Saturday, October 5, 2013

Ajian pengasihan membawaku kencan dengan tujuh belas cewek

Lira, 22 tahun, karyawan swasta.

Play boy SMA. Lira pantas mendapat julukan itu. Ia suka bergonta-ganti pacar. Tak kurang dari tujuh belas cewek sempat mampir di hatinya, saat ia masih berseragam putih abu-abu. Fantastis. Tujuh belas bukan jumlah yang sedikit. Mengapa begitu banyak cewek yang tergoda? Apa rahasianya? Lira menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Jakarta. Berikut petikannya.
Palembang, 2.000
Hari masih pagi. Jarum jam baru menunjuk angka 10. Aku duduk di bawah pohon rindang di samping sekolah. Sudah lima menit kutinggalkan ruangan kelas dengan segala hiruk pikuknya. Aku ingin menyendiri, menghilangkan segala keresahan yang ada. Kupilih pohon rindang itu, karena tak seorang pun ada di sana. Sebagian teman memilih bermain bola. Ada juga yang bertahan di ruangan kelas atau ke kantin.
Keceriaan teman-teman yang bermain bola plastik di halaman sekolah tak lagi menarik perhatianku. Aku larut dalam kesendirianku. Aku terduduk lesu menatap sepasang muda-mudi yang duduk berdua di kantin sekolah. Linda dan Santo.
Kebersamaan mereka mengusik ketenanganku. Linda. Gadis manis itu sedang mengobrak-abrik perasaanku.  Kebersamaannya dengan Santo mengoyak-oyak hatiku. Mencabik-cabiknya hingga berkeping-keping. Aku tak menyangkal, bila hatiku tertarik dengan gadis berambut panjang itu. Rambutnya yang hitam tergerai bertambah manis dengan pipinya yang lesung.
Masalahnya, aku tidak punya keberanian untuk mengutarakan isi hatiku kepada Linda. Selama ini perasaan itu hanya kupendam sendiri. Perasaan malu dan rendah diri lebih menguasai diriku. Lantaran asal-usul diriku yang bukan berasal dari keluarga kaya. Tidak punya motor, seperti Santo atau teman-teman lainnya.

Ke sekolah pun hanya jalan kaki. Dengan uang saku yang pas-pasan. Untuk memenuhi kebutuhanku sendiri saja, masih kekurangan apalagi bila harus buat pacaran.  Secara materi aku memang kalah segalanya. Berbagai pikiran negatif itu membunuh semangatku.
Dentuman bel tanda berakhirnya jam istirahat membuyarkan lamunanku. Aku masuk ke dalam kelas dengan lesu. Tak ubahnya seorang pemain yang kalah dalam pertandingan. Hari-hariku pun terasa hambar. Semangat belajarku pun hilang.
Mata hatiku seakan telah tertutup oleh pandangan yang sempit. Untuk mendapatkan cinta seorang gadis bukan hanya mengandalkan kekayaan. Masih banyak peluang dan kesempatan untuk memikat hatinya. Sukses dalam pelajaran atau jago basket misalnya.
Aku ingat, dulu, aku pernah mengutarakan kata hatiku kepada seorang gadis teman sekelas. Sebut saja namanya Nia. Kukatakan kata hatiku, layaknya seorang laki-laki jagoan. Yang berani mengatakan apa adanya. Dengan dada membusung, kuungkapkan perasaanku. I love you, kataku mantap, ketika kami sedang berduaan di kelas.
Nia terperangah mendengar kejujuranku. Kutangkap guratan tidak percaya di wajahnya. Selama ini hubungan kami memang dekat. Dan aku pun tidak ragu-ragu menunjukkan simpatiku kepadanya. Masalahnya, Nia hanya menganggapku sebatas teman biasa. Tidak lebih.
"Maaf ya, Lira, aku tidak mau pacaran. Biarlah kita berteman saja," katanya setelah terdiam beberapa saat. Beberapa bulan sebelumnya, aku juga sempat mengatakan hal yang sama kepada gadis lain. Waktu itu pun cintaku ditolak.
Semenjak penolakan Nia, aku tidak berani mengutarakan kata hatiku kepada gadis lain. Aku hanya memendam perasaan itu dalam hati. Karena aku tidak ingin sakit hati untuk yang kesekian kalinya. Bukan karena tidak mau pacaran, Nia menolak cintaku. Tapi lebih disebabkan oleh keadaanku yang serba kekurangan. Buktinya, Nia sudah bergandengan tangan dengan cowok lain. Ia pacaran dengan Taufik, hanya berselang dua minggu setelah menolakku. Berkali-kali kulihat mereka berboncengan sepeda motor sepulang sekolah.
Aku berpacaran dengan tujuh belas gadis
Sebagai seorang remaja, yang terbiasa hidup keras, aku tidak mau menyerah. Kekuranganku secara materi tidak boleh membuatku larut dalam kesedihan. Aku bertekad untuk menjalani masa remaja seperti halnya teman-temanku yang lain. Berpacaran dan tidak minder, meski mereka juga tidak punya sepeda motor.
Kutempuh jalan pintas. Aku meminta bantuan kepada seorang dukun yang terkenal kesaktiannya di kampungku. Terus terang kukatakan bila aku ingin menjadi muridnya. Aku ingin seperti dirinya yang disegani dan menarik perhatian wanita. "Pak, saya ini orang susah. Jadi saya minta tolong, saya dikasih sesuatu agar punya keberanian mendekati cewek. Agar orang-orang segan kepada saya."
Gayung bersambut. Lelaki empat puluhan tahun yang biasa dipanggil Pak Sarno itu memenuhi permintaanku. "Datang saja ke rumahku malam Legi.  Jangan lupa untuk membawa bunga tujuh warna," katanya.
Meski awalnya, aku tidak mengerti mengapa harus membawa bunga tujuh warna. Tetap saja permintaannya itu kupenuhi. Pada malam yang dijanjikan aku datang tepat waktu. Jam sembilan. Setengah jam kemudian, Pak Sarno memulai ritual mandi kembang.
Setelah mandi kembang itu, Pak Sarno membekali diriku dengan minyak wangi yang harus dioleskan di alis sebelum keluar rumah. Selain itu, ia menyebutkan pantangan yang tidak boleh dilanggar. "Ada dua pantangan yang tidak boleh dilanggar,” katanya dengan mimik serius. “Pertama, tidak boleh berpacaran dengan wanita yang sudah bersuami. Yang kedua, tidak boleh melakukan hubungan di luar nikah," ujarnya sambil menyodorkan botol minyak wangi.
Kupenuhi saran Pak Sarno. Wiridan-wiridan yang harus dibaca setelah shalat pun kujalankan. Hasilnya, langsung terasa setelah lima kali mandi kembang. Rasa percaya diriku meningkat tajam. Aku tidak lagi merasa rendah diri di hadapan wanita, meski aku tetap seperti kemarin. Masih tidak punya motor, serta uang saku yang pas-pasan.
Sasaran pertamaku adalah Nia yang kuanggap telah meninggalkan luka yang mendalam. Ia yang kini telah berpacaran dengan orang lain, kembali kudekati. Di hadapannya, aku tidak menunjukkan rasa dendam atas penolakannya. Aku bersikap biasa, seakan tak pernah kecewa. Aku mendekatinya dengan ungkapan kata-kata lucu yang mengundang tawa.
Entah kenapa, pancinganku berhasil begitu mudah. Perangkap yang kupasang ditelan mentah-mentah. Perlahan namun pasti Nia mulai lebih memilih ngobrol denganku daripada dengan pacarnya.
Suatu hari, di saat jam istirahat, kuajak Nia ke samping sekolah. Di bawah pohon yang rindang. Di sanalah dengan tenang kuucapkan kata-kata manis, bahwa aku mencintainya. Kulihat matanya berkaca-kaca. Ia nampak senang mendengar pengakuanku. Sangat jauh berbeda dengan dulu, ketika untuk pertama kalinya kuucapkan kata cinta.
Nia pun tidak menolak, meski ia juga belum memutuskan ya atau tidak. Karena ia merasa masih menjadi kekasih orang lain. Dua hari kemudian, jawaban atas cintaku terdengar. Di tempat yang sama, Nia menyatakan cintanya. Ia juga mengatakan telah memutuskan cinta dengan pacarnya.
Hari-hariku berubah. Setiap ada kesempatan aku dan Nia selalu mojok berdua. Saat istirahat atau sepulang sekolah. Aku tidak mengajak Nia kemana-mana. Kami hanya ngobrol berdua di sekolah. Membicarakan banyak hal. Bercerita tentang apa saja.
Semakin lama, Nia semakin sayang kepadaku. Di sinilah niat jahat dalam diriku mulai muncul. Aku ingin membalas dendam atas perbuatan Nia yang dulu menolak cintaku. Aku ingin ia merasakan penderitaan yang sama. Betapa sakit rasanya patah hati.
Nia yang seakan tidak mau berpisah dengan diriku itu sengaja kubuat hatinya terluka. Kuputuskan cintanya. Nia menangis. Ia tidak mau bila harus berpisah denganku. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku tidak mau menarik kembali kata-kataku. Tinggallah berduaan dengan Nia menjadi kenangan tersendiri dalam diriku.
Selepas meninggalkan Nia, aku mencari sasaran baru. Siapa cewek yang dapat kudekati. Setelah pilah-pilih, aku menemukan seorang gadis yang masih berdekatan dengan Nia. Namanya, Trias. Ia teman dekatnya Nia. Selama ini mereka sering jalan berdua. Mereka teman karib.
Kupasang kembali jebakan yang sama. Dengan banyak bercerita yang lucu serta kepercayaan diri yang tinggi. Beberapa hari aku mendekati Trias hingga akhirnya berhasil juga. Kukatakan, bila aku sudah putus dengan Nia.
Aku juga tidak mengerti mengapa Trias mau menerima uluran tanganku. Padahal dia tahu aku dulu berpacaran dengan Nia. Dia tidak mengerti bila aku sengaja memperalat dirinya untuk menyakiti hati Nia.
 Saat jam istirahat, aku sengaja menemui Trias di kelasnya, ketika Nia juga ada di sana. Kuperhatikan, tatapan matanya. Ia kecewa dengan kedatanganku. Ia pun melengos dan meninggalkan ruangan kelas. Kesedihan Nia tak membuatku merasa bersalah. Aku enjoy saja ngobrol berdua dengan Trias.
Sejak itu, aku menjadi petualang cinta. Lepas dari satu wanita beralih ke wanita yang lain. Rata-rata mereka masih sekolah denganku. Meski ada juga yang berasal dari lain sekolah.
Pernah, dalam waktu yang sama aku berpacaran dengan empat gadis sekaligus. Gilakan? Tapi aku merasa biasa saja. Waktu itu aku tidak merasa bersalah, lantaran membagi cinta untuk empat wanita. Dua gadis masih satu sekolah denganku. Dan dua lainnya berbeda sekolah.
Saat perayan valentine day, aku bingung bagaimana cara menunjukkan simpatiku kepada empat gadisku dengan tetap menjaga rahasia. Masing-masing merasa diperhatikan tanpa ada yang merasa dikhianati.
Aku sempat bingung tujuh keliling. Sampai terlintas untuk tidak memberikan apa-apa kepada setiap gadisku. Tapi niatan itu kuurungkan. Aku meminta Rio, seorang temanku, untuk membeli empat bunga yang murah tapi bagus. Masing-masing seharga seribu lima ratusan. Kuminta dia memberikan satu bunga valentine kepada salah seorang pacarku.
Pada saat yang bersamaan, aku memanggil pacarku yang lain ke kamar mandi. Di sanalah kuberikan bunga valentine. Tak ketinggalan kubumbuhi juga dengan ungkapan kasih sayang. Untuk dua pacarku yang berbeda sekolah, tidak ada halangan yang berarti. Karena aku bisa janjian di tempat dan waktu yang berbeda.
Nah, untuk membagi waktu pertemuan dengan masing-masing pacarku,  aku tidak mengalami banyak kendala. Sepulang sekolah aku tinggal janjian untuk ketemu di sekolah. Di sanalah, kami ngobrol. Hanya saja, aku harus bisa membagi waktu yang tepat untuk dua pacar yang masih satu sekolah. Agar masing-masing tidak tahu. Untuk dua pacar yang lain sekolah, aku biasanya janjian ketemu di pasar.
Waktu itu aku tidak terlalu pusing bila akhirnya diketahui. Ada skenario lain yang kupersiapkan bila rahasiaku terbongkar. Tinggal diputuskan dan mencari lagi mangsa yang baru. Toh selama ini mudah bagiku mencari pacar. Hingga tak kurang dari tujuh belas gadis yang sempat menjadi pacarku, hanya dalam kurun waktu tiga tahun.
Kuakui, kemudahan itu tidak terlepas dari minyak wangi serta wirid yang diajarkan Pak Sarno. Pada sisi lain, semenjak berguru pada Pak Sarno, aku merasa selalu dikuntitdua orang kemanapun aku pergi. Keduanya memang tidak pernah menampakkan diri, tapi kehadirannya dapat kurasakan. Ketika hal itu kutanyakan kepada Pak Sarno, katanya, itu adalah khadam. Tidak perlu dikhawatirkan, katanya.
Apa karena kehadiran khadam itu hingga aku mudah tersinggung? Entahlah. Tapi aku memang mudah marah. Hanya karena masalah sepele, tanganku sudah melayang. Saat sedang berkumpul bersama dengan teman-teman misalnya. Bila ada di antara mereka yang tertawa tanpa alasan yang kuketahui, timbullah pikiran buruk dalam diriku. Bahwa mereka sedang mentertawakanku. Kepalaku pun terasa panas dan pusing.

Merantau ke Jakarta

Lulus SMA, kutinggalkan semua pacarku. Tinggal satu gadis yang kupertahankan. Namanya Uli. Untuk yang satu ini aku serius. Aku ingin berlanjut hingga ke pelaminan.
Aku sudah berubah. Aku tidak mau mempermainkan hati wanita lagi. Karena itu, kuputuskan untuk merantau ke Jakarta, menyusul paman yang sudah menetap di sana. Aku ingin cari uang lalu menikah dengan Uli. Saat berangkat ke Jakarta, kudatangi Uli di rumahnya. “Tunggu aku. Aku mau merantau ke Jakarta. Kalau sudah waktunya, nanti aku melamarmu,” kataku serius. Rasanya berat meninggalkannya.
Selama di Jakarta, aku selalu memikirkan Uli. Terkadang aku sampai merengek-rengek pada kakak. “Kak, aku ingin pulang. Aku mau ketemu Uli,” kataku. Saat itu pikiranku selalu terhubung dengan Uli. Mau makan ingat dia, mau tidur ingat dia. Bayangan Uli selalu hadir dalam jiwaku.
Setelah empat bulan di Jakarta aku pulang. Kebetulan bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sekalian mau lebaran di rumah. Setelah bertemu dengan orangtua, aku ingin melepas kerinduanku pada Uli. Kudatangi rumahnya. Waktu itu ia masih menerimaku dengan wajar. Mempersilahkanku masuk dan menyediakan minuman. Aku masih menganggapnya tidak berubah.
Sehari kemudian, aku baru menyadari bila Uli tidak lagi sendirian. Kini, ia sudah memiliki pacar baru. Anaknya orang kaya. Meski wajahnya tidak setampan diriku. Jujur, pengakuan ini kudapatkan dari tetangga. “Lira, anaknya tampan, cuma tidak punya. Robin, anaknya kaya. Tapi tingkah lakunya seperti bencong,” begitulah bisik-bisik tetangga yang kudengar.
Aku kecewa. Wanita yang selama ini kupikirkan, ternyata telah mengkhianati diriku. Malam itu, aku lampiaskan kekecewaan dengan menenggak minuman keras. Aku mabuk dan kehilangan kendali hingga anak-anak yang bermain di jalan kupukul. Keesokan harinya, masih dalam suasana hati yang tidak menentu, aku berkelahi dengan anak mantan preman.
 Karena merasa telah mempermalukan keluarga, akhirnya kuputuskan untuk merantau lagi. Kali ini, aku berpindah ke Bogor. Kebetulan, kakakku juga menetap di sana. Aku bersyukur, tak lama kemudian, mendapatkan pekerjaan baru.
Selain itu, aku juga bergabung dengan sebuah perguruan tenaga dalam. Dalam salah satu latihannya, aku dan dua orang teman diajak berendam di sumur Kebun Raya Bogor. Saat ritual itu, guru yang mengajar kami kerasukan jin. Dia mengatakan, “Itu, anak yang dari seberang itu, suruh ngamalin al-Ikhlas seratus kali di batu Ki Sentot.”
Batunya besar. Kami bertiga wiridan di sana. Belum lama merapal wiridan, kurasakan kepalaku pusing. Kubuka mata yang sedari awal terpejam. Saat itulah aku mendengar suara guru. “Ada yang jatuh ke batu. Cari benda itu,” katanya. Tanganku reflek meraba-raba di sekitarku. Ada dua benda asing yang tersentuh tanganku. Satu berupa keris dan lainnya berbentuk segi empat terbuat dari kulit.
Kedua benda itu pun kuserahkan kepada guru. Katanya, keris itu adalah keris penakluk hujan. “Kamu belum kuat pegang keris ini. Keris ini saya berikan kepada temanmu. Kamu yang kulit ini saja,” kata guru sambil menyodorkan kulit kepadaku.
Hanya berselang seminggu dari pendadaran di Kebon Raya Bogor, aku sakit parah. Katanya, aku sudah hampir mati. Nafasku tinggal satu dua. Akhirnya kakak membawaku ke tiga rumah sakit. Setiap rumah sakit ada yang bilang tidak sanggup, ada yang mengatakan sakit usus buntu, ada juga yang mengatakan aku tidak menderita sakit apa-apa.
Dikatakan tidak sakit apa-apa, tapi mengapa jalan saja tidak bisa? Punggungku bungkuk. Akhirnya, kakak menelpon orangtuaku di Palembang. Bapak menyuruh kakak, agar segera membawaku ke Palembang. Nanti diobati di sana, katanya.
Bapak membawaku ke dukun ternama. Ki Dirjo namanya. Dari namanya, terkesan ia bukan penduduk asli Palembang. Beberapa hari kemudian, setelah kesehatanku mulai membaik aku kembali ke Bogor.
Di Bogor, aku gelisah. Aku merasakan ilmu yang kudapat dari Pak Sarno telah hilang. Aku kembali takut berhadapan dengan wanita. Perasaan rendah diri pun muncul lagi. untuk mengembalikan kepercayan diri, aku kembali menempuh langkah seperti dulu. Mencari orang sakti yang dapat membantu.
Aku berpikir, Ki Dirjo yang mengobatiku lebih sakti daripada Pak Sarno.  Aku pun mulai mengatur keuangan, agar bisa mendapat ilmu baru dari Ki Dirjo. Ki Dirjo mengerti apa yang kumaksudkan. Ia memberiku 'semar mesem', minyak wangi dan wifk. Setelah itu saya disuruh rebahan di lantai. Kemudian Ki Dirjo, mentransfer tenaga dalam melalui batu kecil yang diusapkan ke seluruh tubuhku.
Sepulang dari Ki Dirjo, kondisiku kejiwaanku makin parah. Mudah tersinggung. Tidak boleh ada yang salah ucap sedikit saja. Bisa dikatakan, di Bogor, aku anak perantauan. Tapi keberanianku melebihi orang pribumi. Siapa saja yang menyakiti, kubikin ribut. Kadang kuancam dengan pisau, lain kali kuajak duel di lapangan.
Suatu malam, aku pulang apel jam sepuluh. Waktu itu aku ditemani seorang teman. Ketika aku keluar dari kontrakan pacarku, sudah ada sebelas orang yang menghadangku. Aku kenal beberapa orang dari mereka. Sepertinya mereka tidak senang, aku berpacaran dengan gadis Bogor. Adu mulut pun tak terhindarkan. Hingga adu jotos pun tak terelakkan. Dua lawan sebelas, jelas tidaklah seimbang. Temanku kabur, aku menyusul di belakangnya.
Malam itu, aku tidak mau menyerah. Kukumpulkan beberapa orang teman. Ada enam orang teman yang siap menyerang kembali. Berbekal pentungan, samurai dan benda tajam lainnya, kudatangi sebelas orang yang menghadangku.
Kami mengobrak-abrik kontrakan mereka. Ada yang hidungnya berdarah, ada pula yang kepalanya bocor. Kegaduhan malam itu mengundang perhatian tetangga. Mereka berdatangan, meski hanya menjadi penonton. Sebelum akhirnya kami melarikan diri seteleh melihat sekumpulan polisi berseragam mendekat.
Malam itu, aku menginap di rumah teman. Tapi keesokan harinya, begitu aku masuk ke kontrakan, tanganku langsung diborgol polisi. Rupanya mereka telah menunggu kedatanganku. Aku pun diciduk, dan sempat merasakan pahitnya hidup di balik jeruji besi.

Menemukan ketenangan jiwa melalui ruqyah

Suatu ketika, bibiku datang ke Bogor. Sudah beberapa tahun, kami tidak bertemu. Bibiku meraskan ada yang aneh dalam diriku. Tidak seperti biasanya, aku hanya bengong dan tidak banyak bicara. Anting-anting yang menghiasi telingaku serta gaya celanaku yang robek di sana-sini lebih membuat bibiku terkejut.
Saat itu, bibi mengajakku ke Jakarta. Katanya, aku mau dibawa berobat ke Ustadz Hasan untuk menjalani terapi ruqyah. Kebetulan, bibiku kenal baik dengan Ustadz Hasan. Saat menjalani terapi ruqyah, aku tidak sadar apa yang terjadi. Katanya aku meraung-raung seperti harimau. Jariku yang tajam-tajam itu siap menerkam orang yang mendekat. Akibatnya salah seorang yang berusaha meringkusku menjadi korban. Kakinya kucakar, hingga berbekas.
Setelah beberapa kali menjalani terapi ruqyah, aku bersyukur kondisiku semakin membaik. Aku tidak lagi mudah tersulut emosi. Dengan wanita juga mulai takut kembali. Yang lebih penting dari itu adalah perubahan kepribadianku. Aku baru menyadari atas kesalahan langkah yang kutempuh selama ini. Mulai dari mempermainkan wanita hingga berpindah dari satu dukun ke dukun lain untuk mendapatkan kepuasan jiwa.
http://ruqyahmajalahghoib.blogspot.com/ 

Aku Dijadikan Tumbal Nelayan.


Kusminah: Ibu Rumah Tangga
 Aku ditakdirkan sebagai istri seorang pelaut. Meski suamiku bukan seorang nelayan. Kehidupannya di tengah laut tak terlepas dari tugas kantor yang mengharuskannya berkelana di tengah laut. Mas Pri, begitu aku biasa memanggil suamiku. Ia bekerja di perusahaan perkapalan yang bekerjasama dengan nelayan.
Mas Pri ditugaskan di wilayah Indonesia Timur. Di awal-awal pernikahan, kami bertemu sebulan sekali. Selebihnya jarak antara Jakarta dan Maluku memisahkan kami. Ini adalah resiko yang sudah kami sadari sejak awal.
Kesepian adalah harga mahal yang harus kubayar. Aku tahu ini adalah konsekuensi pekerjaan. Tidak mudah bagi suamiku untuk pindah tugas ke Jakarta. Keahliannya masih dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas di lapangan. Pilihan terbaik adalah aku yang harus mengalah. Aku yang harus rela ikut kemana suami melangkah. Terlebih aku sudah berbadan dua. Janin tiga bulan dalam kandunganku tidak rela berpisah dengan bapaknya.
Aku menyusul suami ke Maluku dan tinggal di perkampungan nelayan. Berbaur, menyatu dan hidup bersama dengan mereka. Di tengah keseharian mereka, kutemukan sesuatu yang tidak lazim. Gairah dan semangat untuk melaut tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Rona kesedihan terpancar di wajah-wajah nelayan sepulang dari melaut. Sudah cukup lama hasil tangkapan ikan mereka sepi. Tidak bisa menutupi kebutuhan harian, terlebih mereka harus mencicil biaya kapal perbulan.
      Setiap tahun, katanya ada musim paceklik. Tapi tahun itu, lain dengan tahun-tahun sebelumnya. Ikan semakin sulit didapat. Biasanya, dalam situasi seperti itu, tetua adat perkampungan nelayan mengadakan ritual larung sajen ke laut. Sudah lama mereka menggagasnya tapi belum terlaksana hingga aku berkumpul bersama mereka.
Suatu hari kulihat undangan tergeletak di meja. Kuambil undangan itu. Di atasnya tertera nama suamiku. Undangan itu mengharap suamiku untuk hadir di ritual larung sajen yang akan diselenggarakan selama tiga hari. Secara khusus, Danang, salah seorang Tetua adat mengharap Mas Pri sendiri yang mewakili kantor.
Di hari yang ditentukan, Mas Pri menghadiri ritual larung sajen. Sementara aku hanya berdiam diri di rumah. Aku tidak ikut serta ke sana, karena undangan itu bukan untukku.
"Nih minum!" kata Mas Pri sambil menyodorkan sebotol air. Aku mengangguk pelan. Kuambil sebotol air dari tangan suamiku. "Ini air dari ritual larung sajen. Kata Tetua adat harus diminum, biar kamu sehat. Kamu kan lagi hamil," jelas Mas Pri panjang lebar.
Sebagai orang baru, aku merasa terharu atas perhatian Danang yang masih sempat mengirimkan sebotol air. Aku tidak berpikir macam-macam. Meski air itu bukan air biasa. Dengan santainya air kembang itu kuminum seteguk dan sebagian lagi untuk cuci muka. Sementara Mas Pri menceritakan acara larung sajen sambil rebahan di lantai. Ritual itu diselenggarakan di atas karang di tengah laut. Sebotol air yang tersisa separuh itu kemudian kutaruh kembali di atas meja.
Malam itu, suasana perkampungan nelayan sedikit berbeda. Tidak seperti biasanya, lolongan anjing terdengar nyaring. Anjing-anjing itu meraung-raung. Seakan memberi tanda kehadiran makhluk lain di sekitar perkampungan. Bulu kudukku merinding. Aku tak mengingkari bahwa malam itu aku sedikit takut. Sementara suamiku terlelap dalam tidurnya. Ia kelelahan setelah tiga hari mengikuti ritual larung sajen.
Kupaksa memejamkan mata. Di tengah ketakutan itu aku dikejutkan oleh kehadiran sosok tinggi besar. Berbaju hitam. Celana hitam. Ia membawa bungkusan hitam. Entah apa yang dipegangnya. Sosok hitam di tengah kegelapan itu membungkuk. Kulihat tangannya memegang kakiku. Dingin. Aku pun berteriak histeris. Teriakan itu membuyarkan semua yang ada di depanku. Aku yakin tidak sedang bermimpi. Aku melihat dan merasakan sentuhan tangannya yang dingin. Tapi makhluk itu hilang begitu saja. Ia seakan lenyap ditelan bumi
Suamiku terbangun geragapan. Ia terkejut mendengar lengkingan suaraku. Didekapnya aku yang masih gemetaran. Dengan isak tangis, kuceritakan apa yang baru terjadi. Mas Pri, menggeleng setengah tidak percaya. Kuceritakan kembali keganjilan demi keganjilan yang ada. Suara anjing yang terus meraung, hingga udara malam yang terasa berbeda.
Perlahan, Mas Pri memahami apa yang kumaksud. Akhirnya malam itu kami lalui dengan banyak berdzikir dan membaca ayat Kursi. Malam itu menandai berlakunya malam yang mencekam. Dan itu adalah malam pertama.
Setiap malam, aku hidup dalam ketakutan. Sampai akhirnya aku sakit. Yang mengherankan, anjing yang berkeliaran di desa itu selalu menggonggong bila melihatku. Mereka seperti melihat sesuatu yang lain dalam diriku. Sementara orang yang melintas sebelumku tidak dihiraukan oleh anjing-anjing itu. Bahkan tidak jarang ada anjing yang sengaja datang ke rumahku hanya untuk menggonggong.
Kian hari sakitku makin parah. Berita sakitku menyebar ke warga. Kedudukan suamiku sebagai orang yang mewakili kantor cukup terpandang di mata mereka. Tanpa kami minta, ada saja orang yang datang ke rumah memberi minuman. Katanya, minuman itu dari orang pintar. Bahkan ada juga yang memandikanku selama tujuh hari. Katanya, hamil muda harus selalu dimandikan dengan kembang. Aku hanya bisa pasrah. Begitulah adat di perkampungan nelayan itu. Tiap Maghrib dia selalu ke rumah.
Kuturuti kemauan mereka, karena aku ingin segera terbebas dari kelumpuhan ini. Tiga bulan lamanya, aku terbaring lemah di atas tempat tidur. Tergolek tanpa daya. Aku bersyukur, Allah memberi kekuatan kepada janin dalam kandunganku. Hingga tidak terpengaruh dengan keadaan orangtuanya. Sebenarnya aku takut bila terjadi apa-apa dengan janinku. Tapi alhamdulillahsemua itu tidak terjadi.
Dalam balutan ketakutan yang semakin kuat itu, akhirnya aku minta diantar kembali ke Semarang. Aku ingin melahirkan anak dalam ketenangan. Mas Pri menuruti kemauanku.
Gangguan itu semakin menguat setelah melahirkan
Sakitku berangsur membaik. Anak pertamaku lahir dengan selamat tanpa banyak kendala. Pertemuan dengan suami pun kembali merenggang. Sebulan sekali, kami baru bertemu. Hal ini memang kurang baik bagi perkembangan anakku. Akhirnya setelah anakku berumur setahun, aku kembali ke Maluku mengikuti suami. Semua itu demi kebahagiaan keluarga ini.
Dua tahun di Maluku, aku mendapat firasat kurang baik. Seolah-olah akan terjadi peristiwa besar. Tiga hari kemudian, terjadilah peristiwa yang menggemparkan. Perang antar agama di Ambon pecah. Peperangan itu menjalar ke mana-mana. Termasuk di perkampungan di mana aku tinggal.
Kami kalang kabut melarikan diri. Waktu itu Danang memberiku ikat pinggang. Katanya, agar kami selamat dalam pelarian. Ikat pinggang itu harus dibawa kemana-mana dalam keadaan suci dan tidak boleh di bawah ke kamar mandi. Aku ikuti pesan tetua adat itu, karena aku memang tidak tahu apa-apa.
Bersama suami dan rombongan, kami terdampar di Pasuruan. Di sinilah aku dan Mas Pri memutuskan untuk menetap dan memulai hidup baru. Apalagi aku sudah mulai mengandung anak kedua. Aku mengontrak rumah, sambil menunggu renovasi rumah yang baru kami beli. Sementara Mas Pri kembali ke perkapalan.
Ikat pinggang dari Danang kukubur di halaman rumah kontrakan. Waktu itu aku tidak tahu bila Ujang, pemilik rumah, sudah memagari rumahnya dengan pagar ghaib yang menyerupai seekor ular berkulit hijau dan belang kuning itu tidak terima kedatangan tamu asing, hingga ia menampakkan diri.
Saat Ujang memberi jaminan rasa aman pun aku hanya mesam-mesem saja. Aku tidak cerita bila sudah melihat binatang peliharaannya. “Kamu di sini tenang saja. Tidak akan ada yang berani mengambil harta kamu, bila kamu ngontrak di sini,” kata Ujang. “Emang kenapa Jang?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Di sini sudah dijaga ular,” katanya. Dalam hati saya bilang, saya sudah lihat. “Oh ya Jang ya,” kataku sambil mengangguk.
Sebulan, aku mengontrak di rumah Ujang, hingga pada akhirnya ia meninggal dengan cara mengenaskan. Badannya penuh luka benjolan. Bernanah dan mengeluarkan bau anyir. Berhari-hari, Ujang melolong minta tolong. Namun, ajal seakan sulit menghampirinya. Dalam hati aku berpikir, sungguh berat siksanya di dunia.
Sepeninggal Ujang, aku pindah ke rumah sendiri. Kebetulan rumahku sudah selesai direnovasi. Aku gali kembali ikat pinggang yang telah kukubur. Dan kubawa ke rumah yang baru. Di sini, di rumah yang baru, penampakan-penampakan kembali hadir. Di malam pertama, aku disambut dengan suara berdebum di lantai dua. Seperti suara barang yang dilempar keras.
Aku bergegas naik ke atas, tapi tak terlihat seorang pun di sana. Tidak ada benda yang berserakan, atau jatuh ke lantai. Semuanya tetap di tempatnya seperti semula. Pengalaman yang mengingatkanku kembali dengan kenangan pahit di Maluku dulu.
Aku bergegas turun ke bawah. Kudekap anakku yang tertidur pulas. Aku bersyukur, ia tidak terganggu dengan dentuman suara itu. Ingatanku kembali kepada Mas Pri yang jauh di seberang sana. Entahlah, apakah ia merasakan keanehan seperti yang kurasakan ini, aku tidak tahu. Yang jelas, kerinduan dalam hatiku kembali membuncah. Dalam suasana seperti ini aku sangat membutuhkan kehadirannya.
Suara berdebum di malam pertama itu merupakan sebuah pertanda. Bahwa ada makhluk lain yang tinggal di lantai atas. Beberapa kali makhluk tak diundang itu menampakkan diri kepada warga sekitar. Mereka pun bercerita, “Kus, ada bapak-bapak yang tinggal di lantai atas rumahmu. Badannya tinggi sekali. Sekitar dua meter. Bajunya hitam,” kata Imah, seorang tetanggaku.
Aku tidak menyangkal apa yang mereka ceritakan. Karena sudah beberapa kali aku melihat kehadiran makhluk itu. Tapi di hadapan Imah, aku pura-pura tidak tahu. Aku tidak ingin mereka takut dan enggan bermain di rumahku. “Ah, nggak ada. Ibu nakut-nakuti saya saja,” kataku mengelak.
Setelah kelahiran anak yang kedua, aku mulai sensitif bila ada orang yang meninggal. Ada desiran halus yang menandakan seseorang akan meninggal. Firasat itu seringkali benar. Dimulai dengan bulu kuduk yang merinding lalu mulai kesakitan di sekujur badan. Badanku meriang. Bila perasaan seperti ini muncul, maka itu adalah pertanda datangnya kematian. Kekuatan ini justru membuatku semakin tercekam ketakutan.
Kian hari firasatku semakin kental, hingga akhirnya orang di sekitarku mulai percaya dengan ramalan kematianku. Ada saja yang kemudian mereka pertanyakan kepadaku.
Sampai akhirnya, aku sendiri yang ketakutan luar biasa. Kekalutan  ini bermula ketika aku mendengar takbir lebaran dari masjid. Gema takbir yang membahana berulang-ulang itu seakan merontokkan jiwaku. Aku berteriak histeris. “Panaaasss. Panaaassss.” Ibu mertua yang sejak kehamilanku mulai membesar tinggal di rumahku berusaha menenangkan diriku.
Aku mulai tenang. Ketika Mas Pri menghubungi via telpon, aku menangis. Aku merasa sedih, di saat lebaran seperti ini harus tinggal berjauhan. Aku ceritakan peristiwa semalam. Mas Pri minta maaf, karena belum bisa pulang. Ia lalu memberiku wiridan. Kuamalkan wiridan itu. Tapi semakin lama kuamalkan, hatiku semakin gelisah. Hingga akhirnya aku berteriak histeris. “Aku mau pulang. Aku mau pulang,” aku terus berteriak sambil berlari ke sana kemari. Semua itu kulakukan tanpa sadar. Aku tidak lagi ingat punya anak dan suami.
Dalam ketakutan itu, aku mengajak ibu mertua untuk wiridan. “Bu, aku disantet orang. Ayo wiridan bu!” kuajak ibu mertua wiridan. Saat wiridan itu badanku bergoyang-goyang. “Ayo bu. Ayo bu. Aku disantet bu!” Aku semakin yakin bila disantet. Aku kalut. Kuminta ibu mertua membawaku pulang ke orangtua di Semarang. “Bu, pulang saja bu. Antar aku ke Semarang bu!”.
Kondisiku semakin parah. Kekuatan lain dalam diriku semakin tidak dapat kukendalikan. Akhirnya ibu mertua mengantarkan aku ke Semarang sambil menggendong anak keduaku yang masih orok.
Disuruh makan ekor kucing hitam
Sesampai di Semarang, aku dibawa berobat ke orang pintar. Ki Dargo namanya. Padepokannya hanya berjarak satu kilo meter dari rumah ibu. Menurut ibu, ketika masuk  ke padepokan Ki Dargo aku berlagak tak ubahnya seorang jagoan. Dengan berkacak pinggang, aku tantang Ki Dargo. “Ilmu kamu setinggi mana?” kataku. “Aku mau pulang. Kalau kamu benar-benar tinggi ilmunya, antarkan aku pulang!” bentakku dengan sengit.
Ki Dargo tidak menduga mendapat tantangan itu. Namun, ia masih berusaha tenang. “Emang, rumahmu dimana?” tanya Ki Dargo. “Di Maluku,” kataku. Ki Dargo mengira aku masih trauma perang saudara di Maluku dan masih membekas. Karena itu ia menyarankan agar aku dibawa ke rumah sakit jiwa.
Orangtuaku menuruti nasehat Ki Dargo. Aku dibawa ke rumah sakit jiwa. Selama di rumah sakit, aku mengoceh tidak karuan. Aku sebutkan keburukan orang-orang di Pasuruan. Tetanggaku dan orang-orang yang selama ini aku kenal. Perawat di rumah sakit itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulahku.
Seminggu di rumah sakit tidak ada perubahan berarti, bahkan setiap mendengar suara adzan, aku ketakutan luar biasa. Mataku blingsatan dan secepat kilat kucabut selang infus. Aku berlari dan bersembunyi. Hingga pada akhirnya Mas Pri datang seminggu setelah aku dirawat.
Mendengar keanehanku, Mas Pri teringat peristiwa di Maluku beberapa tahun lalu. Ia mencoba menenangkanku dengan membaca ayat Kursi. Aku berontak. Telingaku terasa panas. “Kurang ajar kamu Priono. Kamu yang membawa aku ke sini. Kurang ajar kamu. Antarin ke Ki Dargo aku mau pulang,” kataku dengan keras.
Suamiku ketakutan. Ia tidak menduga bila mendapat bentakan seperti itu. “Kalau tidak, istrimu aku bawa,” ancam jin yang menguasai diriku. “Jangan. Istriku jangan dibawa,” Mas Pri mempertahankan diri.
Akhirnya aku dibawa kembali ke padepokan Ki Dargo. Di sana, aku tidak kerasan. Aku tersiksa dengan bisikan-bisikan yang terus terngiang di telinga. “Syetan. Syetan. Syetan.” Bisikan ini terus membuntuti kemanapun aku pergi. Sampai akhirnya salah seorang murid Ki Dargo mencoba mengusir bisikan itu dengan memasukkan jin ke dalam diriku. Ia bermaksud mengusir jin dengan jin yang ia masukkan. Tapi hasilnya nihil. Jin murid Ki Dargo dikalahkan oleh jin yang telah menetap dalam diriku.
Melihat kenyataan itu, akhirnya Ki Dargo memutuskan untuk mewariskan ilmu tenaga dalamnya kepadaku. Ia berharap dengan mengamalkan ilmu ini, pada akhirnya jin itu akan kalah seiring dengan perjalanan waktu. Aku tidak tahu, apa motif dibalik pengajaran ilmu tenaga dalam itu. Kedatanganku ke sana bukanlah untuk mencari ilmu, tapi jin yang ada dalam diriku ingin dipulangkan ke Maluku. Ia merasa tidak bisa keluar dengan sendirinya dari tubuhku.
Aku tirakat. Tidak makan dan tidur sehari semalam. Setelah itu aku disuruh makan silet dan kaca. Aku tidak mau. Keinginanku bukanlah untuk mendapatkan kekebalan. Setiap kali ke padepokan Ki Dargo, aku bukannya diobati, tapi diberi amalan-amalan baru berupa mantra Jawa. Aku disuruh merapal mantra-mantra itu. hasilnya penyakitku bukannya sembuh, tapi aku semakin kuat. Pukulanku semakin mematikan. Akibatnya aku mudah marah kepada suami. Dan dengan ringan, aku pukul Mas Pri bila dia melakukan kesalahan. Bukannya sembuh. Justru melahirkan masalah baru.
Di lain waktu itu bisikan jahat itu memprofokasi untuk bunuh diri. “Reputasi kamu sudah habis. Sudah dibikin malu di Banyuwangi. Sekarang, kamu bunuh diri saja. Kamu gantung saja di pohon mlinjo,” bisikan itu terus terngiang di telinga. Aku terpengaruh. Tanpa sadar aku berteriak, “Talinya mana, aku mau gantung diri.”
Orang-orang segera mengamankan tali dari jangkauanku. Aku semakin kalut. Dalam kondisi seperti itu, aku tidak ingat pada anak atau suami. Aku tidak kenal siapapun. Yang kutahu, aku hanya ingin dipulangkan ke Maluku.
Kegagalan Ki Dargo tidak membuat keluargaku menyerah. Mereka terus berusaha mencari pengobatan alternatif. Setiap orang bilang, di sana ada dukun bagus, dia diundang ke rumah. Sampai karena sedemikian parahnya, aku pernah disuruh makan ekor kucing hitam. Keluargaku menuruti permintaan sang dukun. Dan merelakanku makan ekor kucing. Di lain waktu, ada dukun yang menyuruh menaruh tulang babi di bawah tempat tidurku.
Keluargaku juga membawaku berobat ke psikeater, tapi tidak banyak membawa perubahan. Karena ujung-ujungnya hanya dikasih obat penenang.
Suatu ketika, Mas Pri kembali bertugas di Maluku. Di sana, ia bertemu dengan tetua adat yang dulu memberi air sebotol. Ia menceritakan semua peristiwa yang menimpaku. Entah apa yang dipikirkan tetua adat itu. hingga ia memberi suamiku tiga botol air. Katanya aku harus dimandikan dengan tiga botol air itu.
Mas Pri senang. Ia berharap tiga botol air dati tetua adat itu bisa menyembuhkanku. Hingga hari itu pun ia langsung pulang. Jam lima sore, aku dimandikan. Katanya, biar syetannya tahu rasa.
Tapi yang terjadi kemudian justru kebalikannya. Jam dua malam, terdengar suara berdentum di lantai atas. Seperti ada yang meletus.  Keesokan harinya, anakku yang kedua muntah-muntah dan harus dirawat di rumah sakit. Anak pertama juga menyusul diopname. Tidak lama kemudian, aku juga harus dirawat karena demam yang tinggi. Melihat gelagat yang kurang baik itu akhirnya aku dibawa ke Semarang kembali. Ibu bahkan menyuruh menjual rumah di Banyuwangi.
Pertemuan dengan Majalah Ghoib.
Aku pindah ke Jakarta ketika suamiku ditarik ke kantor. Waktu itu aku sedang hamil anak yang ketiga. Setelah kelahiran anak ketiga aku mulai sakit lagi. Makin parah. Kali ini, aku sudah menuntut cerai dari suamiku. “Sudahlah Mas, aku sudah tidak kuat. Aku minta cerai.  Pokoknya aku mau pergi dari sini. Anak-anak kamu ambil semua.” Aku mulai kebingungan.
Mas Priono sadar bahwa itu bukan dari diriku. Gangguan dari jin itu kembali muncul setelah aku mulai banyak membaca Al-Qur'an dan mendekatkan diri kepada Allah. Beruntung, pada saat itu istilah ruqyah sudah tidak lagi asing di masyarakat. Sehingga tetangga menyarankan agar aku mengikuti terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib.
Ketika aku menghubungi kantor Majalah Ghoib, aku disarankan untuk mengikuti terapi ruqyah di Ghoib Ruqyah Syar’iyah cabang Ciputat. Salah satu cabang terapi ruqyah dari Majalah Ghoib yang lebih dekat dengan tempat tinggalku.
Aku tidak sabar lagi. Kupanggil taxi dan kubawa ketiga anakku. Sementara suami yang masih di kantor kuminta segera menyusul ke tempat terapi ruqyah ke Ghoib Ruqyah Syar’iyah cabang Ciputat.
Saat dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an oleh Ustadz Endang, aku langsung teriak, “Aku mau pulang. Mau pulang.”  Aku terus berteriak dan memberontak.  Jin itu masih belum mengaku darimana asalnya. Dia hanya tertawa dan berbelit-belit ketika ditanya.
Setelah terus dibacakan ayat Al-Qur'an, akhirnya jin itu mengaku bahwa dia berasal dari kuburan. “Aku mau pulang. Tapi aku harus bawa Kusminah,” kata jin dari kuburan itu. “Kamu pulang sendiri,” jawab Ustadz Endang. “Dulu perjanjiannya gimana? Aku mau bawa Kusminah.”
Jin dari kuburan itu tidak mau pulang tanpa diriku. Ia juga mengaku dia masuk melalui air kembang yang dibawa suamiku dari ritual larung sajen di laut Maluku.
Pengakuan jin itu mengingatkanku kembali kepada masa silam. Saat aku menginjakkan kaki di tanah Maluku. Menurut cerita yang kudengar dari tetangga di perkampungan nelayan. Tempat larung sajen itu memang berada di atas kuburan. Dulu, karang di tepi laut itu berupa daratan. Seiring dengan waktu, ia terkikis dan menjadi bagian dari laut. Di sanalah Tetua adat biasa mengadakan larung sajen.
“Yang ngasih minum itu Priono. Yang nyuruh Tetua adat,” jin dari kuburan itu terus ngedumel.
“Aku diikat di badannya Kusminah. Aku tidak bisa keluar,” celoteh jin itu. Suamiku pucat pasi mendengar pengakuan jin dari kuburan. Ia tidak mengira bila diriku akan dijadikan tumbal nelayan.
Sepulang dari Ciputat, aku tetap memutar kaset ruqyah di rumah. Akibatnya aku kembali melolong minta tolong. “Tolong-tolong, aku mau pulang. Aku sudah tidak suka di badan Kusminah.” Lain kali dia mengancam suamiku. “Priono. Bilangin Tetua adat sana, aku mau pulang. Kalau tidak aku bunuh ibu kamu. Aku bunuh siapa saja.”
Di lain kesempatan jin itu merajuk seperti anak kecil. Ia merayu suamiku. “Anakku sayang, Priono, ke sini aku pangku nak,” katanya. “Sini sayang. Aku pulangin ya nak. Kamu anakku. Pulangin aku.” Ia selalu mengulang kata-kata ingin pulang. Karena ia merasa tersiksa berada di badanku. Sudah lama ia menetap di sini, dan ia ingin bebas. “Kalau aku sampai mati, tetua adat mati,” ancamnya lagi.
Mas Pri mencoba menghubungi Danang di Maluku. Waktu itu Danang minta dikirim baju yang sudah kupakai dan masih ada keringatnya. Hanya saja dia baru bisa melakukan ritual pada hari Jum'at.
Suamiku ketakutan, sampai akhirnya dia hampir saja mengabulkan permintaan Danang. “Gimana ya kalau baju kamu kukirim ke Danang. Kalau tidak, kamu sendiri yang ke sana naik pesawat,” kata Mas Pri. “Aku tanya ke Ustadz Endang dulu,” jawabku. Aku tidak mau mengabulkan keinginan Mas Pri sebelum konsultasi dengan Ustadz Endang. Ketika akhirnya ustadz tidak mengizinkan, Mas Pri tidak jadi mengirim pakaianku ke Maluku.
Jalan yang kutempuh hanya mengintensifkan ruqyah. Karena dari pengalaman selama ini, inilah jalan terbaik untuk mengeluarkan jin dari dalam diriku. Aku tidak jemu-jemunya untuk terus ruqyah di rumah atau di Ciputat. Karena pada dasarnya, aku mengalami gangguan di malam hari. Siang hari, kesadaranku muncul kembali dan aku bisa melakukan aktifitas seperti biasa.
Hingga suatu malam, jin itu menyerah. Ia keluar sekitar jam sembilan malam. Dua jam setelah utusan dari kantor pulang dari rumahku. Waktu itu aku tidur. Anakku yang pertama juga tiduran di sampingku. Anak yang kedua aku dekap dengan erat. Saat itulah aku melihat bayangan seperti asap hitam naik dan menembus atap rumah.
Anakku yang kedua melihat peristiwa bersejarah dalam hidupku itu. Seperti seorang anak yang melepas kepergian orang lain. Anakku mengucapkan salam perpisahan. “Dada mamaaa,” sementara anakku yang masih bayi menangis keras.
Entahlah, apakah ada hubungan antara keluarnya jin itu kedatangan utusan kantor ke rumah, aku tidak tahu pasti. Yang jelas, sekarang aku mulai menata kembali kehidupanku bersama suami dan anak-anak setelah sekian lama terganggu.
http://ruqyahmajalahghoib.blogspot.com/ 

Aku cemburu pada mantan pacar suamiku

Terbalut cemburu pada mantan pacar suamiku/
Cinta pertama begitu melekat di hati, kata yang pernah pacaran. Hari-hari yang  'indah' itu terasa lengket. Kenangan demi kenangan pun tak mudah hilang, walau telah sekian lama berlalu. Meski, sang pujaan hati pun sudah menjadi milik orang lain. Tidak lagi single. Bila kenangan demi kenangan itu sesekali terlontarkan di hadapan sang istri atau suami, kecemburuan pun tak lagi dapat terhindarkan. Wajar memang. Menjadi tidak wajar, bila kemudian kecemburuan itu ditunggangi oleh jin. Seperti kisah Rine. Seorang ibu muda asal Cirebon, Jawa Barat.
Terus terang, seperti kebanyakan remaja, aku juga punya pacar. Seorang pemuda desaku yang sudah berniat untuk melamarku. Tapi aku menolaknya dengan halus. Kukatakan, bahwa usiaku masih muda. Aku ingin meringankan beban orangtua. Untuk saat itu, aku masih belum siap menikah.
Sebagai seorang wanita, aku juga memiliki kriteria seorang lelaki idaman yang kelak kuharapkan sebagai suamiku. Seorang lelaki yang penyayang, setia, perhatian dan bertanggungjawab. Dan lebih dari itu, aku mengharapkan seorang suami yang rajin shalat. Seorang suami yang mengerti masalah agama, sehingga bisa membimbing diriku serta anak-anakku ke masa depan yang lebih baik.
Sayangnya, kriteriaku itu tidak dimiliki pacarku. Singkat kata dia bukanlah lelaki idamanku. Itulah alasan utama mengapa aku menolak lamarannya dengan alasan belum siap.  
Setelah beberapa hari di rumah, aku bermain ke seorang teman yang secara kebetulan orangtuanya berprofesi sebagai dukun. Aku hanya ingin bersilaturrahmi dan berbagi cerita dengan anaknya. Tidak ada urusanku dengan orangtuanya. Entah kenapa, tiba-tiba orangtua temanku memberikan nasehat. "Kamu tidak usah kerja. Sudah menikah saja dengan tetangga desa kamu. Itu jodohmu," katanya.

Aku tidak percaya. Pemuda sebelah desa yang mana, pikirku. Aku tidak kenal dengan mereka. Pacarku masih sedesa denganku. Lalu siapa yang mau melamarku? Ah, tak usah dipikirkan. Toh, aku masih mau sendiri, gumamku dalam hati.
Aku pulang dengan pikiran yang lebih tenang. Tanpa beban pikiran yang mengganjal. Setidaknya, curhat dengan teman lama sedikit mengurangi rasa sesak di dada.
Selang beberapa hari kemudian, ada seorang pemuda yang belum kukenal main ke rumah. Dia mencari kakakku. “Oh, abang lagi di belakang,” jawabku ketika dia bertanya di mana kakak. Kupersilahkan dia masuk dan menunggu di ruang tamu. Sementara aku sendiri langsung ngibrit ke belakang mencari kakak.
Pemuda itu tidak terlalu menarik perhatianku. Karena aku sendiri sudah punya pacar. Kakak dan temannya, asik ngobrol di ruang tamu. Seperti ada masalah serius yang mereka perbincangkan. Sore itu, temannya kakak pulang, tanpa memperkenalkan namanya.
Suatu sore, pacarku main ke rumah. Namanya Andi. Seperti biasa ia datang bersama dua orang temannya. Kami pun asyik ngobrol. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Semburat kekuningan telah memancar di ufuk barat. Pertanda waktu Maghrib telah tiba. Kakak yang terbiasa shalat berjamaah di masjid bergegas ke masjid yang hanya beberapa puluh meter dari rumahku. Sementara Andi tetap bercanda dengan teman-temannya, kali itu mereka berpindah ke halaman rumah. Aku sendiri sudah meninggalkan mereka.
Saat adzan Maghrib berkumandang, mereka asyik mengobrol. Ketika kakak pulang dari masjid pun pacarku masih belum beranjak dari tempatnya. Ia tetap di sana. Bersenda gurau dengan teman-temannya. Kejadian itu membuat kakak tidak lagi kuasa menyembunyikan ketidaksenangannya.
Ia mulai terang-terangan menentangku menjalin hubungan lebih jauh. Dengan kata lain, kakak tidak setuju bila aku menikah dengan Andi. Memang, selama berpacaran aku kurang sreg dengan gaya dan perilakunya. Maka, ketika kakak melarang pun aku tidak terlalu keberatan. Toh, kami belum berkomitmen apa-apa. Hanya sebatas penjajagan yang bisa berlanjut atau putus di tengah jalan.
Kakak mengambil alih kendali. Ia memperkenalkanku dengan temannya yang datang ke rumah dua hari yang lalu. Namanya, Purnomo. Perkenalan itu terjadi di rumahku. Ketika Purnomo main-main ke sana. Obrolan dan perbincangan ngalor ngidul itu pun menemukan titik terang. Ternyata antara ibuku dan ibu Purnomo masih ada hubungan darah. Dari situ, hubunganku dengan Purnomo makin akrab.
Terlebih kutemukan sesuatu yang berbeda pada diri Purnomo. Ia tidak jauh melenceng dari kriteria lelaki idamanku. Purnomo semakin terbuka. Tanpa kuminta ia menceritakan masa lalunya. Tentang dua orang mantan pacarnya. Keduanya kandas di tengah jalan. Yang pertama namanya, Mona dan yang kedua Ratih.
Aku kenal Mona. Ia temanku semasa SMP, tapi aku tidak kenal Ratih. Mendengar kisahnya, aku merasa terharu. Hubungan Purnomo dengan Ratih putus seminggu sebelum resepsi pernikahan digelar. Padahal, sebelumnya mereka antusias melangsungkan pernikahan. Entah kenapa tiba-tiba pihak Ratih membatalkan kesepakatan.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Undangan sudah terlanjur menyebar. Berbagai persiapan telah dilakukan. Tapi apalah daya, tidak ada paksaan dalam pernikahan. Karena hanya melahirkan duka nestapa yang lebih mendalam. Biarlah, mereka putus kalau itu memang lebih baik. Toh antara keduanya belum terjalin dalam ikatan resmi. Aku ikut berempati atas masalahnya, tapi dia juga tidak boleh larut dalam penyesalan. Karena jodoh tidak ada yang tahu.
Sejak itu, hubungan kami semakin akrab. Silaturahmi antara kedua orangtua kami pun tersambung kembali. Perlahan, aku mulai melepaskan diri dari Andi. Aku mulai memberikan sinyal bahwa hubunganku dengannya tidak mungkin berlanjut sampai ke pelaminan. Apalagi keluargaku sudah menunjukkan ketidaksenangannya dengan terang-terangan. Hingga di saat yang tepat, kuputuskan hubungan kami. Antara aku dan Andi kembali seperti semula. Hanya teman biasa.
Suatu hari, Purnomo mengajakku main ke rumahnya. Aku dipertemukan dengan orangtuanya. Mereka menyambutku dengan ramah. Tanpa kuduga, saat itu ibunya bertanya, "Mau nggak jadi istrinya Purnomo."  Ditanya begitu, aku tersipu malu, karena baru beberapa hari kami memutuskan untuk pacaran.
Ibu Purnomo mengerti perasaanku. Ia tahu, aku sebenarnya tidak menolak. Tapi untuk mengiyakan seketika juga jelas tidak mungkin. Tapi setidaknya, saat itu sudah ada titik terang kemana arah hubungan kami.
Dua minggu berselang dari pertemuan itu, orangtua Purnomo datang ke rumah. Mereka melamarku. Aku pun mengiyakan. Walau aku belum bisa membalas jasa orangtua, mungkin ini jodoh saya dan yang terbaik untuk semuanya.
Dibalut cemburu
Hari bahagia itu pun tiba. Aku bersanding di pelaminan dengan Purnomo. Lelaki yang baru kukenal dua bulan sebelumnya. Aku sudah mantap mengakhiri masa lajang dan memasuki gerbang baru, menjadi bagian dari kehidupan orang lain.
Andi hadir di pernikahanku. Demikian pula dengan Mona. Kulihat dia berada di antara pengunjung yang mengucapkan selamat atas pernikahan kami. Mereka berbaur di antara undangan lainnya.
Kulewati masa bulan madu dengan indah. Hatiku berbuncah penuh kebahagiaan. Dua hati yang dipertautkan dengan ikatan suci. Tidak ada alasan bagi kami untuk menutup diri dari masa lalu. Aku dan Purnomo yang saling memanggil dengan panggilan kesayangan, saling berbagi cerita. Mas Pur cerita masa lalunya, demikian pula dengan diriku.
Tidak ketinggalan, Mas Pur juga cerita tentang dua mantan pacarnya. Mona dan Ratih. Entah mengapa, hatiku berdesir kala Mas Pur menyebut nama Mona. Debaran berbeda kurasakan ketika dia menceritakan tentang Ratih. Padahal keduanya, mantan pacarnya.
Aku cemburu. Ya, hatiku dibalut perasaan cemburu. Terlebih bila saat bermain ke rumah tetangga, sesekali aku mendengar mereka menceritakan masa lalu Mas Pur saat masih pacaran dengan Mona. Kata mereka, keduanya pasangan yang serasi. Keduanya, sudah merencanakan ini dan itu. Sebagai seorang wanita yang sah menjadi istrinya, aku punya hak untuk cemburu.
Aku merasakan suasana berbeda. Gelisah, tidak tenang, berdebar-debar dan sakit di uluhati. Mulanya, aku berpikir, itu pembawaan dari janin yang sudah mengisi rahimku. Meski ini kehamilan pertama, tapi aku sering melihat ibu hamil yang suka sakit-sakitan. Aku berpikir, mungkin ini juga pembawaan bayi.
Aku mulai sakit-sakitan. Ada masalah kecil saja, perutku terasa melilit. Kepalaku pusing. Terlebih bila Mas Pur sedang kerja ke Jakarta. Selama ini Mas Pur memang mencari nafkah di Jakarta. Dia baru pulang dua bulan sekali. Bagi orang lain, mungkin dua bulan itu waktu yang pendek, tapi bagiku, itu sudah di luar batas kemampuanku untuk melawan penderitaan ini.
Aku mulai berpikiran buruk dan sering melamun. Akibatnya bisikan-bisikan syetan mulai berkelibatan di telinga. “Cerai saja! Cerai saja!” bisikan semacam ini nyaris menguasai diriku, kala ditinggal sendirian di rumah. Bisikan-bisikan yang terus menggumpal hingga membuatku hampir menyerah. Setidaknya sudah terlintas dalam benak untuk minta cerai, ketika Mas Pur pulang.
Tapi begitu melihat kedatangan suami yang selama ini kurindukan, bisikan itu hilang begitu saja. Aku seakan melupakan masa-masa kritis ketika ditinggal sendirian. Yang kurasakan hanyalah kebahagiaan sebagai wanita yang sempurna. Hamil dan didampingi suami.
Sayangnya, masalah itu tidak berhenti begitu saja. Sesekali suamiku masih menyebut nama mantan pacarnya. Mungkin ia hanya bergurau, tapi bagiku, gurauan itu sudah di luar batas kemampuanku untuk menerimanya. Aku cemburu bila dibandingkan dengan mantan pacarnya.  Meski cerita itu hanya masa lalu, tapi tetap saja aku tidak bisa menerima. Dadaku terasa sesak, bila mendengar namanya. Aku menangis. Ketika ketemu Mona pun, dadaku berdebar lebih kencang. Dan aku juga tidak kuasa menahan tangisan begitu tiba di rumah. Aku tahu, aku cemburu. Tapi mengapa kecemburuan itu seperti di luar batas kewajaran. Dadaku sampai sesak. Uluhati sakit bukan kepalang.  
Aku tidak tahu mengapa hanya kepada Mona perasaan itu muncul. Padahal Mas Pur pernah berpacaran dengan wanita lain. Ratih. Secara logika, seharusnya Ratih lebih berhak aku cemburui. Karena hubungan mereka sudah mendekati titik final. Hanya digagalkan seminggu menjelang akad nikah, sementara dengan Mona, sudah terputus jauh-jauh hari sebelumnya.
Tapi memang, ketika berpapasan dengan Mona di jalan, aku merasakan tatapan matanya kurang bersahabat. Ia menatap sinis kepadaku. Mungkin karena ia merasa aku menikah dengan orang yang masih dicintainya.
Aku pernah mengeluhkan perasaan ini kepada orangtuaku, mengapa dada ini selalu berdebar kencang ketika berpapasan dengan Mona. Sampai aku tidak mau melihatnya. Aku meminta nasehat bagaimana melepaskan diri dari siksa ini. “Kamu lihat matanya. Kamu lawan,” kata ibu. “Nggak bisa, Bu,” jawabku lemah. “Lihat matanya. Lawan. Jangan menyerah,” kata ibu lebih tegas. Dia tidak mau aku menyerah begitu saja.
Hidayah itu datang melalui ruqyah
Beberapa bulan setelah aku melahirkan, aku ikut Mas Pur ke Jakarta. Hitung-hitung membantu suami bergantian menjaga warung kopi. Yang lebih penting dari itu, aku ingin anakku tumbuh di tengah kasih sayang kedua orangtuanya. Sehingga dia tumbuh menjadi anak yang shalih.
Alhamdulillah, Allah memberikan yang terbaik buat kami untuk berusaha yaitu dekat masjid. Di sana juga banyak rintangan dan kendala yang harus kami hadapi. Tapi Allah maha mengetahui t entang hamba-Nya. Dan disinilah aku diberi hidayah. Awalnya aku tidak memakai jilbab. Pakaian pun ketat. Tapi setiap shalat di masjid aku merasa badan ini telanjang. Malu, minder yang kurasakan saat itu. Mimpi-mimpi pun selalu merasa telanjang dan sebenarnya aku ingin sekali memakai jilbab, tapi saat itu aku tidak bisa melakukannya.
Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti tentang agama. Kalau dulu, aku sekadar ikut-ikutan, sekarang aku ingin beribadah berdasarkan ilmu.  Suatu hari, Mas Pur mengabarkan akan ada ruqyah massal di Masjid al-Huda. Ia menyarankanku ikut serta. “Agar tidak cemburuan,” katanya sambil bercanda. Di samping itu, aku juga ingin memperbaiki hidupku.
Aku buru-buru mendaftar. Daftarnya pun paling awal, karena sangat bersemangat. Pada saat mau ruqyah itu, hatiku tidak tenang. Dada berdebar-debar kencang, badan gemetaran. Ada juga rasa takut. Ruqyah massal itu diselenggarakan selepas shalat Jum’at. Nah, saat menunggu itu badanku sudah panas dingin. Entah kenapa, perasaanku tidak karuan.
Ruqyah dimulai. Tidak berapa lama, setelah pembacaan ayat al-Qur'an yang kedua, kaki sebelah kanan bergetar kencang.  Seperti digoncang kekuatan yang luar biasa. Tak lama kemudian, aku menjerit dan menangis histeris. Jeritan dan tangisan itu tiba-tiba saja muncul. Tanpa dapat kukendalikan. Ibu-ibu yang berada di sekitarku pun menyingkir. Karena aku mulai berontak dan teriakanku semakin keras.
Dalam jeritan dan tangisan itu keluar kelabang. Entah darimana datangnya. Apakah dari mukena atau dari bawah karpet, tidak ada yang tahu. Tiba-tiba kelabang itu keluar begitu saja. Aku terus menangis sampai shalat Ashar. Mas Pur mengatakan, reaksiku yang paling keras dibandingkan dengan peserta lainnya.
Setelah shalat Ashar, ruqyah massal selesai, aku pun pulang. Tapi badanku terasa lemas dan nafas sesak. Aku menangis lagi. Aku tidak tahu mengapa terus menangis. Akhirnya Mas Pur mengantarkanku ke Ghoib Ruqyah Syar’iyyah cabang Bekasi.
Sebelum pulang ustadz bertanya kepada Mas Pur, “Istri kamu pakai jilbab atau tidak?” “Nggak, tapi dia ingin sekali pakai jilbab,” jawab Mas Pur. “Setelah ini jilbabnya jangan dibuka lagi,” kata Ustadz. Ia pun memberikan nasehat panjang lebar. Ustadz juga mengatakan, berdasarkan pengalaman, apa yang kualami ini sebagian besar akibat sihir.
Kuikuti saran Ustadz. Aku tidak lagi melepaskan jilbab. meski cobaan demi cobaan terus bergulir, hanya karena aku mengenakan jilbab. pertentangan pertama datang dari anakku sendiri yang baru berumur tiga tahun. Entah kenapa dia menyuruhku melepas jilbab. Satu jam dia menangis agar aku melepaskan jilbab, tapi hatiku sudah bulat. Aku tidak akan membukanya, walau menangis darah sekalipun. Lama kelamaan anakku menerimanya. Ia tidak lagi menangis melihatku mengenakan jilbab.
Setelah ruqyah, badanku makin sakit. Aku sering menangis tanpa sebab. Beberapa kali aku mengikuti terapi ruqyah, selain itu suamiku juga membantu ruqyah mandiri. Ia membacakan surat al-Fatihah di air lalu meminumkannya padaku, alhamdulillah agak enakkan.
Karena tidak kuat menahan rasa sakit, aku pulang kampung bersama anakku. Sesampainya di rumah aku tetap tidak tenang. Begitu masuk rumah, aku ketakutan yang luar biasa dan tidak berani tidur sendirian. Akhirnya aku menginap di rumah mertua. Keesokan harinya, aku kembali menangis. Orang-orang sampai berdatangan. dan aku pun dipanggilkan seorang ustadz. Ia menterapi seperti yang dilakukan di kantor Majalah Ghoib. Tiga hari tiga malam berturut-urut aku diterapi di rumah.
Saat itu terjadi dialog dengan jin. Katanya, ia disuruh seseorang yang sakit hati. Ia iri dan tidak ingin melihatku bahagia. Ia ingin menghancurkan rumah tanggaku. Jin itu memang tidak menyebutkan nama orang yang mengirim sihir itu. aku pun tidak begitu mempedulikannya. Harapanku cuma satu, aku ingin sembuh. Titik. Tidak ada niatan untuk balas dendam atau upaya lainnya.
Meski demikian, aku akan terus melakukan terapi ruqyah secara mandiri. Selain itu, aku ingin tetap konsisten mengenakan jilbab. Terus terang, aku kembali diuji dengan jilbab. Waktu pulang kampung itu aku mengenakan jilbab panjang dan berkaos kaki. Bukan lagi jilbab gaul yang serba pendek.
Tapi entah kenapa, tetangga di sekitar rumah senang dengan perubahanku. Mereka justru mencemoohkan dan melecehkanku. Macam-macam omongannya. “Kok aneh pakai jilbab, kayak pesantrenan.”  Ada lagi yang menyindir, “Eh, kamu jangan ngikutin dia. Dia mah pakai jilbab karena gaya saja.”
Aku sedih dan bimbang. Sempat sekilas ingin membuka jilbab karena terlalu banyak cemoohan dan hinaan yang membuatku putus asa. Tapi mungkin hidayah Allah begitu kuat, aku selalu dinasehati orangtua,  agar tidak terlalu memikirkan omongna orang.
Cobaan demi cobaan atas perubahan dalam diriku selalu mengikutiku. Mulai dari nenek yang meninggal lalu ibu sakit. Aku sadar ini ujian dan aku harus menerimanya. Mungkin di situlah Allah menguji keimananku.
Namun cobaanku tidak berhenti sampai di sini. Di awal-awal mengenakan jilbab itu anakku kena musibah. Kakinya melepuh terkena air panas. Tetangga kiri kanan pun menemukan celah untuk kembali memojokkan diriku. Dibilang musibah ini gara-gara aku mengenakan jilbab. Aku menangis. Mengapa mereka terus mengusik jilbabku? Kaki anakku terkena air panas itu tidak murni kesalahanku. Akhirnya aku biarkan saja. Aku diamkan saja. Pada akhirnya mereka juga akan diam dengan sendirinya.
Upayaku berhasil. Keluara maupun tetangga kiri kanan, tidak ada lagi yang mempermasalahkan jilbabku. Kini, aku merasa mantap menjalani agama ini. Meski kuakui, derita yang kurasakan belum sembuh benar. Sesekali rasa nyeri dan sesak nafas itu masih hadir. Tapi aku sadar, bahwa rasa sakit itu adalah bagian dari ujianku.
Yang paling penting, aku menemukan momentum untuk melakukan perbaikan diri. Lebih hormat dan patuh pada orangtua, serta lebih menyayangi suami dan anak. Selain itu, ketika bertemu dengan Mona pun dadaku tidak lagi berdebar seperti dulu. 
http://ruqyahmajalahghoib.blogspot.com/ 

Aku Menggoncang Dangdut dengan Jimat Penglaris

Sheila (38) penyanyi dangdut

Enam belas tahun aku telah malang melintang di dunia tarik suara. Bermula ketika di tahun 90 an, aku menjadi penyanyi bar di sebuah hotel berbintang di Jakarta Utara. Setahun lamanya, kujalani profesi ini. Berangkat pukul tujuh malam, pulang ke rumah jam dua atau tiga dini hari.
Di mata sebagian orang, mungkin ada yang berpandangan negatif. Penyanyi bar identik dengan dunia glamour. Dunia malam yang penuh hura-hura. Di tengah suasana hotel yang melenakan. Aku tidak menyalahkan pandangan mereka. Karena jam kerjaku memang boleh dibilang seperti kalong. Siang istirahat, malam begadang. Sebuah kenyataan yang mengundang orang menganggap penyanyi bar mudah diajak apa saja. Tapi aku bukan wanita sembarangan.
Kerja malam, bagiku, bukan berarti aku harus larut dalam situasi. Aku tidak mau. Meski tidak sedikit laki-laki hidung belang, yang mencoba  mendekati. Bagiku, menyanyi adalah menyanyi. Dan tugasku hanya itu. Aku tidak mau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nurani. Honor yang kudapat sudah lebih dari cukup untuk bertahan hidup di Jakarta.
Setahun lamanya kujalani profesi itu, hingga akhirnya kelelahan fisik membuatkan mundur teratur. Aku terserang typhus. Otomatis, aku harus mengubah pola hidupku. Aku tidak lagi diperkenankan keluar malam.
Memang, selama menjadi penyanyi bar, keluargaku tidak ada yang tahu. Waktu itu, mereka hanya menganggap aku begadang dengan teman-teman di RT sebelah. Kebetulan di sana ada aula yang biasa menjadi tempat mangkal anak-anak muda. Di sanalah setiap malam, aku luangkan waktu bila tidak ada job, tiga kali seminggu.

“Dari mana sih, perempuan kok pulang malam-malam?” awalnya pertanyaan seperti itu sering kudengar dari kakak. Sampai akhirnya kakak bosan sendiri. Ia tidak lagi bertanya macam-macam. Karena ia sudah tahu kebiasaanku yang begadang setiap malam di aula belakang.
Di mata keluargaku, tidak ada yang berubah dalam diriku. Meski aku menjadi penyanyi bar. Karena itulah mereka juga tidak curiga. Terlebih bila, saat keluar dari rumah, aku selalu mengenakan pakaian biasa. Sementara kostum panggung sudah kutitipkan di rumah teman sesama penyanyi.
Aku juga tidak suka hidup berfoya-foya. Honor menyanyi lebih banyak yang kutabung serta membeli kostum. Karena pada dasarnya, aku memang suka membeli pakaian.

Aku berjaya dengan jimat penglaris

Tahun 94, aku come back. Layaknya seorang atlit yang telah menyatakan pensiun. Aku kembali terjun ke dunia tarik suara. Kali ini, aku bergabung dengan band Della (nama samaran) membangun masa depan baru. Rasanya, menyanyi sudah menjadi duniaku. Hati menjadi plong, kesal pun hilang bila sedang menyanyi. Aku sangat menikmati dunia nyanyi.
Di sinilah,  aku menjalin kisah kasih asmara dengan salah satu anggota band. Reidi, namanya. Ia pemain drum. ‘Witing trisno jalaran soko kulino’, kata pepatah Jawa. Lantaran intensitas pertemuan yang tinggi, Reidi menyatakan kesukaannya kepadaku. Kusambut uluran tangan itu dengan hati senang. Hatiku seakan terbang. Reidi adalah sosok pemuda yang baik dan bertanggung jawab.
Rumah Reidi yang luas pun dijadikan based camp. Di sanalah, kami mengadakan latihan atau sekadar kumpul-kumpul. Di sana pula, aku berkenalan dengan pamannya Reidi. Kami biasa memanggilnya Om Rio. Ia orangnya enak diajak bicara. Mulanya, aku dan Om Rio ngobrol masalah nyanyi. Tapi lama kelamaan, ia bertanya tentang keluargaku. Kukatakan saja, bahwa kedua orangtuaku berasal dari keturunan orang-orang sakti. Meski kini, kesaktian mereka tidak lagi terwariskan pada generasiku.
Om Rio pun menebak. “Eh, sepertinya kamu sering melihat penampakan jin juga ya?” katanya setengah bertanya. “Tidak sering Om. Tapi beberapa kali pernah sih,” kataku.
Suatu malam, menjelang Maghrib, aku berdiri di pintu rumah Reidi. Aku tertegun melihat dua pohon kecapi di halaman rumah yang berdiri sejajar. Tingginya pun seimbang. Kedua kecapi itu seakan menjadi pintu gerbang di rumah ini. Saat itulah aku merasakan pundakku ditepuk.
“Kamu jangan bengong. Kalau kamu melamun, nanti dikerjain sama yang di pohon kecapi itu.” Aku menoleh ke belakang, kulihat kakek-kakek berpakain putih. Aku tidak terkejut dengan penampakan yang tiba-tiba seperti itu, karena beberapa kali aku telah melihatnya.
Ketika aku melihat ke arah yang ditunjuk kakek itu, nampak kakek-kakek yang berpakaian hitam-hitam. Ala Betawi tempo dulu. Ia berdiri di antara dua pohon kecapi. Aku kembali termangu.
Sejak berkenalan dengan Om Rio, hubunganku dengan Reidi mulai memanas. Sedikit ada masalah, kami langsung beradu mulut. Yang kemudian diakhiri dengan kejadian aneh. Aku kesurupan jin. Bila sudah demikian, maka yang menyadarkan kembali selalu Om Rio. Orang pintar yang mencoba mengobatiku, rata-rata terpental. Aku tetap kesurupan kalau belum disadarkan Om Rio.
Suatu ketika, aku pernah kesurupan hingga sepuluh jam. Dari Maghrib sampai Shubuh. Yang kutahu, aku merasakan tangan tinggi besar menarik kepalaku. Ia menjambak rambutku hingga aku terjengkang ke lantai. Darah pun mengucur dari kepala. Setelah itu aku tak ingat lagi.
Jam enam  pagi, aku baru diantar ke rumah, dengan luka di kepala dan goresan seperti luka terbakar di wajah. Bapak marah marah, melihat kondisiku. Karena tidak diberitahu sejak awal, bapak mengancam akan menuntut bila terjadi sesuatu yang buruk pada diriku.
Menurut cerita Reidi, saat kesurupan itu aku meronta-ronta. Enam orang yang memegangiku terpental dengan mudahnya. Sedangkan, luka bakar di wajah itu bermula, saat Om Rio berusaha menyadarkanku. Ia menggunakan nyala korek api untuk menakut-nakuti jin. “Kamu akan saya bakar, kalau tidak mau keluar,” kata Reidi menirukan ancaman Om Rio. Om Rio menyalakan api untuk  menakut-nakuti syetan, tapi tanpa diduga, aku justru merangsek ke arah api hingga wajahku mengalami luka bakar.
Hubunganku dengan Reidi yang telah berjalan lima tahun, akhirnya putus, setelah aku melihat ada orang ketiga di antara kami. Ada gadis lain yang naksir berat. Akhirnya aku mengalah. Aku putuskan untuk mengakhiri kisah cinta itu.
Sejak kehadiran gadis itu, aku sering sakit perut. Perutku membesar seperti hamil tujuh bulan. Aku merasakan seperti ada batu yang berjalan-jalan di dalam perut. Batu yang menggoreskan rasa perih di dalam.
Dokter yang menanganiku kebingungan. Hanya dipegang sedikit, aku sudah merasakan sakit yang luar biasa. Akhirnya aku dibawa ke dokter kandungan. Aku menjalani tes USG (Ultra Sonografi) untuk mengetahui benda apa yang bergerak-gerak di dalam perutku. Tapi anehnya, benda itu tidak terdeteksi. Ganjalan dalam perut itu hanya bisa dirasakan, tapi tidak bisa dilihat.
Karena keanehan demi keanehan itu, aku dibawa berobat ke orang pintar. Seorang dukun ternama di Jawa Tengah. Bu Tini namanya. Puluhan jarum dikeluarkan dari tubuhku. Tak lama kemudian perutku kempes.
Menurut Bu Tini, yang mengerjaiku itu adalah pacarnya Reidi. Tapi aku tidak begitu mempedulikannya. Toh aku sudah tidak lagi berpacaran dengan Reidi. Hubunganku hanya sebatas pertemanan sesama anggota band. Tidak lebih.
Sebulan kemudian, perutku membesar lagi. Aku kembali mendatangi Bu Tini. Kali ini, aku diberi kertas bertuliskan Arab gundul yang tak bisa kubaca. Kertas itu dibakar, kemudian dimasukkan ke dalam telur mentah yang telah dilubangi. Selanjutnya telur beserta abu itu harus kutelan. Itulah tanda akhir ritual pengobatan Bu Tini.
Selain mengobati sakit perut Bu Tini juga membekaliku jimat penglaris. Aku diberi cincin dan minyak wangi. Cincin itu dikenakan setiap kali manggung, sedangkan minyak wangi itu dioleskan di antara dua alis bila aku bepergian atau manggung. Katanya, suaraku akan bagus dan orang yang melihatku menjadi senang.
Dari penuturan kakak yang menemaniku, Bu Tini juga memberiku ajian penglaris melalui minuman. “Bu itu lho adiknya, nanti biar bagaimana pun kondisinya dia tetap yang paling menarik. Saya sudah pasang. Pokoknya saya sudah kasih dia minum, supaya suaranya tetap aman. Semua orang tetap tertarik sama dia. Biarpun ada penyanyi yang bagaimanapun dia yang paling menarik,” kata Bu Tini.
Apa yang disampaikan Bu Tini itu memang tidak kudengar langsung. Aku hanya mengetahuinya setelah kakak cerita. Tapi kuakui, setelah mengikuti semua saran Bu Tini, penampilanku jadi kian menarik. Orang-orang pada histeris. Bahkan kakak pernah melihat sendiri, ketika aku manggung di sebuah resepsi pernikahan. Bapak-bapak yang sedang asik menikmati hidangan makanan, spontan menaruh piring dan memperhatikanku. Ia acuh saja dengan penyanyi yang melantunkan lagu sebelumku.
Aku tidak tahu mengapa orang-orang seperti tersihir. Mereka terbengong-bengong. Padahal aku berpakaian tertutup. Pakai celana jeans, dan baju lengan panjang. Goyanganku pun biasa saja. Atau bahkan terkesan tidak berjoged. Tapi mengapa mereka begitu histeris?
Tahun 2003, aku bahkan dikejar-kejar penggemar di atas panggung. Kejadiannya begini, waktu itu ada seorang pengusaha yang mengadakan pesta akhir tahun. Johan namanya. Ia untung besar. Dan ingin merayakannya bersama warga.
Kebetulan di depan rumahnya itu ada lapangan. Di sanalah, didirikan panggung. Ada empat penyanyi yang diundang malam itu. Susi, yang masih teman dekatku, Tri, dan Elis.
Susi, Tri dan Elis, terkenal dengan joged maut mereka serta kostum yang menantang. Sementara aku tidak merubah gayaku. Aku tetap seperti yang lalu. Pakai jeans dan baju lengan panjang.
Kubiarkan mereka bertiga naik ke panggung terlebih dahulu. Saat itu penonton masih biasa saja. Mereka tidak histeris meski digoncang dengan aneka goyang maut. Suasana pun masih terkendali.
Suasana langsung berubah begitu tiba giliranku. Baru satu bait, nada lagu terucap, pengacara itu langsung berteriak. "Eh, siapa itu yang nyanyi?" tanyanya. Sebelum kudengar ada yang menjawab, Johan langsung naik panggung. "Ayo naik. Ayo naik," Johan mengajak teman-temannya berjoged di atas panggung.
Puluhan orang meloncat ke atas panggung. Mereka terus bergoyang sampai satu lagu selesai. Kulanjutkan dengan lagu kedua, yang di lapangan juga semakin semangat. Mereka berteriak histeris. Aku pun tetap tenang. Setelah tiga lagu, aku minta izin turun. Aku ingin penyanyi lain naik ke atas panggung. Karena sedari awal, masing-masing penyanyi mendapat jatah tiga lagu.
"Ayo terus. Teruskan nyanyinya," kata Johan sambil memberikan beberapa lembar uang ratusan. Bila uang yang biasa disebut dengan saweran itu masih diberikan, maka penyanyi dangdut itu tidak boleh turun. Ia harus tetap menyanyi di panggung.
Saat itu, aku sudah mulai terdesak oleh penonton yang makin memenuhi panggung. Aku pun bergeser ke belakang. Aku berharap ada di antara penyanyi lain yang naik panggung. Setidaknya mereka menemani penonton berjoged sehingga aku bisa fokus menyanyi. Tapi yang kulihat, mata Johan tidak melepaskanku sedetik pun. Ia terus menatapku. Beberapa temannya juga bersikap serupa. Sampai ada yang sempat bertanya dimana rumahku.   
Sudah lima lagu, kunyanyikan tapi saweran masih terus dikasih. "Sudah Bang, gentian sama yang lain," kataku. "Nggak bisa. Kamu saja yang nyanyi," kata Johan dengan lantang.
Aku pun tidak punya pilihan. Kulanjutkan lagu demi lagu. Tak terasa sepuluh lagu sudah kulantunkan. Secara fisik, aku sudah mulai lelah. Aku juga tidak dengan teman-teman. Mereka seharusnya juga mendapatkan kesempatan yang sama sepertiku.
Aku mulai bingung. Orang-orang yang berjoged di atas panggung itu terus merangsekku. Sampai ada yang kupukul dengan mike, tapi dia tidak jera. Terakhir, kukatakan kepada Johan. "Bang, maaf deh bang, aku sudah capek. Ada penyanyi lain. Gantian deh," kataku.
Belum sempat Johan menjawab perkataanku, kukatakan kepada pemain musik, agar menghentikan musiknya. Mereka pun menuruti keinginanku. Musik terhenti. Aku hendak turun. Tapi Johan tetap memaksaku. "Kamu tetap menyanyi. Saya masih punya uang. Saya masih banyak duit," katanya sambil mengeluarkan segebok uang ratusan ribu. "Selagi saya masih bisa bayar kamu, kamu harus tetap nyanyi," paksanya lagi.
Dengan halus, aku menolak permintaannya. "Yang lain saja Bang," kataku pelan. "Nggak, kamu saja yang nyanyi. Mau berapa?" tanyanya. Sambil menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Mainkan musik lagi!" katanya sambil memasukkan lembaran uang itu ke balik kaosku. Caranya memberikan uang, kulihat tidak pantas. Maka dengan reflek kugerakkan tanganku untuk menampiknya.
Teman-temanku yang berada di bawah, merasakan apa yang kualami. Mereka tidak terima, bila aku dilecehkan begitu. Akhirnya mereka naik panggung. Mereka mengingatkan Johan agar sopan sedikit. Johan tidak terima. "Saya bayar. Yang lain tidak nyanyi, tidak apa-apa. Yang penting dia yang nyanyi," katanya dengan nada keras.
Pentas dangdut malam itu pun berakhir rusuh. Johan tetap bersikukuh dengan pendiriannya, sementara aku sendiri sudah kecapekan secara fisik. Secara mental aku merasa dilecehkan. Akhirnya aku turun panggung dan meninggalkan pentas malam itu bersama teman-teman. Setidaknya, aku dapat tiga jutaan dari uang saweran.
Dendam sesama penyanyi.
Pentas malam itu meninggalkan luka yang dalam di hati tiga penyanya lainnya. Mereka  merasa terhina karena keberadaannya tidak dihiraukan. Padahal secara kostum atau pun goyangan dangdut, aku tidak apa-apanya dibandingkan mereka. Sementara uang yang mereka dapatkan tidak banyak. Sekitar tiga ratusan ribu, sementara aku sendiri mendapat tiga juta dari saweran. Itu diluar honor.
Susi pun mulai memasang sikap bermusuhan denganku di atas panggung. Setiap kali melihat penonton lebih senang dengan penampilanku, ia memasang raut muka yang tidak senang. Jogednya pun langsung menjadi-jadi. Kalau saya membeli kostum panggung yang baru, ia pun membeli kostum yang lebih baik dariku. Ia ingin nampak lebih baik dariku dalam segala hal. Meski kenyataan di atas panggung tidaklah demikian. Ia tetap kalah denganku.
Tapi sejak keributan di pentas malam itu, setiap habis naik panggung, badanku selalu lemas. Aku seperti kehabisan tenaga. Di lain waktu, kepalaku juga terasa sakit. Sakit sekali. Sampai aku tidak bisa menyanyi. Tapi anehnya, setiap ada pentas dan tiba giliran menyanyi, tiba-tiba saja aku merasakan badanku sehat. Tangan yang gemetaran tidak lagi terasa. Sakit kepala pun hilang seketika. Tapi keesokan harinya, aku kembali terkapar.
Di dalam diriku, seperti ada dua kekuatan yang saling tarik ulur. Satu kekuatan menghalangiku naik panggung, kekuatan lainnya mendorongku naik pentas. Tapi selama ini, pertarungan di atas panggung itu selalu dimenangkan jin kiriman Bu Tini.
Sebenarnya, keindahan suaraku itu menarik perhatian sebuah studio rekaman. Beberapa kali ditawari rekaman. Yang terakhir, aku bahkan sudah menyelesaikan proses rekaman. Tinggal membuat video klip. Tapi akhirnya rekaman itu hanya tinggal kenangan. Karena produser rekaman itu meminta sesuatu yang tidak dapat kupenuhi. Ia ingin menjadikanku sebagai istri kedua, bila kasetku ingin dikeluarkan.
"Kaset kamu mau dikeluarkan, nggak? Kalau mau dikeluarkan, kamu harus jadi istri saya," katanya membuat persyaratan. Aku tidak mau memenuhi keinginannya. Bagiku lebih baik, kaset rekaman itu tidak diedarkan ke pasar, daripada aku harus melawan hati nuraniku. Aku tidak mau menyakiti istri dan anak-anaknya. Karena selama ini hubunganku baik dengan mereka.
Karena sering sakit-sakitan itu, aku berobat ke dokter. Aneh, dokter yang kudatangi menyarankanku berobat ke pengobatan alternatif. Secara medis, penyakitku itu sulit disembuhkan. Karena memang bukan penyakit biasa, katanya.
Kupenuhi saran dokter tersebut. Aku datang ke orang pintar. Dari punggungku dikeluarkan puluhan jarum. Tapi sepulang dari pengobatan itu, badanku justru semakin lemah. Belikatku seperti ditusuk-tusuk duri. Sakit dan perih rasanya.
Aku mencari dukun lain yang lebih sakti dengan ditemani ibu dan kakak. Kali ini, aku disuruh mandi kembang dengan mengenakan daster. Ibu disuruh memasukkan bunga ke dalam baskom lalu menyiramkannya ke badanku setelah terlebih dahulu dibacakan mantra-mantra oleh dukun.
Sebelum airnya habis dukun tersebut meminta ibu memasukkan perasan jeruk purut ke dalam air. Jeruk perut itu ibu yang membelinya. Ibu juga yang membelahnya. Lalu aku pun kembali mendapat guyuran air kembang bercampur jeruk perut sampai habis.
Selesai mandi, dukun itu meminta ibu mengganti daster yang kukenakan. Saat daster itu dibuka, betapa terkejutnya ibu kala melihat ada daun pisang kering seperti diseterika yang menempel di punggungku. Daun pisang itu lengket di kulit. Karena itulah dari punggungku keluar darah, ketika ibu menarik paksa daun pisang tersebut. Aku hanya bisa meringis. Tapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin kubiarkan daun pisang kering itu menempel selamanya di punggung.
Ketika dibuka, dari daun pisang itu dikeluarkan bungkusan putih kecil yang sudah keabu-abuan. Di dalamnya ada tulang-tulang kecil, jarum, paku, kerikil dan pecahan beling. Ada juga rambut.
Sepulang dari dukun tersebut, penyakitku sedikit berkurang. Berganti dengan mimpi-mimpi yang menyeramkan. Tapi tetap saja, aku masih selalu sakit-sakitan. Dan sembuh saat naik panggung. Kejadian seperti itu selalu terulang, hingga aku dipertemukan dengan Majalah Ghaib.
Waktu itu, kakakku yang tinggal di Bekasi membaca Majalah Ghaib. Dan kami pun tertarik mengikuti terapi ruqyah. kebetulan di Bekasi ada cabang GhoibRuqyah Syar'iyah di daerah Pondok Gedhe.
Aku lebih memilih mengikuti terapi ruqyah di kantor cabang Bekasi, karena lebih dekat dengan rumah kakakku. Aku bisa menginap di rumah kakak untuk sementara waktu, sambil terus menjalani terapi pengobatan.
Perjuangan mengikuti terapi ruqyah ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Ada saja halangan yang menghambat kedatanganku ke kantor cabang Bekasi. Hingga suatu hari, kupaksakan ke sana dengan ditemani kakak.
Sewaktu tiba di pintu gerbang, aku sudah ketakutan. Aku ingin pulang. Mukaku pucat. Tanganku bergoyang-goyang terus tanpa dapat kucegah. Saat diterapi Ustadz Munif itulah keluar pengakuan jin yang katanya dikirim Bu Yeti untuk membantuku menyanyi. Jin itu yang membuat suaraku bagus. Dan dia tidak mau keluar. Dengan sabar Ustadz Munif meruqyah dan memaksa jin itu keluar.
Kini sudah lima kali, aku menjalani terapi ruqyah. Alhamdulillah, gangguan kesehatan itu berangsur berkurang. Sakit kepala tidak lagi sesakit dulu, gatal-gatalpun berkurang drastis.
Hanya saja, setiap terapi ruqyah jin penglaris itu masih tetap bercokol. Akhirnya Ustadz Munif menasehatiku agar berhenti menyanyi. Di awal memang terasa berat. Tapi aku harus kuatkan niat untuk menolak permintaan manggung yang masih terus mengalir. Dengan itu aku berharap menemukan kembali ketenangan hidup. Karena selama ini, aku mudah marah ketika berhadapan dengan orangtua. Aku juga tidak betah berada di rumah.
http://ruqyahmajalahghoib.blogspot.com/