraih masa depan yang lebih cerah.
Aku mengontrak di pinggiran kota Jakarta Timur. Awal-awal menetap di Jakarta, aku sering bermimpi didatangi ular dan Evi, pacar pertamaku. Waktu banjir besar melanda Jakarta, rumah kontrakanku juga ikut terkena imbasnya. Suatu siang, ada yang mengetok-ngetok pintu. Ketika kubuka, ternyata suara itu ditimbulkan oleh ular yang mematuk-matuk pintu. Entah apa maksudnya.
Ular itu kabur ke kontrakan sebelah. Kupanggil-panggil yang punya rumah, akhirnya ular itu pun mati di tangannya.
Di Jakarta, kesempatan untuk membaca buku-buku semakin banyak, pemahamanku kepada agama ini juga semakin meningkat, seiring dengan seringnya aku menghadiri majlis ta’lim dan menjalin persaudaraan dengan orang-orang shalih.
Aku mulai membiasakan diri untuk membaca doa sebelum tidur. Hasilnya, mimpi kedatangan ular maupun Evi tidak lagi datang.  
Kamis kemarin, aku shalat jama’ah di masjid. Aku ditawari Ustadz Bambang untuk ikut menghadiri ruqyah di masjid. Aku nunggu di luar ruangan. Ketika dibacakan ayat-ayat al-Qur’an, mataku terasa nanar. Keesokan harinya, aku disuruh datang ke rumah Ustadz Bambang untuk menjalani terapi ruqyah. Aku langsung reaksi.
Ustadz Bambang dan Ustadz Munif yang menerapiku sampai kewalahan. Cukup lama mereka berdua berusaha menenangkan diriku yang kerasukan jin harimau. Aku meraung dan mengamuk. Alhamdulillah, setelah sekian lama dialog dan dibacakan ayat-ayat al-Qur’an, akhirnya aku mulai sadarkan diri.
Selama ini memang, di punggungku terasa seperti ada koreng. Tapi tidak ada bekasnya. Rasanya itu gatal. Semoga dengan terapi ruqyah ini Allah memberikan keteguhan kepada diriku untuk senantiasa istiqamah di jalan-Nya. Semoga aku tidak lagi mudah terombang-ambing kepada kebimbangan yang pada ujungnya menjerumuskanku ke lembah hitam.
Semoga aku dan istriku diberi kekuatan untuk mewujudkan rumah impian. Baitii jannatii. Rumahku surgaku.
http://ruqyahmajalahghoib.blogspot.com/ 

Suara Iringan Jenazah Meresahkan Seluruh Keluarga

Kesaksian ibu Asti (30 tahun)

Aku lahir di Jawa Timur tepatnya di kota Jombang 30 tahun yang lalu.  Kota yang lebih dikenal dengan banyak kyai dan para santrinya.  Meski dibesarkan di sana bukan berarti aku juga memiliki pemahaman Islam yang memadai. Boleh dikata, aku nyaris tidak mengenal syariat Islam dengan baik.  Aku hanya mengetahui orang Islam itu yang penting shalat, puasa, dan mengaji. 
Aku dibesarkan di lingkungan keluarga yang berkecukupan secara ekonomi.  Kehidupan masa kanak-kanak dan remaja kulalui dengan mulus tanpa banyak kendala yang berarti.  Papaku memiliki usaha yang terbilang sukses sehingga aku bisa melanjutkan kuliah di sebuah kampus terkenal di kota Semarang. Aku menyelesaikan kuliah pada tahun 1999. 
Semasa kuliah tingkat akhir aku bekerja di kantor papa sebagai bekal pengalaman kelak.  Kenyataannya, pengalaman kerja yang kumiliki memang cukup membantu.  Akan tetapi roda kehidupan tidak selamanya berjalan mulus.  Anak buah papa, sebut saja namanya Nina, menghilangkan aset perusahaan yang nilainya cukup besar.
Meski Nina mau bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukannya, namun belakangan diketahui ada beberapa kejanggalan di balik hilangnya aset tersebut.  Diduga ada beberapa indikasi mistis di balik semua kejadian ini. Seperti ditemukannya taburan garam di rumah dan di kantor.
Hal ini menjadi awal petaka yang menimpa keluargaku.  Kehidupan keluargaku berubah karena papa tidak lagi bekerja di kantor yang dulu.  Ia diberhentikan dengan tidak hormat. Tanpa sepeserpun uang pesangon yang diterimanya.  Secara otomatis bersamaan itu pula aku keluar.  

Kondisi ini membuatku harus berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan agar bisa membantu keluarga.  Meskipun sebelum lulus kuliah banyak yang menawarkan pekerjaan kepadaku, tetapi dalam kondisi terdesak seperti ini aku justru sangat kesulitan untuk memperoleh pekerjaan.  Aku sempat berpikir mungkin saja ini ada kaitannya dengan Nina yang tidak suka melihat kesuksesan dan kebahagiaan keluargaku. Tapi, kupikir, tidak ada gunanya hanya meratapi nasib dan menyalahkan orang lain. Hanya menambah dan masalah saja. Aku tidak mau larut dalam kesedihan. Artinya, perjuangan untuk bertahan hidup tetap dilanjutkan. Meski dengan segudang tantangan.
Alhamdulillah akhirnya aku diterima kerja menjadi seorang SPG (Sales Promotion Girl) di sebuah perusahaan.  Hatiku mulai tenang. Setidaknya ada harapan untuk mengembalikan kebagiaan yang hilang itu.
Belum berselang lama, kunikmati suasana kerja yang baru. Aku sudah dihadapkan dengan masalah lain. Masalah klise. Masalah cinta dua anak manusia yang bertepuk sebelah tangan.
Seorang atasanku, sebut saja namanya Pras, menaruh hati kepadaku.  Mungkin karena tingginya intensitas pertemuan kami. Selain karena dia bertugas mentrainingku, kami juga terlibat dalam satu tim kerja sehingga komunikasi di antara kami tidak bisa terelakkan lagi. Witing trisno jalaran soko kulino, kata pepatah Jawa.
Lelaki yang dulu dikenal sebagai playboy kampus itu jatuh cinta kepadaku. Masalahnya, aku tidak merasakan getaran yang sama sehingga aku tak bisa menerima cintanya. Jujur, kukatakan ia bukan lelaki idamanku.  Dengan halus kutolak cintanya. Sebisa mungkin aku berusaha tidak membuat hatinya terluka. Aku tahu, tentu tidak mengenakkan bila ditolak cintanya. Terlebih dia seorang playboy, yang terkenal mudah mendapatkan 'gebetan' baru.
Aku masih menganggap wajar, bila sikapnya mulai berubah. Ia tidak lagi sebaik dulu. Tapi bagiku, itu lebih melegakan daripada aku harus berpura-pura mencintainya.
Terjebak dalam ikhtiyar yang salah
Pada tahun 2001 aku menikah dengan Mas Seno, seorang pria yang sangat kucintai. Masa penantian bagi seorang gadis sepertiku telah berakhir dan kini berganti dengan kebahagiaan yang menyelimuti seluruh keluarga.  Namun bayangan keindahan kebahagiaan rumah tangga yang kudambakan selama ini tidaklah semudah yang kuangankan. 
Aku dihadapkan pada kenyataan pahit. Awal pernikahan yang seharusnya menjadi samudra untuk mereguk kebagiaan bersama, justru laksana padang pasir yang kering. Di malam hari, kulihat Mas Seno seakan-akan bukanlah suamiku. Ia nampak seperti orang lain hingga aku enggan melayani hubungan lazimnya dua insan yang telah terikat jalinan suci.
Masalah demi masalah yang datang silih berganti dan kondisi kejiwaanku yang kacau membuatku mencari informasi tentang dukun yang mungkin bisa membantu menyelesaikan semua kemelut ini.  Aku memperoleh informasi tentang perdukunan tersebut dari sebuah majalah. Di sana tertulis dengan jelas alamat dan jenis keahlian yang mereka tawarkan seperti pasang susuk, penglaris, pelet, dan lain sebagainya.
Dari beberapa informasi yang kuperoleh, kuputuskan untuk mendatangi seorang dukun terkenal di Pati, Jawa Tengah. Namanya Pak Sati. Aku berangkat ke sana dengan ditemani suami dan ibu. Dengan satu niat, meraih kebahagiaan dalam berumah tangga.
Sebenarnya, aku ragu apakah langkah yang kutempuh ini benar. Karena dulu, sewaktu mengikuti pesantren kilat di sekolah, aku mendapat penjelasan bahwa datang ke dukun itu termasuk syirik. Karena itulah, aku langsung bertanya kepada Pak Sati, apakah kedatanganku kali ini termasuk syirik.
Dengan tegas Pak Sati menjawab, "Lha wong aku saja sudah lima kali haji." Jawabannya membuatku sedikit lega. Penampilan karyawannya yang berjilbab serta keberadaan mushalla menambah keyakinanku bahwa yang kulakukan tidak termasuk syirik. 
Pak Sati mengatakan, ada orang yang tidak ingin aku hidup bahagia bersama Mas Seno.  Katanya, ada yang mengirim sihir untuk menceraiberaikan rumah tanggaku.
Aku hanya diam termangu. Pikiranku menerawang ke belakang. Aku mulai berpikiran negatif dan menebak siapa pelakunya. Ini pasti ulah Pras, gumamku dalam hati.
Indikasi ini diperkuat dengan kondisiku yang enggan berhubungan badan dengan suami.  Aku juga mengalami frigiditas dan radang vagina.  Jadwal menstruasi menjadi tidak teratur serta terkadang keluar terus menerus tanpa henti.  Aku sudah berobat ke dokter dan psikiater namun tidak ada hasilnya.  Masalah-masalah kecil yang seharusnya menjadi bumbu dalam rumah tangga justru menjadi pemicu percekcokan hebat di antara kami.
 Oleh Pak Sati aku diberi tiga jimat berbentuk keris, tombak, dan golok. Katanya, masing-masing berfungsi untuk memperlancar rizki, pagar badan atau penjagaan dan pemancar aura agar terlihat lebih muda dan cantik.  Selain itu aku juga dialiri semacam sengatan listrik. Sebelumnya aku harus berwudlu kemudian membaca surat al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Naas. 
Pak Sati berpesan agar aku merawat jimat pemberiannya dengan baik dengan cara melakukan penjamasan(memandikan) setiap bulan Syuro. Bulan yang dikeramatkan oleh sebagian masyarakat Jawa.
Setelah kembali dari Pati, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku mengundurkan diri dari tempat kerja.  Selain masalah dengan Pras juga karena faktor kelelahan dan banyak waktu yang tersita. 
Derap langkah pengiring jenazah di tengah malam
Setelah keluar dari kantor, hatiku lebih tenang. Tidak ada lagi ketakutan atau perasaan tidak enak dengan Pras. Akhirnya aku bisa menikmati kehidupan yang berbahagia bersama suami hingga kami dikaruniai dua orang putra yang tampan dan lucu.  Saat itu aku benar-benar merasakan kebahagiaan sebagai seorang ibu muda dan merasa sempurna sebagai seorang wanita.  Putra pertamaku berusia 3 tahun sedangkan adiknya berusia 1,5 tahun.  Alhamdulillahsaat ini aku mempunyai usaha yang cukup maju tanpa melalaikan kewajibanku sebagai seorang istri dan ibu bagi kedua buah hatiku. 
Namun akhir-akhir ini kebahagiaan itu terusik kembali. Aku gelisah tanpa sebab serta sulit berkonsentrasi. Kegelisahan itu semakin menemukan titik puncaknya ketika shalat. Yang diawali dengan perasaan sering keluar angin. Akibatnya hatiku semakin tidak tenang. Aku pun mengulang wudhu hingga berkali-kali. Kalau hanya sesekali, mungkin aku tidak terlalu gelisah. Tapi kejadiannya selalu berulang ketika shalat.
Kondisi ini diperparah dengan kejadian pada malam menjelang Ramadhan 1427 H.  Sekitar pukul 21.00-22.00 aku beserta seluruh penghuni rumah yang terdiri dari suami, kedua putraku, dan dua orang pembantu mendengar suara langkah kaki pengiring jenazah diiringi bacaan tahlil, lazimnya pengiring jenazah ke pemakaman.
Kami tidak berani mengintip keluar dan memilih bersabar untuk bertanya kepada tetangga pada keesokan harinya.  Malam tersebut kami lalui dengan ketakutan yang mencekam dan keresahan luar biasa. Gelisah. Tidak bisa tidur. Putraku pun rewel terus.
Keesokan harinya, aku bertanya kepada tetangga apakah ada orang yang meninggal atau barangkali semalam mendengarkan suara iringan jenazah. Namun jawabannya nihil.  Tidak ada yang mendengarnya. Bahkan di antara warga sekitar rumahku pun tidak ada yang meninggal.
Taruhlah yang meninggal itu warga dari kampung lain, tapi jarak antara rumahku dan pemakaman sejauh satu kilo meter. Sangat tidak mungkin bila suara derap langkah pengiring jenazah itu terdengar sampai rumahku. Terlebih bila hanya keluargaku yang mendengarnya. Tak ada orang lain yang mendengarnya.
Sejak malam itu satu persatu kejadian aneh menghinggapi kehidupan kami.  Seluruh keluarga merasa ketakutan.  Kedua pembantu yang minta izin pulang dalam rangka lebaran jatuh sakit sesampainya di rumah masing-masing. Sakit yang tidak kunjung sembuh, seakan sengaja dihalangi agar tidak kembali ke rumahku. Akhirnya mereka datang juga, meski terlambat dari rencana semula.
Tidak biasanya, masakan di rumah cepat basi. Pagi dimasak, sore sudah berbau menyengat. Keanehan demi keanehan yang pada akhirnya membuat pembantuku mengambil langkah seribu. Mereka mengundurkan diri dengan alasan tidak lagi kerasan, padahal mereka sudah bersamaku selama bertahun-tahun.
Sejak terdengar iringan jenazah itu, nyaris tiap malam putra pertamaku rewel. Dia juga lebih sering menangis. 
Pernah dua kali ular berbisa masuk ke dalam rumah pada dini hari menjelang Shubuh.  Kami berusaha mengusir keluar, tetapi ular itu mbandel. Terpaksa kami membunuhnya meski disertai rasa ketakutan. Anehnya, pada pagi harinya kami menemukan tiga onggokan kotoran manusia. Menurut sebagian orang hal tersebut biasa digunakan sebagai media guna-guna.
Sinetron Astaghfirullah membuka mata hatiku.
Kejadian demi kejadian yang kami alami itu bermuara pada satu kesimpulan. Ada yang tidak senang dengan kebahagiaan kami. Mereka ingin menghancurkan kehidupanku. Lalu, kemana kami harus melangkah? Kembali mendatangi Pak Sati? Pikiran itu sudah mulai muncul. Sebelum akhirnya dihempaskan oleh saran pembantu yang pernah menonton sinetron Astaghfirullah. Ia menyarankanku mengikuti terapi ruqyah.
 Hatiku pun tergerak dan berusaha mencari informasi tentang ruqyah dari Majalah Ghoib yang dibawa oleh ibuku. Aku bersyukur, untuk mengikuti terapi ruqyah itu aku tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta. Di Semarang sudah ada cabangnya.
Akan tetapi perjalanan untuk melakukan ruqyah tidak semudah yang kubayangkan.  Ada saja rintangan yang menghadang.
Pernah suatu saat aku menyusul ibu dan adik yang lebih dulu berangkat ke Ghoib Ruqyah Syar'iyyah cabang Semarang. Namun, begitu aku menginjakkan kaki di halaman, aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Ketakutan yang aku sendiri tidak tahu sebabnya. Kucoba melawan, tapi rasa takut itu tetap bercokol. Hingga akhirnya aku yang menyerah. Aku memilih pulang dan membatalkan ruqyah.
Di rumah, kuberanikan diri untuk menghubungi Ustadz Ali yang menterapi di Ghoib Ruqyah Syar'iyyah cabang Semarang. Aku minta disediakan waktu yang luang untuk terapi. Hari, jam dan tanggal telah disepakati. Tapi lagi-lagi rencana ruqyah itu batal. Ada sesuatu dalam diriku yang sulit dijelaskan. Sesuatu yang selalu menghalangi untuk ruqyah.
 Akhirnya kutempuh cara lain. Giliran Ustadz Ali yang diundang ke rumah. Sekalian meruqyah kami sekeluarga sekaligus meruqyah rumah. Satu persatu anggota keluarga diruqyah termasuk dua orang pembantu.  Dari enam orang yang diterapi, hanya aku yang bereaksi. Aku merasakan kesakitan yang luar biasa, meski Ustadz Ali hanya membacakan ayat-ayat al-Qur'an. Sedemikian sakitnya hingga aku menangis, lalu tiba-tiba tangisan itu berubah menjadi tertawa sendiri tanpa dapat dikontrol.
Setelah selesai ruqyah ustadzpun memberi penjelasan bahwa ketika diruqyah tidak harus mengalami reaksi.  Akan tetapi bagi orang yang mengalami reaksi sudah bisa dipastikan bahwa ada gangguan.  Sedangkan bagi yang tidak bereaksi tetapi ada indikasi gangguan maka harus rajin membaca al-Qur'an secara mandiri atau melakukan terapi lanjutan.  Yang terpenting adalah setelah selesai terapi ruqyah orang yang bersangkutan merasakan ada perubahan ke arah yang lebih baik.  Ustadz juga menjelaskan bahwa inti dari ruqyah adalah membaca doa dan berdzikir kepada Allah.
Alhamdulillah setelah diruqyah, kedua orang pembantuku tidak lagi merasa ketakutan.  Kami diingatkan oleh ustadz agar senantiasa menjaga shalat dan selalu berdzikir kepada Allah.  Ustadz juga menjelaskan bahwasanya orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkannya dengan kemusyrikan, maka mereka akan mendapatkan perlindungan dari Allah.
Seminggu kemudian aku melakukan terapi lanjutan.  Pada ruqyah yang kedua ini aku masih mengalami reaksi tetapi sudah mereda dibandingkan ketika ruqyah pertama kali.  Setelah ruqyah aku bisa berkomunikasi dengan jin yang bersemayam di dalam tubuhku. 
Jin tersebut mengultimatum hanya mau keluar jika syaratnya dipenuhi.  Jin tersebut juga mengaku mau masuk Islam dan minta sesajen pisang serta kembang setaman.  Namun aku sudah bertekad untuk tidak melakukan sesuatu yang melanggar syariat Islam dan tidak ada tuntunannya dari Rasulullah.  Aku tidak menuruti permintaannya bahkan dengan kesadaran hati kubakar empat lembar jimat yang katanya berfungsi sebagai tolak bala hantu cekik. 
Hantu cekik adalah momok yang menakutkan warga Demak dan sekitarnya pada awal Desember tahun lalu.  Karena isu yang santer beredar bahwa hantu cekik sudah mendekati daerahku maka pembantuku berinisiatif mencari keamanan dengan meminta jimat.  Pucuk dicinta ulampun tiba, ketika pembantuku pulang ke daerahnya, ia dibekali jimat oleh keluarganya, yang terdiri dari empat lembar kertas yang harus ditempel di dinding rumah. 
Ada kejadian aneh ketika kami membakar jimat tersebut.  Awalnya, jimat itu dibakar di belakang rumah dengan mempertimbangkan arah angin supaya asap tidak masuk ke dalam rumah.  Namun yang terjadi malah sebaliknya. Asap berupa gulungan besar justru mengepul ke dalam rumah.  Akhirnya kami memindahkannya ke depan rumah, lagi-lagi asap mengepul masuk ke dalam rumah.  Meski demikian, kami tidak lagi ketakutan. Karena kami yakin melakukan hal yang benar. 
Sebenarnya kurang percaya dengan jimat dan kalaupun nekad ke orang pintar, hal tersebut dikarenakan kondisi yang kepepet.  Itupun aku masih pilih-pilih di antaranya orang tersebut harus beragama Islam, rajin shalat, ngaji, dan melaksanakan amalan-amalan lainnya.  Selain itu juga harus memakai doa dan ayat-ayat al-Qur'an.  Sesesat-sesatnya aku, tetap saja tidak mau mendatangi dukun ilmu hitam yang bukan Islam.  Hal itulah yang menjadi penyebab kenapa aku tidak pernah meruwat jimat, tetapi hanya sekadar memilikinya saja. 
Namun lagi-lagi dengan kepiawaiannya jin membisikkan kata-kata manis kepadaku.  Jin mengatakan bahwa dia ingin tetap bersemayam di dalam tubuhku untuk membantu agar usahaku laris, selalu menjagaku, dan juga membuat diriku kelihatan awet muda dan cantik. 
Aku jadi teringat dengan kejadian enam tahun lalu ketika pergi ke Pak Sati yang memberiku jimat tiga buah keris.  Akan tetapi aku sudah bertekad untuk tidak lagi tergoda dengan rayuan-rayuan jin yang justru membuat kehidupanku tidak tenang dan jauh dari ketenteraman batin.  Bahkan aku sempat mengatakan kepada jin dengan tegas: "Masa bodoh, kalo kamu ingin keluar, ya keluar saja.  Aku tidak peduli kamu mau Islam atau tidak.  Kalau mau ke neraka tidak usah mengajakku."
Sampai sekarang aku dan Mas Seno belum mengetahui secara pasti penyebab semua kejadian yang menimpa diriku sekeluarga.  Apakah akibat kekhilafanku yang pernah memanfaatkan jasa dukun atau karena ulah orang ketiga yang merasa iri denganku karena persaingan bisnis. Selama ini memang ada seseorang yang tidak senang dengan kemajuan usahaku bahkan ketika bertemu seringkali menunjukkan sikap kurang bersahabat dan memojokkan. 
Namun aku tidak mau bersu'udzon (berburuk sangka) kepada siapapun dan menyerahkan semua urusan ini hanya kepada Allah.  Bahkan andaikata Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk bertemu dengan Nina atau Pras, justru aku ingin meminta maaf kepada mereka, barangkali ada kesalahan yang tidak sengaja kulakukan sehingga membuat mereka ingin menyakitiku secara membabi buta. 
Yang jelas aku bersyukur karena keluhan-keluhan yang kurasakan selama ini berangsur-angsur membaik dan ketenangan pun mulai kuperoleh.  Aku juga merasa mantap untuk berjilbab.  Alhamdulillah sudah satu setengah bulan ini aku berusaha menyempurnakan diri dengan mengenakan busana muslimah.  Bahkan aku juga berniat bergabung dengan perkumpulan muslimah supaya bisa menambah pemahaman tentang keislaman.  Semoga Allah selalu membimbing dan melindungi keluarga kami dari setiap kejahatan jin maupun manusia.  Amien.

Tiga kali, aku nyaris diperkosa jin

Maria: (34 tahun) Ibu Rumah Tangga
Enam tahun lalu, aku menikah dengan seorang duda beranak satu. Sebut saja namanya Toni. Ia seorang pelaut. Waktu itu aku masih gadis. Usiaku baru 28 tahun. Untuk ukuran kehidupan kota besar seperti Jakarta, usiaku belum terlalu tua. Boleh dibilang masih belum terlambat menikah. Terlebih aku seorang wanita karir.
Aku bekerja di salah satu bank pemerintah. Sedemikian kuatnya keinginan untuk mengejar jabatan yang setinggi-tingginya, sampai terlintas dalam pikiran untuk tidak cepat-cepat menikah. Toh, tanpa bersuami pun aku dapat memenuhi kebutuhan hidupku. Begitulah prinsipku dulu. Meski tidak sedikit lelaki yang menyatakan cintanya, tapi aku enggan menanggapi mereka.
Suatu sore, telepon rumah berdering. Aku yang sedang asyik membaca tabloid dwi mingguan di sofa, dengan sedikit malas, bangkit mengangkat telepon. Rupanya, suara kakak di seberang sana. Suasana rumah menjadi ramai. Biasa, kalau sudah ngobrol di telepon, ada saja cerita lucu tentang Adit, keponakanku, yang berusia dua tahun.
Tiba-tiba Kakak nyeletuk, “Mar, mau nggak dikenalin dengan duda?” tanyanya dengan nada sedikit bergetar. Mungkin kakak takut menyinggung perasaanku.
“Duda?” tanyaku setengah tidak percaya. “Nggak ah,” tolakku. Sebagai gadis, otomatis, aku langsung menolak. Apalagi ia sudah memiliki satu anak, sementara istrinya pun masih tinggal sekota. Aku khawatir, kelak akan menjadi pergunjingan orang.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi besok bisa kanmain ke toko? Kebetulan Adit besok minta diajak sekalian ke toko,” tanya kakak. Tanpa curiga apa-apa, aku menyanggupinya. Apalagi sudah tiga minggu, Adit tidak main ke rumah. Aku kangen dengan bicaranya yang cadel.
Minggu pagi, aku bergegas ke toko kakak di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan keponakanku. Ulahnya yang menggemaskan membuatku tidak ingin berlama-lama di rumah.
      Pertemuan yang tidak terduga
Jarum jam sudah menunjuk angka sepuluh, ketika aku sampai di toko kakak. Kulihat Adit asyik berlarian di antara sela-sela stand toko ditemani seorang baby sitter. Kubelokkan langkahku ke arah Adit. Aku pun lebih senang menghabiskan waktu bersama Adit daripada di toko. Setelah satu jam bermain dengan Adit, aku baru menemani kakak menjaga toko. Sesekali ikut melayani pembeli yang melihat pakaian yang dipajang di etalase.
Selepas Dzuhur, kulihat ada tiga laki-laki yang masuk ke toko.  Tidak seperti pengunjung lainnya, mereka tidak begitu tertarik dengan pakaian yang ada. Mereka bahkan lebih senang berbincang-bincang dengan kakak. Aku yang sedang melayani pelanggan, diberi kode agar segera menemui kakak ketika sudah selesai melayani pelanggan.
Tanpa curiga sedikitpun, aku menghampiri kakak dengan tiga orang tamunya. “Maria,” kataku memperkenalkan diri. “Toni,” begitu kata salah seorang dari mereka menyebut nama.
Aku langsung teringat dengan obrolanku dengan kakak kemarin. Oh, ini rupanya yang namanya Toni. Seorang duda beranak satu yang hendak diperkenalkan denganku.
Saat itu, terus terang aku tidak begitu terkesan dengan penampilannya. Lusuh dan seakan terhimpit beban yang berat. Ia mengenakan baju berwarna merah. Sangat tidak serasi dengan warna kulitnya yang menghitam. Sepintas kulihat, ada kancing bajunya yang terlepas. Sementara pada sudut yang lain, bajunya sedikit robek. Itu pun dijahit dengan asal-asalan.
Bila Toni memang serius ingin berkenalan dengan seorang gadis, mengapa ia tidak memperhatikan penampilannya? Begitu pikirku dalam hati. Tapi biarlah, toh aku juga tidak berminat menjadi istrinya.  Aku pun ikut nimbrung dengan obrolan mereka.
Selang beberapa saat kemudian, Toni mengajak kami makan siang. Aku pun mengikuti mereka. Pekerjaanku yang mengajarkan untuk melayani pelanggan dengan baik, membuatku cepat akrab dengan Toni dan teman-temannya. Aku tidak merasa canggung atau kikuk, meski aku tahu maksud kehadiran mereka tak lain hanyalah memperkenalkanku dengan Toni.
Di sela-sela makan siang itu, Toni sempat menanyakan nomor teleponku, tapi aku enggan memberinya. Selama ini, aku tidak pernah memberikan nomor telepon kepada sembarang orang. Apalagi Toni yang nyata-nyata sudah menduda.
Setelah pertemuan dengan Toni, terus terang, tidak ada getar apa-apa dalam diriku. Karena kesan pertama yang ditimbulkan tidaklah sekuat yang diharapkan. Aku menganggap pertemuan itu hanyalah pertemuan biasa, sebagaimana ketika aku berhubungan dengan klien kantor. Tidak lebih.
Hatiku pun luluh lantaran kegigihannya
Esok malamnya, sekitar jam tujuh, Toni menelepon. Aku sempat terkejut mendengar nama di seberang sana yang memperkenalkan diri. Toni, darimana dia tahu telepon rumahku. Untuk sesaat, aku tertegun. Tapi selanjutnya, obrolan pun segera mencair. Aku memang tipe orang yang pintar mengobrol. Setidaknya itulah komentar teman-teman.
Obrolan malam itu, berlanjut pada obrolan-obrolan berikutnya.  Dalam sehari, bisa berkali-kali Toni menelepon, meski aku tidak menanggapi dengan serius. Tapi ia tetap berusaha menghubungiku. Ada saja bahan obrolannya. Ia sering membicarakan dirinya sendiri. Permasalahan yang selama ini membetot diri dan keluarganya ke dalam kehancuran.
Dalam hati, kupikir aku telah beralih profesi menjadi seorang psikiater. Mendengarkan atau memberi saran. Sedikit demi sedikit, berbagai informasi tentang Toni kugali dari beberapa orang yang kenal dekat dengan dirinya. Dari rekan kerjanya, yang kebetulan juga menjadi teman kakak, aku banyak mendapat informasi.
Dia adalah sosok pemimpin yang baik di mata anak buahnya.  Ia tidak segan mengeluarkan uang pribadi untuk membantu mereka. Bahkan ia berani menanggung biaya sekolah anak buahnya yang berprestasi. Sebuah sikap mulia yang tidak dimiliki banyak pemimpin.
Mengenai mantan istrinya, aku pun banyak mendapat cerita dari orang lain. Katanya, istrinya selingkuh. Alasan itulah yang melatarbelakangi mengapa kemudian, bahtera rumah tangga Toni kandas.  
Setelah sebulan berkenalan, entah mengapa aku mempunyai firasat bahwa Toni adalah jodohku. Meski saat itu, kami tidak berpacaran. Toni pun belum pernah main ke rumah.
Suatu malam, aku ngobroldengan mama di ruang tamu. Aku duduk di kursi, sementara mama duduk di sofa. Aku bertanya kepada mama, “Ma, gimana kalau Maria berjodoh dengan duda?” tanyaku dengan sedikit malu. Ada terbesit kekhawatiran bila mama langsung tidak setuju seperti penolakanku dulu.
“Dudanya, duda yang bagaimana dulu?” kata mama dengan bijak. Meski aku juga menangkap nada keterkejutan di sana. Selama ini, aku tidak pernah membicarakan lelaki di depan mama.
“Dudanya ditinggalin istri, ma,” jawabku.
“Kenapa ditinggalkan istrinya?”
“Istrinya yang selingkuh ma,” kataku mantap. Aku merasa sedikit mendapat angin segar dari pertanyaan mama tersebut.
“Duda itukan cuma status. Kembali ke orangnya lagi. Bujangan juga kalau memang tidak benar, juga tidak benar,” kata mama.
“Jadi, Maria boleh berhubungan dengan duda?” tanyaku.
“Boleh, asal kamu yakin kalau dia sudah bercerai.”
Aku yakin dengan status perceraiannya. Karena Toni sudah pernah menunjukkan surat perceraiannya resmi dari pengadilan agama.
Ketika mama memberi lampu hijau, mulailah Toni diizinkan main ke rumah. Saat ke rumah pun, Toni lebih banyak ngobroldengan mama. Aku sendiri tidak menghiraukan apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, setelah Toni pulang mama berkomentar positif.
“Orangnya baik kok,” kata mama. Itu adalah isyarat bahwa mama merestui bila aku mau menuruti keinginan Toni untuk menikah dengannya.
Selang beberapa hari kemudian, Toni yang sudah setahun tidak bertugas di laut, kembali mendapat tugas berlayar. Mau tak mau, ia harus meninggalkan anak semata wayangnya di rumah. Sementara hubungannya denganku pun belum menemui titik terang. Apakah aku menerima lamarannya atau tidak.
Di tengah himpitan suasana seperti itu, tiba-tiba Toni mengajakku bertunangan. “Kita tunangan yuk!” katanya.
Bingung juga aku menjawabnya. Sementara dia juga memiliki anak seusia empat tahun yang membutuhkan perhatian. Firda, panggilannya. Selama ini, Firda tinggal bersama dirinya. Kalau ditinggal berlayar, maka tidak ada yang mengawasi Firda dan merawatnya dengan baik. Memang masih ada pembantu. Tapi Firda tidak bisa diserahkan kepada pembantu seratus persen.
Karena beberapa alasan itulah, akhirnya kuputuskan untuk menerima pinangannya. Di sela-sela hari libur, aku biasa menyempatkan diri main ke rumah Toni, sekadar melihat perkembangan Firda dan mengurus beberapa keperluan rumah tangga lainnya yang memang sudah diamanahkan kepadaku.
Nah, ketika aku sedang bermain ke rumah Toni, tiba-tiba Santi, mantan istrinya Toni menelepon. Entah, bagaimana mulanya, dia tahu bila aku telah bertunangan dengan Toni. Katanya, ia sempat merengek-rengek minta rujuk kembali. Tapi Toni tidak mau.  
Setelah dua bulan berlayar Toni minta cuti sebulan. Komunikasi tetap berjalan dengan baik, meski jarak kami berjauhan. Seminggu sebelum cuti, Toni menelepon. Tidak seperti biasanya, ia langsung melamarku. Ia ingin resepsi pernikahan dilaksanakan dua minggu lagi. Terhitung seminggu setelah masa cutinya.
Terkejut juga aku mendengarnya. Terus terang, aku belum siap menikah secepat itu. Sementara sebulan lagi, adikku juga menikah. Mereka sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Sementara permintaan Toni hanya terbersit dalam hitungan hari.
Aku sempat bimbang. Terlebih keluarga Toni belum menerima kehadiranku seratus persen. Mereka masih menginginkan Toni menyaring benar-benar siapa wanita yang hendak dinikahinya. Mereka tidak berharap kejadian yang dulu terulang lagi.
Ketika kuceritakan lamaran Toni kepada mama, mama menindaklanjutinya dengan shalat istikhoroh. Mama meminta yang terbaik kepada Allah untuk diriku. Selang beberapa hari kemudian, mama bermimpi tubuhnya Toni diselimuti sinar. Mimpi itu menjadi sinyal yang positif bagi mama dan diriku untuk menerima lamaran Toni.
Masalahnya, sebulan lagi adikku menikah dan dirayakan. Sangatlah tidak bijak, bila aku juga meminta hal serupa kepada orang tuaku. Karena itulah, kuputuskan untuk menggelar resepsi pernikahan yang sederhana. Akad nikah diselenggarakan di Masjid Jami’ di Jakarta Timur lalu dilanjutkan dengan tasyakuran sekadarnya di rumah dengan mengundang tetangga.
Pernikahan yang tidak seindah bayangan
Ijab sudah dijawab. Pernikahan sudah disahkan. Seharusnya, aku berbahagia. Karena aku tidak lagi sendirian. Ada orang lain di sampingku yang siap berbagi dalam suka dan duka. Tapi masalahnya, semua itu seakan mimpi semu. Dalam kenyataannya tidaklah demikian. Dalam hitungan hari, rumah tanggaku mulai berantakan. Ada saja masalah yang membuatku kesal. Mas Toni, begitu aku memanggilnya, tidaklah berubah. Ia masih seperti yang kukenal dulu.
Masalahnya, dalam penglihatanku apapun yang dilakukan suamiku seakan salah dan salah. Di hadapan orang, kami kelihatan manis. Tapi kemanisan itu menyimpan bara.
Aku bersyukur, sebulan kemudian hamil. Aku berharap merasakan sesuatu yang berbeda dan sikap yang berbeda. Namun, yang kurasakan kebahagiaanku itu tidaklah sempurna. Aku merasa kurang diperhatikan. Aku yang ingin bermanja-manjaan dan diperhatikan, merasa selalu dicuekin. Karena itulah perjalanan rumah tanggaku tidak pernah sepi dari pertengkaran. Meski Mas Toni sedang berlayar dan komunikasi kami hanya via telepon pertengkaran senantiasa mewarnai kehidupan kami. Percakapan itu sering diakhiri dengan bantingan telepon.
Tiga bulan kemudian, aku mengalami peristiwa yang sangat tidak masuk akal. Waktu itu sekitar jam sepuluh pagi. Aku tiduran di kamar. Suara tv dan pembantu juga masih terdengar. Artinya aku masih terjaga. Tiba-tiba, entah bagaimana datangnya, ada seorang laki-laki ganteng. Sangat tampan. Belum pernah aku melihat seorang laki-laki setampan itu. Ia sudah berada di dalam kamarku. Tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Sosok itu berusaha memperkosaku. Aku berontak dan kemudian lari keluar.
Seminggu lamanya, aku menginap di rumah orang tuaku. Sampai kemudian, aku kembali ke rumah Mas Toni. Untuk kesekian kalinya, aku didatangi makhluk asing. Kali ini, sosoknya seperti yang divisualisasikan di tv. Badannya penuh bulu, bergigi runcing dan menyeramkan. Ia kembali berusaha memperkosaku. Aku berontak. Tapi dengan ringannya, ia meraih tanganku dan membanting tubuhku kembali ke kasur. Aku terus berontak dengan membaca surat-surat pendek yang kuhafal.
Sedemikian kuatnya perlawananku, sampai akhirnya kakiku terkilir. Terus terang, itu bukanlah ilusi. Karena aku juga merasakah hembusan nafasnya, cengkeraman tangannya.  Tiga kali hal itu terus berulang. Pada jam yang sama.
Ketika kuceritakan kepada Mas Toni, hasilnya, ia memanggil orang pintar ke rumah. Orang pintar itu bahkan sempat menginap. Katanya, jinnya ada dimana-mana. Ia juga mengatakan bila semua gangguan itu kiriman dari mantan istri Mas Toni. Padahal aku sendiri tidak bercerita apa-apa. Selanjutnya, ia memasang susuk berlian di wajahku. Sebenarnya, aku tidak mau, tapi Mas Toni sedikit memaksa agar aku mau memasangnya.  Aku juga dibekali dengan cincin permata untuk penjagaan.
Sejak itu, memang tidak ada lagi sosok ghaib yang ingin memperkosaku. Tapi tetap saja, keharmonisan rumah tanggaku masih jauh dari harapan. Pertengkaran demi pertengkaran menjadi pemandangan harian. Rasanya tidak nyaman, bila berlalu tanpa pertengkaran.
Puncak penderitaanku
Lima bulan setelah kelahiran anak pertama, aku hamil lagi. Genap lima bulan dari usia kehamilan, Santi yang sudah lama tidak terdengar beritanya menelepon. Kebetulan yang mengangkat sopir. Katanya, dia ingin berbicara denganku. Belum sempat aku mengucapkan sepatah kata, Santi langsung menyerangku dengan makian. Katanya, aku suka memukul anaknya. Aku tidak pernah memberi makan anaknya, kecuali kalau dia merengek dan masih banyak lagi ocehan lainnya.
Aku yang merasa tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan itu pun tak kuasa menahan diri. Makian itu kujawab dengan makian. Dia bahkan mengatakan, kalau aku tidak menikah dengan Mas Toni, aku tidak punya apa-apa. Aku akan tinggal di emperan pinggir jalan.
Hari itu Santi datang dengan saudaranya. Dia memaki-makiku lagi. Kalau tidak sedang hamil, mungkin sudah kuladeni dia berkelahi. Beruntunglah di waktu yang bersamaan, mama dan kakak perempuan Mas Toni bermain ke rumah. Mereka tidak tega melihat perlakuan Santi kepada diriku, sampai akhirnya mereka yang balik memaki Santi.
Pertengkaran itu pun diakhiri dengan ancaman. “Lihat deh Mar. saya bikin anak kamu lahirnya tidak benar,” katanya mengancam. Tidak hanya itu, ia juga mengusirku dari rumah. Katanya, aku tidak berhak tinggal di sana.
Sebagai seorang wanita yang memiliki harga diri, aku tidak sudi mendapat hinaan seperti itu. Siang itu juga aku pulang ke rumah orang tua. Dan kuputuskan untuk tidak lagi tinggal di rumah yang membawa petaka tersebut.
Malam harinya, aku tidak sadarkan diri. Mataku memang terbuka. Tapi aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tergolek lemas di atas ranjang dengan air mata mengalir. Orang-orang yang menjengukku pada membaca surat Yasin. Mereka khawatir bila ajalku sudah diujung tanduk.
Mas Toni dihubungi. Dia langsung pulang naik pesawat. Alhamdulillah, kesadaranku semakin membaik. Kepada Mas Toni, kukatakan bila aku tidak mau tinggal di rumah tersebut. Aku lebih memilih untuk tingal di kontrakan. Setelah melalui proses negosiasi yang panjang, akhirnya rumah tersebut dialih namakan kepada anaknya Mas Toni dengan Santi. Dengan catatan mereka tidak lagi mengganggu kehidupan keluargaku.
Setelah pindah ke kontrakan, aku terheran-heran, kok Mas Toni berubah sekali. Ia jauh lebih perhatian. Aku pun merasa tentram, nyaman. Rasanya beda sekali. Dulu yang tiap hari bertengkar, setelah pindah seminggu sekali juga belum tentu.
Dari sejak pertengkaran itu, perkembangan anak keduaku terhenti. Entahlah, apakah karena ancaman itu lalu aku stress atau karena sihir atau apa. Yang jelas, dokter sudah menyarankan agar aku harus makan yang banyak. Semua saran dokter sudah kuturuti, tapi tetap saja tidak ada perubahan. Sampai akhirnya anakku lahir dalam kondisi yang tidak baik. Bentuk kepalanya belum sempurna. Lambungnya kotor. Beratnya pun hanya dua kilo.
Dua hari kemudian aku baru diizinkan melihatnya di incubator. Saat itu aku sudah pasrah, “Ya Allah, kalau memang mau diambil, ambil saja.” Aku tidak tega melihatnya. Semua yang ada di badannya itu alat. Hidung dan mulutnya dipasang selang, sementara jarum infus masuk ke kepalanya.
Pertemuan dengan ruqyah
Sejak perselisihan Mas Toni dengan Santi memperebutkan rumah yang di Bekasi, Jawa Barat, aku merasakan adanya keanehan dalam diriku. Aku merasakan sakit yang berpindah-pindah. Aku pernah mengalami pendarahan yang parah, hingga demam tinggi sampai 40 derajat. Aku sempat dibawa ke rumah sakit. Anehnya, semua hasil tes laboratorium hasilnya negatif.
Beberapa orang pintar sempat kudatangi atau dipanggil ke rumah,tapi tidak ada hasil yang memuaskan. Sampai kemudian, teman menyaranku mengikuti terapi ruqyah syar’iyyah dari Majalah Ghoib.
Ketika diruqyah Ustadz Yasin, aku menangis. Badanku terasa gerah. Setelah diruqyah, aku merasakan adanya perubahan di wajahku. Bukannya membaik, tapi ada rona hitam di wajah. Wajahku memburuk. Bola mataku memerah. Yang terbayang saat itu, aku akan cacat seumur hidup.
Terus terang yang ada dalam hati adalah pandangan negatif tentang ruqyah.  Lho kok setelah diruqyah mukaku jadi hancur. Tapi setelah menjalani terapi ruqyah yang kedua, aku bersyukur, rona hitam di wajahku berangsur-angsur menghilang. Kehidupan keluargaku pun kembali normal seperti biasa.
http://ruqyahmajalahghoib.blogspot.com/