Saturday, June 25, 2016

Hebatnya Karakter Pemimpin yang Dekat dengan Al-Quran

Ahad, 21 Ramadhan 1437 H - 26 Juni 2016



Abu Qubail pernah menceritakan tentang kisah pergulatan jiwa Umar bin Abdul Aziz kecil dengan hafalan al-Qur’annya. Suatu saat Umar bin Abdul Aziz menangis. 

Waktu itu ia masih kecil. Hal itupun sampai ke telinga sang ibunya. Lalu sang ibu mengirim seseorang untuk menemui Umar bin Abdul Aziz dan menanyakan apa yang menyebabkannya menangis.

“Apa yang membuatmu menangis, nak?” tanya utusan itu kepada Umar bin Abdul Aziz.

“Aku ingat kematian,”jawab Umar kecil dengan sangat polos. Pada saat itu ia telah hafal al-Qur’an.
Seketika sang ibu menangis saat perihal itu disampaikan kepadanya. 

Kita akan keluar sejenak dari alur pembicaraan kita, tapi masih tetap pada satu muara yang sama.
Hafal al-Qur’an adalah salah satu kunci kebesaran Islam di masa lampau. Ungkapan ini memang terdengar tabu. Namun sejarah membuktikan itu. 

Hafal al-Qur’an sejak kecil adalah tradisi orang-orang dahulu. Mereka biasa menyuruh anak-anak mereka untuk menghafal al-Qur’an dahulu sebelum pada akhirnya mengarahkannya pada bidang-bidang tertentu sesuai dengan kecenderungannya.

Ibnu Sina telah hafal al-Qur’an sejak usia 5 tahun. Ketika dewasa ia menjadi seorang filosof dan juga ilmuan di bidang kedokteran. Jadinya adalah seorang pakar kedokteran yang hafal al-Qur’an.

Imam Syafi’i juga seperti itu, hafal al-Qur’an saat usia belia, tujuh tahun. Ketika dewasa ia menjadi ulama’ besar dalam ilmu fiqih dan juga ahli bahasa. Jadinya adalah ulama’ yang hafal al-Qur’an.

Orang-orang seperti itu banyak kita dapati di era dulu. Ibnu Sina dan Imam Syafi’i adalah contoh kecilnya saja. Demikian halnya Umar bin Abdul Aziz yang juga hafal al-Qur’an saat masih kecil.

Memang tidak terlalu jelas usia berapa dia hafal, karena riwayat hanya mengatakan bahwa dirinya hafal al-Qur’an saat masih kecil. Tapi kata masih kecil ini mengandung makna bahwa dia belum masuk usia baligh ketika itu.

Hal inilah yang menimbulkan kesan ajaib pada diri seorang Umar. Sehingga ketika pada saatnya nanti dia menjadi seorang pemimpin, maka dia adalah pemimpin yang hafal al-Qur’an. Ini yang langka terjadi hari ini.

Mengapa harus al-Qur’an? Ini adalah sebuah pertanyaan yang unik untuk dijawab.

Urusan ilmu psikologi jiwa manusia, maka al-Qur’an telah menjelaskannya dengan sangat gamblang. Kaitannya antara Umar bin Abdul Aziz dengan al-Qur’an berarti kita akan bicara sepintas tentang psikologi kepemimpinan.

Seorang pemimpin yang memiliki kedekatan dengan al-Qur’an setidaknya akan memiliki dua karakter sebagai berikut :

Pertama, ia akan mudah diingatkan ke jalan yang benar saat menyimpang. 

Ibarat magnet yang memiliki daya tarik terhadap benda-benda di sekelilingnya, maka al-Quran pun juga begitu, memberikan efek kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. 

Semakin dekat dan akrab seseorang dengan al-Qur’an maka daya tarik al-Qur’an terhadap orang tersebut juga akan semakin kuat. Demikian halnya sebaliknya.

Itu berarti bahwa orang yang akrab dengan al-Qur’an itu akan mudah kembali pada al-Qur’an ketika ia mulai menyimpang dari kebenaran. Hal inilah yang ditegaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya:

“Maka berilah peringatan dengan al-Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku.” (QS. Qaaf: 45).

Kedua, ia akan memiliki orientasi yang terarah. 

Maksudnya adalah, dengan menjadikan al-Qur’an sebagai pijakan di setiap langkah kepemimpinan, maka al-Qur’an akan memberikan bimbingan dan arahan jiwa. Sehingga ia tetap bisa melihat di saat gelap.

 Ia tetap berdiri kokoh di saat yang lain tumbang. Ia akan terus melangkah di saat yang lain berhenti. Hal itu karena kejelasan dan keterarahan orientasi yang hendak dituju. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman:

“(Mereka) yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. az-Zumar: 18).

Maksudnya adalah mereka yang mendengarkan ajaran-ajaran al-Quran dan ajaran-ajaran yang lain, tetapi yang diikutinya adalah ajaran-ajaran al-Quran karena ia adalah yang paling baik.

Referensi: Umar bin Abdul Aziz 29 Bulan Mengubah Dunia/Karya: Herfi Ghulam Faizi, Lc/Penerbit: Cahaya Siroh

Sumber: Islampos

Thursday, June 23, 2016

Pesona Imam Al Qurthubi

Jum'at, 19 Ramadhan 1437 H - 24 Juni 2016


 Saat usianya sudah sepuh, Imam Qurthubi (asal dari Cordoba Spanyol), berjalan bersama orang-orang muda.
 
Di suatu tempat, mereka menemukan sebuah PARIT yang cukup lebar. Lalu Imam Qurthubi mengambil ancang-ancang untuk melompati parit.

Subhanallah, beliau bisa melompatinya, padahal sudah kakek-kakek. Sedang orang-orang muda yang bersamanya tidak ada yang bisa melompati.

Ketika ditanya, mengapa sang Imam bisa melompati parit lebar?

Beliau menjawab: "Saat muda saya menjaga diri dari perkara-perkara haram. Saat tua, Allah menjaga tubuhku dari kelemahan."

Ya begitulah... Wallahu Muwaffiq ilal khairaat.

Sam Waskito

Wednesday, June 22, 2016

5 Cara Lembutkan Hati

Kamis, 18 Ramadhan 1437 - 23 Juni 2016 


 Tatkala badan merasa enggan untuk beramal, tatkala hati mulai sulit untuk terenyuh, mungkin itu salah satu tanda kerasnya hati, dengan kata lain hati ini sedang sakit. 

Lantas apa yang akan dilakukan ketika tahu bahwa hati ini sedang sakit? Orang yang sakit pasti akan mencari obat, sebagaimana orang sakit akan pergi ke dokter. Berikut ini penulis berikan obat agar hati menjadi lembut kembali.

1. Perbanyak Baca Al-Quran dengan Mentadabburinya

Di antara sebab lembutnya hati adalah dengan membaca Al Qur’an. Al Qur’an adalah kalamullah, perkataan Allah, Rabb pencipta langit dan bumi, bukan perkataan makhluk. 

Selain dapat menenangkan hati, membaca Al Qur’an akan diganjar banyak pahala. Bayangkan saja, 1 huruf dari Al Qur’an diganjar 1 pahala, dan 1 pahala akan dibalas dengan 10 kebaikan. Namun syarat untuk menenangkan hati tidaklah hanya sekedar membaca, tapi di-tadabburi, direnungkan maknanya sehingga dapat diamalkan.

2. Perbanyak Dzikir Mengingat Allah

Tidak diragukan lagi, berdzikir dapat melembutkan hati. Karena dengan mengingat Allah, maka hati pun menjadi tenang. Sebagaimana Allah Firmankan dalam surah Ar-Ra’d ayat 28 yang artinya, “Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang.”

Dzikir adalah suatu amalan yang mudah, cukup menggerakkan lisan dan bibir saja. Sehingga tidak bisa dijadikan alasan untuk enggan berdzikir.

3. Berteman Dengan Kawan yang Baik Agamanya

Jika seseorang memiliki teman yang baik agamanya, maka ia akan mendapatkan kebaikan yang banyak pula. 

Seperti yang Nabi permisalkan dalam suatu hadits riwayat Al-Bukhari, dimana kawan yang baik dimisalkan sebagai penjual misk (minyak wangi). 

Boleh jadi ia diberi minyak wangi tersebut, boleh jadi ia membelinya, atau minimal mendapakan bau yang wangi dengan sebab berdekatan dengan penjual minyak wangi.

Maka, carilah kawan akrab yang baik agamanya, sehingga ketika sedang futur(malas, kondisi hati melemah), maka ada yang mengingatkan, menasehati dan kembali membawa kita ke dalam majelis ilmu. 

Jangan sampai ketika kondisi hati melemah, kita malah menjauhi kawan-kawan yang semangat dalam kebaikan.

4. Menyayangi Anak Kecil

Menyayangi anak kecil dapat melembutkan hati, terutama anak kecil yatim (bapaknya sudah meninggal). Sebagai contoh, kita bisa mengajar anak-anak kecil di TPA, atau bisa berkunjung ke panti asuhan untuk bercengkrama dan mengajarkan mereka hal yang baik.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah Bersabda (yang artinya), “Sayangilah semua yang ada di bumi, niscaya Dzat yang ada di langit akan menyayangi kalian.” (HR. At-Tirmidzi no. 1924 dan HR. Abu Dawud no. 4941).

Hadits di atas memerintahkan kita untuk menyayangi semua yang ada di bumi, termasuk semua hewan dan tumbuhan. 

Misalnya, tidak memberikan beban yang berat pada onta jika kita menaikinya, atau tidak melakukan penebangan liar yang dapat merusak lingkungan sekitar.

Hadits tersebut juga sebagai dalil bahwa Allah berada di atas sana, di atas langit, bukan berada dimana mana seperti anggapan sebagian orang.

5. Berdoa Kepada Allah

Doa adalah senjata seorang Mukmin, jangan sampai seorang Mukmin melupakan bahwa urusannya tergantung kehendak Allah Ta’ala. 

Banyak-banyaklah berdoa kepada Allah agar dimudahkan dalam ketaatan dan diberikan kelembutan hati, dan dijauhkan dari rasa malas yang terus menerus sehingga hati menjadi mati. 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mengajarkan kita sebuah doa agar berlindung dari rasa malas. Berikut adalah doanya:

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian ” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah 5 kiat-kiat dalam melembutkan hati, semoga kita senantiasa diberikan kemudahan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, dan dijauhkan dari hati yang keras lagi mati. Wallahul Muwaffiq.

sumber: muslim.or.id

Tuesday, June 21, 2016

Siapa yang Berdosa : Jin atau Manusia ?

Rabu, 17 Ramadhan 1437 H - 22 Juni 2016



Beberapa waktu yang lalu, ada yang bertanya kepada saya. Pertanyaannya : Jika seorang yang diganggu oleh jin melakukan maksiat atau penyimpangan, siapakah yang berdosa ?

Menjawab pertanyaan ini harus dilihat dua aspek penting :

1. Tingkat keparahan gangguan (Syiddah al-Ishabah).
2. Batas usia terjadinya gangguan (Zaman al-Ishabah)

Pertama :
Ada orang yang terkena gangguan jin atau sihir tapi pengaruhnya tidak total. Artinya, dia masih mampu menjalani kehidupannya secara normal. Meskipun kadang-kadang terjadi hal-hal yang mengganggu aktivitasnya tapi masih dapat diatasi dengan pikiran normal.

Orang yang seperti ini masih dipandang sebagai normal dan tetap bertanggungjawab atas semua perkataan dan perbuatanya.

Jika ia sabar terhadap gangguan yang dialaminya, ia akan mendapat ganjaran pahala.Sementara jin yang mengganggunya akan dimintai pertanggunjawaban atas perbuatannya menzhalimi manusia.
 
Jika jin yang mengganggu telah menguasai jiwa dan jasad korbannya sehingga ia melakukan sesuatu diluar kesadaran dan keinginannya, maka orang seperti ini dihukumkan seperti orang gila sampai ia sadar dan normal kembali. Ia tidak berdosa atas perbuatannya yang menyimpang.

Kedua :
Jika korban jin atau sihir mengalami gangguannya sebelum sampai usia baligh, maka ia tidak dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.

Karena dianggap sebagai anak-anak yang diangkat (dihapus) catatan dosanya. Jika gangguan itu berlanjut sampai kepada usia baligh dan disertai pula dengan meningkatnya gangguan tersebut , maka hukumnya seperti yang PERTAMA.

Namun jika gangguannya ringan dan dia sadar melakukan sesuatu, maka dosa tetap dia tanggung sendiri. Wallahu a'lam.

Ustadz Musdar Bustamam Tambusai

Sunday, June 19, 2016

Ain Pada Seorang Ibu

Senin, 15 Ramadhan 1437 H - 20 Juni 2016



Digelapnya subuh terdengar suara bayi menangis pelan. "Assalamu'alaikum", suara bapak-bapak memberi salam depan pintu rumah.

"Wa'alaikumussalam, ada yang bisa saya bantu pak?"

"Saya mau nitip anak saya Bu, istri saya drop. Sekarang mau saya bawa ke RS, besar kemungkinan nanti bakalan diopname. Saudara jauh-jauh."

"Baik pak, ngga papa dede bayi disini aja, yang jadi masalah asupannya bagaimana? Si dede biasa pake ASI, kalau langsung ganti susu formula pasti nolak."

"Terserah ibu bagaimana baiknya, saya juga ngga ngerti."

"Bagaimana kalau saya jadikan anak susu. Bapak ijinkan?"

"Ya sudah silakan bu, tidak mengapa. Terima kasih bu."

****

Berdasarkan buku-buku yang pernah kubaca, bahwa produksi ASI sesuai yang dibutuhkan. Walhamdulillahacara menyusui 2 bayi lancar. Anakku yang usianya kurang lebih 6 bulan dan anak si bapak tadi yang seusia bayiku juga.

Suatu hari...datanglah tetangga main ke rumah. Dia takjub karena aku bisa menyusui 2 bayi.

"Waah, si ibu ini hebat ya, bisa nyusuin 2 bayi, ngga kurang ASI nya. Saya 1 bayi aja kurang bu."

Dengan entengnya kujawab, "Kita pede aja bunda."

(Maksud hati, klo kita pede ASI kita cukup, tentu ASI kita akan cukup juga)

Ngga lama, bunda pulang.

***

Berdiri di dapur, mau nyiapin Mp-ASI, tiba-tiba badan terasa lemas, tak kuat berdiri. Duduk lemas, kaki selonjor ke depan, kepala disandarkan di kulkas, serasa darahku berhenti mengalir. Kepala untuk sekedar menengok pun tak bisa. Hanya bisa memandang lurus ke depan.
 
Kupanggil suami yang alhamdulillah sedang ada di rumah. "Abang, tolong bikinin aku air madu dong, kok aku lemes banget."

Ku minum air madu. Tangan sudah tak kuat untuk memegang gelas. Lalu ku minum segelas air madu. Belum ada perubahan. Ku minum lagi segelas.

Ngga ada perubahan juga, dan semakin melemah. Ku kuatkan jiwaku. Ku baca al fatihah, al mu'awidzatain, ayat kursi. Ku resapi maknanya. Aku betul-betul minta perlindungan dari segala macam keburukan dan kejahatan.

Dan ternyata terus semakin melemah, sangat lemah. Yaa Hayyu Ya Qoyyuum...Ya Dzal Jalaali wal Ikrom...Ya Rohman Ya Rohiim....Ya Qowiyyu Ya Aziiz...terus aku berusaha meminta pertolongan kepada Allah dengan menyebut asmaNya yang husna.

Seakan yang berfungsi hanya tinggal akalku saja. jasadku sudah tak berdaya dan tak berkekuatan. Sekitar setengah jam-an terus berusaha membaca ayat-ayat Al Qur'an yg isinya tentang perlindungan dari segala keburukan.

"Abang, aku dah ngga kuat. Tolong bawa aku ke Rumah Sakit. Bayi titipin ke tetangga dulu." Tapi berpikir lagi, bagaimana bawanya. Untuk merubah posisipun aku dah ngga bisa. Mau pakai baju panjangpun sangat sulit. Kalaupun harus diangkat harus tetap dengan posisiku saat ini, duduk selonjor.

Ya Allah...berilah petunjukMu, pertolonganMu...

Terlintas....'AIN.

--- Bunda --- yaa...ucapan bunda tadi.

"Abang, tolong ambil segelas air minum, Abang pergi ke rumah bunda, bunda suruh minum ya.. tapi jangan dihabisin, sisain buat aku."

Abang kembali... dan bunda menyusul.

Langsung aku minum sisa bunda minum. Maa syaa Allah...serasa darahku mengalir lagi... Laa quwwata illa billaah.

Apakah aku terkena 'ain? Pikirku. Bismillah aku usaha dulu dengan penyembuhan terhadap 'ain dengan mengikuti petujuk Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam.

"Abang, tolong siapkan air dibaskom. Bunda,,,tolong wudhu yaa...pakai air yg dibaskom. Basuh muka, tangan, kepala dan kakinya di atas baskomnya yaa,,,bekas kumur-kumurnya pun buang di baskomnya aja."

Bunda selesai wudhu...

"Abang tolong siramkan ke kepalaku air bekas wudhu bunda."

Setelah itu...Maa syaa Allah...Laa quwwata illa billah...tenagaku bertambah pulih. Kucoba berdiri. Aku bisa.

Lalu kusiramkan sisa air wudhu tadi ke seluruh tubuhku.

Saat itu juga tenagaku pulih. Aku bisa berjalan. Bunda langsung memelukku..."maafin aku ya bu...aku ngga tau apa yg terjadi sama ibu, apakah semua ini karena salahku?"

"Ngga papa bunda, semua terjadi atas takdirNya. Bunda ingat ngga...tadi pagi bunda memuji saya....takjub saya bisa menyusui 2 bayi. Bunda tidak mengucapkan,

"MAA SYAA ALLAH, ibu bisa menyusui 2 bayi."

Atau

"BAAROKALLOH, ibu bisa menyusui 2 bayi."

Saya pun lupa,,,dengan entengnya kujawab,, pede aja bunda. Kita lupa seharusnya kembalikan semua pujian adalah milik Allah. Kekuatan saya menyusui 2 bayi pun karena Allah."

"Ooo,,,begitu. Saya ngga tau bu. Jadi..kalo kita memuji apalagi takjub kepada seseorang kemudian tidak mengucapkan baarokalloh atau maa syaa Allaah bahaya yaa..."

"Ya...bahaya. Karena bisa menyebabkan 'ain."

"Saya baru tahu bu..."

"Tapi pengaruh 'ainpun berbeda-beda. Akan tetapi semuanya terjadi atas takdirNya. Apakah bunda pernah memperhatikan, kalau ada anak kecil dipuji...." Waaahh, anaknya gendut yaa...." terkadang malamnya sakit. Panas atau diare atau apa aja."

"Iya ya betul bu....ooo..itu 'AIN namanya. Berarti kalau kita mau muji anak,,,kita bilang --- maa syaa Allah anak ibu gendut yaa...., anak itu ngga akan terkena 'ain. Begitu ya bu?"

"Betul bunda, Insya Allah ngga akan terkena 'ain. Karena kita mengembalikan kesehatan, kekuatan, dan semua kebaikan yang ada pada anak tsb kepada Allah."

"Kok cara ibu menyembuhkan 'ain dengan cara tadi?"

"Oo...iya ...karena 'ain pernah terjadi pada sahabat Nabi kita, dan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memberi petunjuk cara menyembuhkan 'ain seperti yang tadi kita lakukan."

"Ooo..gitu."

"Kalau mau baca-baca tentang 'ain bisa lihat di google, banyak kok. Kalau mau dengerin ceramahnya langsung ada Ustadz Muhammad Arifin Badri membahas dengan sangat detail."

"Ooo....gitu. Nanti saya cari bu di google."

Wasiyati Marhami